Buah Yang Menyatu

Lilian
Chapter #3

Aku Membencimu, Selalu

Dia hanya mengetahui satu hal di dunia bahwa semua orang membenci dirinya. Ayahnya yang entah di mana. Ibunya yang berperilaku baik sekaligus kasar di waktu yang sama. Saudaranya yang pergi meninggalkan dia seorang diri. Dia mengerti bahwa dirinya salah dan tidak mengetahui bagaimana caranya meminta maaf. Ibunya tidak pernah mengajarkan hal itu. Ibunya selalu mengatakan bahwa diri kita adalah orang paling benar di dunia ini. Hal yang begitu salah dan dia mempercayai itu selama bertahun-tahun. 

Aiden, remaja berusia tujuh belas tahun yang tidak mengetahui banyak hal, memutuskan untuk pergi dari rumah karena dirinya ingin menemui seseorang, seseorang yang sudah lama tidak dia temui. Berhari-hari Aiden merangkai kata-kata maaf, tetapi dia tidak memiliki keberanian untuk menghadapi orang itu. Dia hanya bisa melihat dari kejauhan bagaimana kehidupan kakaknya terlihat begitu bahagia. Apakah kakaknya masih membenci dirinya? Apa rasa benci akan menghilang seiring berjalannya waktu atau hanya akan bertambah? Aiden selalu terdengar seperti orang bodoh. Dia tersesat dan tidak mengetahui mana arah yang benar. Mungkin seekor anjing bisa lebih pintar dari dirinya. 

“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Mia, dengan wajah panik. Dia terpaksa menemani orang yang Henry dan Ian celakai. “Kamu tidak akan menuntut, bukan?” 

Aiden menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak. Lagi pula, ini salahku.” Aiden memang terkesan menyeramkan memandangi rumah orang selama berhari-hari, bahkan mengikuti orang itu. Hanya karena dia merasa takut menghadapi orang itu secara langsung. Dia mendapatkan akibatnya, yaitu kakinya terkena petasan. Aiden mencoba lari saat Ian dan Henry berusaha mengejar dia, tetapi tanpa disangka kedua bocah itu melempar petasan ke arah Aiden. 

“Kamu tenang saja, kami akan membayar semua kerugian,” ucap Mia dengan canggung.

“Ah, iya, terima kasih. Kemana anak-anak tadi?” tanya Aiden, merasa penasaran. 

“Tenang saja, ibuku sedang memarahi mereka habis-habisan. Mereka tidak akan mengulangi hal yang sama.” 

Tak lama, Amara datang dengan ekspresi yang datar. Saat Amara masuk, fokusnya langsung tertuju kepada Mia hingga dia tidak menyadari siapa yang ada di ranjang rumah sakit. Aiden hanya menurunkan pandangannya, berusaha menutupi wajahnya. Entah mengapa, dia merasa malu berhadapan dengan Amara. Dia sudah menunggu selama berhari-hari dan dia masih belum merasa siap. Seribu prediksi buruk berdatangan ke dalam pikiran Aiden. 

“Aiden?” tanya Amara saat melihat wajah remaja itu yang begitu mirip dengan adik pertamanya. 

“Apa kamu mengenal orang ini?” tanya Mia. “Dia orang yang katanya mengikuti Ian waktu itu,” bisik Mia langsung ke kuping Amara, agar Aiden tidak mendengar. 

“Dia adikku,” jawab Amara, membuat Mia begitu terkejut. Amara tidak pernah menceritakan kepada siapa pun tentang Aiden karena Amara tidak ingin orang-orang mengira dirinya adalah orang jahat. Meninggalkan Aiden bersama ibu mereka seorang diri. Namun, Amara tidak mempunyai pilihan lain karena Aiden selalu membela ibu mereka. “Mia, bisakah kamu keluar dulu? Aku ingin berbicara berdua dengan orang ini.” Tanpa berpikir apa-apa, Mia langsung pergi meninggalkan kedua saudara itu. 

“Kakak, apa kabar?” ucap Aiden, berusaha menatap kakaknya sendiri. 

