
Rumah Novi hari itu terasa berbeda.
Bukan hanya karena lebih ramai, tapi karena ada sesuatu yang halus dan lembut mengambang di udara—aroma bayi, wangi bedak yang samar, dan alunan musik pengantar tidur yang diputar pelan. Musik itu nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat langkah kakiku melambat, seolah tak ingin mengganggu ketenangan yang baru lahir.
Begitu pintu dibuka, Novi muncul.
Wajahnya berubah. Masih Novi yang cerewet, masih Novi yang matanya selalu penuh cerita, tapi kini ada lapisan baru di sana—kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Keibuan yang masih muda, masih canggung, tapi nyata.
“Kalian akhirnya datang! Oh my God, I thought you guys got lost,” serunya sambil menarik tanganku masuk tanpa memberi kesempatan menolak. “Cepat, cepat, before the baby wakes up again.”
Aku terkekeh kecil. Di tanganku ada tas besar berisi perlengkapan bayi—baju mungil, popok, dan beberapa benda kecil yang sejak membelinya membuatku sadar betapa rapuhnya kehidupan yang baru datang ke dunia. Sementara di belakangku, Riyu membawa gift box rapi berisi selimut lembut, botol susu, dan aksesoris bayi yang bahkan lebih kecil dari telapak tanganku.
Begitu masuk kamar, suasananya langsung berubah.
Rehan berdiri di dekat ranjang bayi, menggendong bayi perempuan mereka. Kecil sekali. Mungil. Kulitnya kemerahan, matanya terpejam, napasnya teratur dan pelan—seolah dunia di sekitarnya belum sepenuhnya ia sadari.
Dadaku menghangat tanpa alasan jelas.
Riyu mendekat, menyapa Rehan, mereka mengobrol pelan. Tentang begadang, tentang popok, tentang bagaimana rasanya panik hanya karena bayi bersin kecil. Aku memperhatikan dari samping, merasa seperti tamu di dunia yang baru saja terbentuk.
Lalu Rehan tersenyum dan berkata,
“Yuk coba gendong, Yu. Biar latihan.”
Aku menoleh cepat ke arah Riyu.
Riyu tertawa kecil, sedikit canggung. “Gue? Serius?”
“Serius. Santai aja. She’s not made of glass,” kata Rehan, meski tangannya sendiri masih siaga.
Tanpa banyak protes, Riyu menerima bayi itu dengan kedua tangan.
Dan saat itu juga—aku melihat sesuatu berubah.
Bahunya yang biasanya tegas melembut. Napasnya melambat. Wajahnya… benar-benar berbeda. Matanya menatap bayi itu seolah sedang memegang sesuatu yang sangat rapuh dan sangat berharga dalam waktu yang bersamaan.
“Ini… kecil banget ya,” katanya pelan, hampir berbisik. Takut suaranya mengganggu tidur bayi itu.
Novi langsung menutup mulutnya, menahan tawa.
“Aduh, Riyu cocok banget, sumpah. This is so unfair. Kayak iklan keluarga bahagia.”