
Sejak hari lamaran resmi, hidup terasa seperti bergerak lebih cepat—tapi juga lebih hangat. Aku dan Riyu mulai mempersiapkan pernikahan di sela-sela pekerjaan, mencuri waktu di antara tumpukan berkas, rapat, dan malam yang sering kami habiskan di rumahku.
Di kantor, kami tetap profesional. Tapi begitu waktu istirahat tiba, kami duduk berdua di pantry, laptop terbuka di antara botol minum dan sisa makanan.
“Pilihan venue yang ini bagus, Re,” kata Riyu sambil memutar layar laptop.
Aku mencondongkan tubuh, melihat dekorasi putih dan hijau yang elegan.
“Kayaknya ini terlalu mahal,” jawabku.
Riyu menatapku sebentar, tersenyum, “Yang penting kamu suka.”
“Yang penting realistis,” sahutku ketus manja.
Riyu tertawa pelan dan mengacak lembut rambutku sebelum kembali mengetik.
Di sela-sela kerja, Riyu mengirim pesan pendek:
Jangan stres ya. Harus tetap bahagia.
---
Di rumahku, malam harinya, suasana jauh lebih santai. Kami duduk saling bersandar di sofa, kakiku ditumpangkan di pangkuannya sementara Riyu memegang tablet, mengecek list persiapan.
“Undangan mau yang tema floral atau minimalis?” tanyanya.
Aku berpikir sambil memakan keripik. “Minimalis. Biar elegan.”
“Tapi kartunya yang floral cantik juga,” katanya sambil mendekatkan layar.
Aku mengangkat sebelah alis. “Kamu mau nikah sama undangan atau sama aku?”
Riyu terdiam, menatapku lama, lalu tersenyum penuh arti.
“Sama kamu. Tapi undangannya ikut bahagia juga.”
Aku memukul pelan lengannya sambil tertawa.
---
Suatu malam, kami memilih lagu-lagu pernikahan. Riyu duduk di lantai bersandar ke sofa sementara aku duduk di belakangnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.