Hujan yang begitu lebat, entah kapan akan terhenti. Matahari tidak akan terbit dengan indah jika hujan tidak berhenti, pikir Amara saat itu. Dia hanya bisa melihat rintik hujan dari dalam toko tempat dirinya bekerja. Pagi hari sebelum matahari terbit, waktu di mana Amara datang untuk bekerja, membuat kue sebelum matahari terbit. Namun, sedari malam hujan tidak berhenti, rintik-rintik yang seakan tidak habis. Hal yang selalu Amara lakukan setelah matahari terbit adalah pulang ke rumahnya untuk menemui adiknya, lalu kembali bekerja. Hujan membuat semua itu sedikit susah, membuat Amara harus membawa payung yang tidak dia suka.
Di dapur toko, Amara sibuk mengadukan adonan kue, adonan terakhir sebelum dirinya pulang untuk sementara waktu. Amara begitu menyukai membuat kue, tetapi dia jarang mengakui hal itu. Dia pandai membuat kue, tetapi payah dalam menghias kue, seakan memiliki bakat yang setengah-setengah. Satu hal yang Amara biasa lakukan, yaitu menatap adonan yang baru saja masuk ke dalam oven. Ketika kecil Amara memiliki oven yang rusak dan tidak berbunyi, itulah mengapa dia selalu melamun menatapi oven, memastikan kuenya tidak gosong.
Mia, teman Amara, hanya bisa melihat Amara melamun. Mia membiarkan hal itu karena itu adalah kebiasaan Amara. Dia menuangkan adonan ke dalam cetakan, lalu memasukkannya ke dalam oven. Dia menatap jam, menghitung jam, memperkirakan kapan kuenya akan matang. Hal itu terkesan membosan karena oven akan berbunyi saat kue matang. Namun entah mengapa, Amara ingin memastikannya.
“Berhenti memperhatikan jamnya, oven kita tidak rusak,” ucap Mia, dia tidak ingin membahas hal yang sama berkali-kali. Mia berusaha fokus dengan pekerjaannya, yaitu membuat krim kue. Saat Mia sedang mengaduk bahan-bahan, dia berhenti di pertengahan dan mengucapkan, “Bagaimana kalau kamu temani aku di sini? Aku akan menyuruh sopirku menjemput Ian.”
“Tidak, ah. Nanti anak itu jadi manja,” tolak Amara dengan jelas.
“Ayolah! Aku mohon! Lagi pula, ini sedang hujan. Kamu akan repot pulang hujan-hujan,” pinta Mia, masih berusaha membujuk Amara. “Apa kamu tega meninggalkan aku sendirian?”
“Iya, aku tega,” balas Amara sambil tertawa kecil. “Ayolah, selesai dulu itu. Aku akan di sini sampai kuenya matang, titik.”
Dengan perasaan kesal, Mia lanjut mengaduk bahan-bahan menggunakan mixer. Mia tidak mengerti, mengapa Amara tidak pernah ingin menerima bantuan dari dirinya. Mereka sudah berteman semenjak mereka remaja, hingga sekarang mereka memiliki toko kue bersama. Bahkan, keluarga Mia sudah menganggap Amara sebagai bagian dari mereka. Namun, Amara masih ragu untuk menerima bantuan kecil dari Mia ataupun keluarganya.
Saat oven berbunyi, Amara langsung mengeluarkan kue dan menaruhnya di meja, menunggu agar panas dari kue itu mereda. Kue buatan Amara merupakan kue yang enak dan lembut, siapa saja pasti akan menyukainya. Disisi lain, menghias kue adalah tugasnya Mia karena Mia payah dalam memanggang kue, selain itu Mia begitu pandai dalam menghias dan mempercantik kue. Setelah membungkus kue dengan plastik makanan dan menaruhnya di kulkas. Amara merapikan tasnya dan bergegas untuk pulang.
“Ingat, kue itu untuk pesanan nanti jam sepuluh. Jangan sampai lupa, lalu orangnya mau ada hiasan pepohonan. Ingat itu,” ucap Amara sambil berjalan keluar dari dapur.
“Aku tidak sepelupa itu,” balas Mia, mengikuti Amara keluar dari dapur. “Lagi pula, nanti kamu akan bali—” Mia terhenti saat dia melihat seseorang di belakang Amara.
“kenapa tiba-tiba diam?” tanya Amara. Tidak mendapat jawaban dari Mia, Amara pun melihat ke belakangnya. Tidak bisa dipungkiri, Amara sedikit terkejut.
“Hai, apa cupcake-nya sudah ada?”
“Apa kamu buta? Kita masih tutup,” jawab Amara dengan kesal. “Charlie, bagaimana kamu bisa masuk?” tanya Amara sambil memutarkan matanya.
“Kalian tidak mengunci toko kalian, jadi aku masuk.”
“Oh, ya, aku lupa menguncinya,” ucap Mia.
Charlie adalah anak pemilik bengkel di seberang toko kue Amara dan Mia. Setiap kali Amara melihat Charlie, pria itu selalu tersenyum dan melambaikan tangan, walau Amara tidak membalas hal itu. Terkadang Amara melihat Charlie yang sedang memperbaiki mobil dari tokonya, tetapi Amara tidak melakukan apa-apa, hanya terdiam dan memperhatikan Charlie. Meski sikap Amara yang terkadang tidak ramah kepada Charlie, Charlie selalu ramah kepada Amara. Menurut Mia, Charlie sedikit menyukai Amara.
“Pergilah, belum ada kue yang siap,” usir Amara sekali lagi.
“Baiklah, aku beli sisa kue yang kemarin saja,” ucap Charlie, dia mengambil kue sisa kemarin yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian dan di diskon. “Ini uangnya.” Charlie meletakkan uang pas di atas meja kasir.
Amara memutarkan matanya, tetapi dia tetap mengatakan, “Terima kasih, sudah membeli.” Dengan senyum tipis di bibirnya.
“Apa kamu ingin aku antarkan pulang? Hujannya masih lebat,” ucap Charlie, menawarkan sebuah kebaikan.
“Boleh! Mara lupa membawa payung,” balas Mia dengan cepat, tidak membiarkan Amara berbicara sedikitpun.
“Baiklah, aku ambil payung dulu,” ucap Charlie yang keluar dari toko untuk mengambil payung.
“Kamu ini, kita punya payung di sini!” bisik Amara dengan kesal.
“Payungnya Charlie lebih bagus, sana pergi!” balas Mia, mendorong Amara keluar. Di mana Charlie sudah menunggu dengan payung di tangannya.
***
Hujan sudah mulai mereda dan matahari sudah terbit, walaupun cahayanya tidak terlihat jelas. Cuaca terasa begitu dingin, bahkan hembusan angin terasa begitu kencang. Ian berpikir untuk tidak datang ke sekolah hari. Namun, kakaknya pasti akan memarahinya jika dia bolos hanya karena cuaca yang buruk. Ian hanya bisa pasrah, pagi ini terasa begitu buruk. Dia lupa mengerjakan pekerjaan rumahnya dan sekarang dia mengerjakannya dengan terburu-buru, sebelum dia berangkat sekolah.