Buah Yang Menyatu

Lilian
Chapter #4

Kehangatan di Musim Dingin

Terkadang orang dewasa mengira bahwa anak kecil adalah makhluk yang tidak mengerti apa-apa. Namun, terkadang hal itu tidak benar. Terkadang anak kecil mengerti sesuatu yang di luar jangkauan mereka. Terkadang mereka berpura-pura tidak mengetahui apa pun agar orang dewasa tidak khawatir. Itulah yang terkadang Ian lakukan agar Amara tidak khawatir. Terkadang Ian diam dan mendengarkan orang dewasa berbicara. Banyak hal yang dia tahu dengan berdiam diri. Terkadang dia berpura-pura tidur, agar dia bisa mendengarkan pembicaraan orang dewasa. 

Ian tidak bodoh, dia mengetahui bahwa kakaknya membawa dirinya pergi. Dia mengetahui bahwa orang tuanya bukanlah orang baik, setidaknya itu yang dia dengar. Dia mengetahui setiap kali dia mengatakan kalau kakaknya adalah ibunya, orang-orang akan berpikir bahwa kakaknya adalah remaja yang nakal. Namun, dia tidak peduli. Dia tidak mengingat apa pun, selain kakaknya. Jadi, tidak ada gunanya membahas orang yang tidak ada dalam ingatannya. 

Ketika Ian dan Henry sedang berjalan pulang sambil mendorong sepeda mereka. Mereka membahas nilai ulangan mereka yang di atas rata-rata. Tentu saja, kedua anak itu bekerjasama. Ian tidak sabar untuk memberi tahu kakaknya, agar kakaknya bangga kepada dirinya. Setiap kali Ian mendapatkan nilai bagus dalam ulangan, Amara selalu membelikan es krim jumbo untuk Ian habiskan seorang diri. 

“Apa kamu yakin tidak ada yang mencurigai kita?” tanya Henry. 

“Tidak. Tidak mungkin ada berani melaporkan kita tanpa bukti,” jawab Ian dengan yakin. 

“Percuma kita sudah bekerja sama, tapi tidak dapat seratus. Padahal kalau dapat seratus aku akan dapat handphone,” keluh Henry sambil memutarkan matanya. 

“Apa kamu gila?! Kalau kita dapat seratus yang ada semua orang curiga,” tegur Ian.

“Tidak seru!” ucap Henry. “Bagaimana kalau kita pergi ke minimarket? Aku mau jajan.” 

“Baiklah. Dasar anak manja.” Saat Ian ingin menaiki sepedanya, dia terhenti karena dia melihat Aiden yang terduduk diam di halte bus. “Bukankah itu orang aneh yang waktu itu?” 

Henry langsung melihat ke arah Aiden. “Iya, sepupu kakakmu, bukan? Kenapa dia diam saja di situ? Aneh sekali.” 

Ian langsung mengajak Henry untuk mendatangi Aiden. Aiden hanya duduk diam di halte bus, seakan dia enggan berjalan pulang ke rumah Amara. Aiden baru saja berkelahi di sekolah tanpa alasan yang jelas. Seseorang menantangnya berkelahi dan dia menerima hal itu, tanpa alasan yang logis. Dia hanya merasa marah dan ingin memukul seseorang tanpa alasan. Semenjak dia berhenti merundung orang, banyak amarah yang terkumpul di dalam dirinya karena dia tidak bisa melampiaskannya ke orang lain. 

Ketika Aiden memutuskan untuk kabur, ada rasa yang aneh di dalam dirinya. Rasa penyesalan, rasa bersalah, rasa marah, dan rasa kasihan kepada diri sendiri. Aiden tidak dapat memutuskan apa yang dia rasakan. Dia ingin meledak karena semua perasaan itu. Rasa yang tidak wajar dan aneh bagi Aiden. Dia bahkan berpikir, apakah orang lain pernah merasakan hal yang sama? Dia tidak ingin merasa sendiri di dunia ini. 

“Hai, Kak Aiden,” sapa Ian, membuat Aiden berhenti melamun.

“Hai juga,” tambah Henry. 

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Aiden, merasa bingung. 

“Kak Aiden sendiri, kenapa di sini? Bukannya pulang,” tanya Ian balik kepada Aiden. 

“Betul itu, kayak orang aneh,” tambah Henry. 

“Sedang beristirahat. Tidak dapat tempat duduk di bus,” ucap Aiden, penuh dengan kebohongan. 

“Masuk akal. Apa Kak Aiden mau ikut kami? Kami ingin ke minimarket dan membeli jajanan,” ucap Ian yang berusaha bersikap baik. Mengingat dia dan Henry membuat Aiden masuk rumah sakit. 

“Ah, aku tidak punya uang, kalian saja,” balas Aiden. 

“Tidak apa, Henry yang bayar,” ucap Ian dengan gamblang. 

“Iya, uangku banyak. Aku bisa beli satu minimarket kalau mau,” ucap Henry dengan sombong. 

Ian langsung memukul pelan lengan Henry. “Jangan sombong!” 

Akhirnya Aiden mengikuti kedua bocah itu, dia tidak memiliki pilihan lain. Untuk sekejap Aiden terlihat seperti pecundang yang bergaul dengan anak kecil. Namun, Aiden tidak mempunyai teman yang benar-benar dia anggap teman. Tidak seperti Ian dan Henry yang selalu bersama, bagaikan anak kembar. Tidak seperti Amara dan Mia, yang selalu ada untuk satu sama lain. Aiden hanya seorang diri, tanpa teman ataupun orang yang peduli kepada dirinya. 

Lihat selengkapnya