
Hari yang sejak lama direncanakan itu akhirnya tiba.
Hari lamaran resmi.
Sejak pagi, rumah orang tuaku tidak benar-benar tenang. Ada suara langkah mondar-mandir, bunyi piring yang ditata ulang meski sudah rapi, dan nada suara mama yang sesekali meninggi—bukan karena marah, tapi karena gugup yang berusaha disamarkan. Aku sendiri duduk di kamar, menatap pantulan wajahku di cermin, mencoba mengenali ekspresi yang sedang kupakai: campuran antara bahagia, tegang, dan takut akan sesuatu yang tak bisa kusebutkan.
Menjelang sore, mobil-mobil mulai berhenti di depan rumah.
Riyu datang bersama keluarga besarnya. Ada wajah-wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya—kerabat jauh, sepupu, mungkin paman atau bibi yang hanya kukenal lewat cerita. Mereka turun satu per satu dengan sikap sopan yang nyaris seragam, membawa kotak-kotak hantaran yang dibungkus rapi, seolah setiap langkah mereka sudah dilatih agar tidak terdengar terlalu gaduh.
Ruang tamu rumah orang tuaku terasa berbeda sore itu.
Lebih hangat. Lebih lembut.
Dekorasi sederhana yang tampak rapi dengan cara yang khidmat—kursi disusun lebih teratur, bunga-bunga segar bersanding manis dengan jamuan yang mama pesan dari katering langganannya, menciptakan pemandangan yang menawan di atas meja. Tidak ada kemewahan berlebihan, namun justru kesederhanaan itulah yang membuat segalanya terasa jujur dan sakral.
Sudut ruangan sudah penuh oleh berbagai jenis hantaran. Kotak-kotak berwarna lembut tersusun rapi di atas meja panjang, sebagian diletakkan di lantai dengan alas kain.
Papa duduk di kursi utamanya, punggung tegap seperti biasa. Dari luar, ia tampak tenang. Namun aku tahu tanda-tandanya. Jemarinya mengetuk pelan paha celananya, berulang dan teratur—kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia gugup.
Di sisi lain, ada om, tante, dan beberapa sepupu yang sudah datang sejak siang. Mereka duduk rapi, sesekali bertukar pandang, sesekali tersenyum kecil ketika mata kami bertemu.
Aku duduk di samping mama, mengenakan kebaya warna dove dengan renda sederhana dan rok lilit batik yang jatuh rapi.
Tak jauh dariku, Riyu duduk dengan tenang. Ia tampak rapi sore itu, memakai kemeja batik dengan warna dan corak yang senada denganku. Rambutnya ditata lebih serius dari biasanya. Tangannya bertumpu di lutut, sesekali mengepal lalu mengendur, tanda bahwa ia pun sedang menahan banyak hal di dalam dada.
Di hadapan kami duduk ayah dan ibu Riyu. Wajah mereka menyimpan ketegangan yang berbeda—bukan gelisah, melainkan perasaan yang terlalu penuh untuk diungkapkan dengan mudah.
Setelah sapaan-sapaan ringan dan basa-basi yang wajar, ruangan kembali hening. Hening yang tidak canggung, tapi sarat makna.
Ayah Riyu akhirnya membuka suara.