Orang aneh itu tidak pernah terlihat lagi. Namun, terkadang Amara melihat bayang-bayang seseorang dari gorden rumahnya. Mungkin semua itu hanya berada di dalam kepala Amara, tetapi Amara jarang sekali berhalusinasi. Bahkan saat dia berjalan ke toko, dia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Amara membenci hal ini, di mana dirinya selalu merasa ketakutan, mengapa dia tidak bisa hidup dengan normal dan damai. Amara ingin sekali memukul orang yang terus-menerus meneror dan mengikutinya. Tidak hanya itu, Amara juga memikirkan keselamatan adiknya. Dia akan membunuh siapa pun yang mencelakai adiknya.
Malam ini, Amara dan Ian menginap di rumah keluarga Mia. Mia tidak ingin melihat sahabatnya ketakutan hanya karena orang yang tidak jelas. Bahkan Mia menyadari bahwa Amara kurang tidur karena ketakutan akan keselamatannya. Mia tidak mengira orang tidak jelas itu berlaku sejauh ini. Sisi baik dari hal ini, hanya Ian dan Henry bisa bermain sepuasnya, hingga mereka tertidur lelap. Kedua anak itu bagaikan kembar yang terpisah saat lahir.
Ketika Amara sedang berjalan menuju kamar tamu, jalan yang terasa begitu panjang di rumah yang begitu besar. Amara baru saja menemani Mia menonton film membosankan di ruangan yang terlihat seperti bioskop. Amara masih tidak mempercayai rumah Mia memiliki hal seperti itu, setelah bertahun-tahun mereka berteman. Saat Amara menaiki tangga untuk pergi ke lantai dua, dia berpapasan dengan ayahnya Mia.
“Paman,” sapa Amara dengan senyum tipis.
Pria tua itu tersenyum, dan berjalan melewati Amara. Namun, ketika pria tua itu menginjak anak tangga terakhir dia berhenti. “Mara, Paman sudah mengecek keadaan ibu kamu,” ucap pria tua itu, melihat ke arah Amara.
Amara berhenti dan melihat ke arah ayahnya Mia. “Apa dia baik-baik saja? Maksudku, dia tidak pernah baik-baik saja. Hidupnya penuh dengan masalah. Apa dia membuat masalah atau apa pun yang selalu dia lakukan?” tanya Amara dengan gugup.
Pria tua itu tertawa kecil dan menjawab, “Tidak begitu parah, tetapi masih sama. Jadi, dia tidak mungkin menguntit kamu.” Amara merasa lega, mengetahui ibunya tidak mencoba kembali masuk ke dalam hidupnya. “Paman sudah menyuruh orang untuk mengawasi rumah kamu, siapa tahu orang itu datang lagi.”
“Terima kasih banyak, Paman,” ucap Amara sambil membungkuk sedikit.
Saat keadaan terasa hening, suara sepatu hak tinggi terdengar begitu kencang. Amara dan ayahnya Mia melihat ke arah suara hentakan sepatu itu, dan mereka melihat ibu tirinya Mia. Tenang saja, dia bukanlah ibu tiri yang jahat. Perilakunya hampir sama seperti Mia, penuh dengan antusias. Ibu tiri Mia adalah wanita yang begitu cantik, bagaikan model. Tidak lupa, umurnya yang terbilang masih muda, lebih muda daripada ayahnya Mia. Bahkan ibu tiri Mia bersikap begitu baik, entah mengapa hal itu membuat Amara iri.
“Amara! Kamu kemana saja, aku baru saja menanyakan kamu ke anak-anak.” Ibu tirinya Mia langsung memeluk Amara dengan begitu erat.
“Daisy, kamu terlihat cantik sekali,” balas Amara sambil melepaskan pelukan, di mana dirinya hampir jatuh karena mereka masih berada di tangga.
