Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #52

Sah


Pagi itu langit terlihat seperti ikut merestui—cerah, lembut, tanpa awan yang mengganggu. Seolah alam pun tahu, hari ini bukan hari biasa.

Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar, hanya keluarga terdekat, sahabat, dan beberapa teman kantor yang hadir. Tidak ada kemewahan berlebihan. Tidak ada hiruk-pikuk. Hanya suasana hangat, intim, dan penuh harap.

Aku duduk di samping Mama. Jemariku dingin meski ruangan tidak ber-AC. Jantungku berdetak terlalu cepat, seakan berusaha mengejar waktu yang terasa berjalan begitu lambat.

Di depanku, Riyu duduk bersila.

Wajahnya jauh lebih tegang daripada ketika memimpin rapat besar di kantor. Tangannya sempat meremas ujung kain sarungnya sebelum matanya menemukan mataku.

Tatapan itu hanya sebentar.

Tapi aku mengerti.

Aku siap, Re.

Novi dan suaminya duduk tidak jauh di belakangku. Bayi kecil mereka tertidur dalam gendongan. Novi menatapku sambil tersenyum lebar, meski matanya berkaca-kaca.

Lalu penghulu mulai memimpin.

Suara Papa bergetar ketika mengucapkan ijab.

“Aku nikahkan putriku, Rea Fiona, dengan engkau, Riyu Junanda, dengan mas kawin sebentuk cincin emas dan Al-Qur’an…”

Ruangan mendadak begitu hening.

Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Riyu menarik napas panjang.

Lalu suaranya terdengar mantap, meski getaran kecil masih tersisa di sana.

“Saya terima nikahnya Rea Fiona dengan mas kawin tersebut, tunai.”

Sah.

Satu kata itu mengubah seluruh hidupku.

Air mataku jatuh begitu saja. Tidak bisa kutahan. Tidak ingin kutahan.

Mama mengusap punggungku pelan. Ketika kulirik, wajahnya sudah basah. Di seberang sana, ibu Riyu menutup mulutnya dengan tangan, pundaknya bergetar menahan haru.

Riyu menoleh kepadaku.

Senyumnya begitu lembut.

Ia mengedip pelan.

Seolah hanya ingin mengatakan satu hal.

Kita berhasil, Re.

Aku tersenyum di tengah air mata.

Setelah semua luka, keraguan, dan ketakutan yang pernah kami lewati…

Hari ini aku benar-benar menjadi istrinya.

Resepsi berlangsung lebih ramai.

Gedung dipenuhi cahaya lembut dan musik yang mengalun pelan. Aku dan Riyu berdiri di pelaminan dengan tangan yang sejak pagi seolah tidak ingin saling melepaskan.

Saat prosesi tukar cincin, tanganku sedikit gemetar.

Saking gugupnya, cincin yang hendak kupasangkan ke jari Riyu hampir masuk ke jari yang salah.

Riyu menahan tawa.

“Tenang,” bisiknya. “Aku cuma punya sepuluh jari. Semuanya buat kamu.”

MC langsung berseru,

Lihat selengkapnya