“Kamu sudah besar, ya. Sangat berbeda dari yang dulu,” balas Amara sambil menyilang kedua tangannya. “Setidaknya kamu tidak terlihat seperti preman, berbeda dari yang selalu aku bayangkan.”

“Ian juga sudah besar, dulu dia masih kecil, bahkan belum bisa berbicara dengan jelas,” timpal Aiden. 

“Apa yang kamu inginkan? Kamu berdiri di depan rumahku berjam-jam, hingga mengikuti aku. Pasti kamu ingin mengatakan sesuatu,” tanya Amara dengan tegas. 

“Tidak ada, ibu mengusirku karena pacar barunya ingin pindah ke rumah,” jawab Aiden dengan kebohongan. “Aku rasa ibu sakit. Sakit sungguhan.” 

“Aku tidak peduli dengan hal itu,” ucap Amara dengan jelas. “Kamu tidak bisa tinggal bersamaku—”

“Aku sudah tidak merundung orang lagi, aku janji. Aku sadar kalau itu salah. Maaf,” balas Aiden. 

“Baiklah, tapi jika kamu bertingkah aku akan melemparkan kamu ke jalanan.”

Amara masih mengingat hari itu, di mana Ian berusia tiga tahun dan Aiden berusia delapan tahun. Aiden dengan sengaja memasukkan Ian ke dalam mesin cuci dan berniat untuk mengiling adiknya sendiri. Amara berhasil menggagalkan hal itu, tetapi Aiden tidak ingin mengakui mengapa dia melakukan hal seperti itu. Saat itu Aiden tidak tahan mendengar keluhan ibunya, yang selalu berharap Ian tidak ada di dunia ini. Aiden tidak mengerti mengapa ibunya selalu mengucapkan hal itu. Setiap malam sebelum menidurkan Aiden, ibunya selalu mengatakan bahwa Aiden adalah anak kesayangannya dan harus selalu membahagiakannya. Aiden tidak mengerti apa pun, dia hanya ingin membahagiakan ibunya. 

***

Amara terpaksa membawa Aiden pulang karena dia merasa kasihan, Amara tidak mungkin meninggalkan anak itu seorang diri. Entah di mana anak itu tidur saat dia belum menemui Amara, mungkin di rumah temannya atau di jalanan. Amara membuat Aiden berjanji bahwa mereka tidak akan memberi tahu Ian jika mereka adalah saudara. Aiden akan berpura-pura menjadi kerabat jauh Amara yang tidak memiliki tempat tinggal. Aiden terpaksa setuju dengan hal itu jika tidak, Amara tidak akan menampung Aiden. Tidak hanya itu, Aiden juga tidak boleh memberitahu lokasi Amara dan Ian kepada ibu mereka. Aiden hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar itu. 

Saat Amara berusaha pergi dengan Ian yang masih kecil, dia meninggalkan Aiden seorang diri, bukan tanpa alasan. Percobaan pertama, Amara ingin pergi bersama Ian begitu juga Aiden, tetapi Aiden berakhir memberi tahu ibu mereka. Aiden tidak mengingat jelas apa yang terjadi, tetapi dia melihat pipi Amara yang lebam dan dia tidak merasa bersalah. Pada akhirnya Amara hanya membawa Ian bersama dirinya. 

Sekarang Aiden berada di rumah Amara, dia duduk di ruang tamu dengan televisi yang menyala. Namun, Aiden masih bisa mendengar suara Amara yang menjelaskan keadaan baru ini kepada Ian. Begitu lembut, bagaikan seorang ibu yang mengajarkan anaknya. Aiden bahkan tidak pernah mendengar ibunya berbicara dengan nada yang lembut. Hatinya terasa panas saat mendengar nada lembut Amara, sikap Amara yang begitu baik kepada Ian. Amara tidak pernah berlaku seperti itu kepada Aiden. Aiden merasa iri. 

Ian keluar dari kamar Amara dan menghampiri Aiden. “Maafkan aku, sudah melempar petasan ke arah Kakak,” ucap Ian sambil menundukkan kepalanya. 

Lihat selengkapnya