“Aku ingin pergi berkencan dengan suamiku,” ucap Daisy dengan bangga. “Oh, ya, aku dengar dari Mia, kamu sedang dekat dengan seseorang, ya. Masa kamu tidak cerita-cerita, sih.” Tentu saja, Mia akan menceritakan hal seperti itu kepada ibunya.
“Ah, itu tidak penting. Kalian pergilah berkencan,” ucap Amara yang berusaha mengusir kedua orang itu.
“Baiklah, sampai jumpa nanti. Pokoknya nanti kamu harus bercerita, ya!” Daisy langsung berjalan melalui Amara dan menggenggam lengan suaminya.
Amara tidak mengerti, mengapa keluarga Mia begitu baik kepada dirinya dan adiknya. Mungkin mereka merasa kasihan, tetapi Amara ragu akan hal itu. Awal-awal Amara mengenal Mia, Mia selalu bercerita tentang bagaimana ibunya begitu baik dan penyayang. Saat itu Amara tidak menyadari bahwa ibu yang Mia maksud adalah ibu tiri, dan adiknya Mia adalah saudara satu ayah. Jika Mia tidak memberitahu hal itu, mungkin Amara akan mengira ibu tiri Mia adalah ibu kandung Mia.
Amara terkadang merasa iri karena keluarga Mia terlihat begitu harmonis. Amara bahkan tidak bisa berbicara dengan ibunya tanpa adanya teriakkan. Ibunya adalah manusia terburuk dimuka bumi ini, Amara yakin akan hal itu. Satu hal di dalam hidupnya yang tidak pernah Amara sesali, adalah pergi meninggalkan ibunya. Jika Amara tidak meninggalkan ibunya, mungkin dia tidak akan memiliki hidup yang selalu dia impikan.
***
Pukul satu malam, Ian tidak bisa tertidur. Dia memilih untuk duduk di meja belajar, dan menggambar apa pun yang dia suka. Ian tidak keberatan harus menginap ataupun berbagi kamar dengan Henry. Dia hanya merasa khawatir dengan kakaknya. Namun, Ian tidak mengetahui bagaimana dia harus mengekspresikan kekhawatirannya. Kakaknya selalu mengatakan kepada Ian, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ian mengetahui kakaknya adalah orang yang kuat dan pemberani, dia bahkan tidak pernah melihat kakaknya menangis. Mungkin kakaknya menangis, tetapi Ian tidak pernah mengetahui hal itu.
Mendengar suara ketukan pensil, Henry terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Seisi kamar tidak memiliki cahaya, kecuali meja belajar, di mana Ian berada. Henry turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu kamarnya. Hal itu membuat Ian terkejut dan langsung menutupi matanya dengan telapak tangannya, berusaha menyesuaikan cahaya yang begitu terang.
“Mumpung yang lain sedang tidur, apa kamu mau ngemil? Aku lihat tadi Kak Mia baru saja membeli sebungkus permen baru,” ucap Henry sambil berbisik.
Kedua anak itu diam-diam keluar dari kamar, dan berjalan ke arah dapur dengan hati-hati. Saat tiba di dapur, Henry dengan begitu pelan membuka kulkas dan mengambil sebungkus permen milik Mia. Kedua anak itu duduk di lantai dapur, di depan kulkas dengan kondisi pintu kulkas terbuka. Mereka berdua memakan permen secara diam-diam, dengan pencahayaan lampu kulkas yang kuning.
Henry mengetahui bahwa Ian sedang merasa khawatir. Henry tidak mengerti bagaimana cara membuat temannya merasa lebih baik, jadi dia mengajak Ian memakan permen. Mia pasti akan marah saat mengetahui permen miliknya hilang, tetapi Henry tidak peduli dengan hal itu. Dia malah sengaja memilih permen milik Mia, agar Mia merasa kesal. Henry senang menjahili kakaknya. Namun, Ian tidak sama seperti Henry, Ian berlaku seakan Amara adalah ibunya. Menghormati dan tidak pernah menjahili sama sekali. Itu membuat Henry bingung.