Buah Yang Menyatu

Lilian
Chapter #5

Mungkin Aku Peduli

Terkadang seseorang tidak harus belajar untuk mengetahui apakah suatu hal adalah kesalahan. Orang itu akan mengetahui tepat di depan matanya, di dalam hatinya, yakin bahwa suatu hal salah. Namun, terkadang ada seseorang yang bingung, benaknya penuh dengan pertanyaan. Pertanyaan yang membuat orang itu bertanya-tanya, apakah semua pembunuh adalah orang jahat. Bagaimana jika dia membunuh seseorang dan dia tidak merasa bersalah, apakah dia akan menjadi orang jahat. Dia mengetahui sesuatu salah dan yakin akan hal itu, tetapi jauh dalam hatinya, dia masih bertanya-tanya. Dia mengetahui ibunya adalah pemarah, tetapi dia berpikir, apa dasar kemarahan itu masuk akal. Apa dirinya sama seperti ibunya? Selalu dibenci oleh semua orang. 

Saat Aiden lahir, ayahnya Amara mengetahui bahwa Aiden bukanlah anak kandungnya. Pria itu seketika berubah, seorang ayah yang penyayang sudah tidak ada lagi. Ketika Amara beranjak remaja, dia mengerti mengapa ayahnya pergi meninggalkan Amara. Kepercayaan pria itu sudah hilang hingga dia meninggalkan anak kandungnya, Amara. Saat itu, Amara menyadari keluarga sempurna miliknya sudah hilang. Amara mengetahui bahwa ayahnya salah, tetapi tidak sebesar kesalahan ibunya. Entah mengapa, Amara mengerti mengapa ayahnya pergi meninggalkan ibunya. Awal di mana rasa benci Amara kepada Aiden muncul. 

Ketika toko kue sudah tutup dan Mia sudah dijemput oleh supirnya, Amara berdiam diri di depan toko. Dia selalu melakukan itu, mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Ian, kembali ke realita. Saat Amara memutuskan untuk membesarkan adiknya seorang diri, dia tidak pernah berpikir bahwa seorang anak sangat sulit untuk dirawat. Tujuh belas tahun, saat Amara pergi dari rumah. Membuat Amara terlihat seperti remaja yang hamil muda. Namun, Amara tidak memperdulikan hal itu. Amara hanya bersandar di pintu toko yang sudah dikunci dan menghisap rokok miliknya. 

Di seberang jalan, Charlie yang baru saja selesai lembur melihat Amara seorang diri. Hari ini Charlie tidak ingin menyapa Amara karena Amara terlihat murung. Namun, Charlie tidak memiliki hati untuk pergi tanpa bertanya kondisi Amara. Charlie dengan yakin menghampiri Amara dan Amara melihat itu. 

“Hai, kenapa kamu belum pulang?” tanya Charlie dengan gugup. 

Amara tersenyum tipis dan berkata, “Tidak apa-apa.” Amara langsung menjatuhkan rokoknya ke aspal dan mematikan rokok itu dengan kakinya. “Ini, aku ingin pulang. Menggunakan kaki jika kamu penasaran.” 

“Apa kamu ingin aku antarkan?” tanya Charlie dengan cepat. “Malam hari seperti ini, pasti banyak perampokan.”

Amara tertawa kecil, seakan dia tidak memiliki pisau kantong di dalam tasnya. “Selama aku tinggal di sini, aku tidak pernah dengar adanya perampok. Wilayah ini dan wilayah rumahku termasuk aman, bagiku.” 

“Tapi bisa saja ada satu perompok pemula yang ingin mencoba.” 

Amara tertawa kecil. “Baiklah, tapi aku ingin pergi ke minimarket dulu—”

“Tidak apa, aku akan mengantarkan kamu,” ucap Charlie yang memotong Amara. 

Pada akhirnya, mereka berdua berjalan kaki menuju minimarket. Mereka tidak membicarakan apa pun sepanjang perjalanan. Charlie terlalu canggung untuk mengungkapkan sesuatu ataupun bertanya. Amara sendiri menyukai keheningan yang ada, dia tidak suka berbicara terlalu banyak dan dia tidak ingin berbagi kisah tentang dirinya. Amara mengetahui jelas bahwa Charlie merasa canggung. Namun, Amara membiarkan hal itu karena hal itu terlihat menggemaskan. 

Saat mereka berada di minimarket, Charlie hanya mengikuti Amara melalui lorong-lorong yang ada hingga Amara berhenti di lorong persediaan alat tulis. “Charlie, menurut kamu, apa pulpen seperti ini terlalu kekanak-kanakan?” tanya Amara sambil menunjukkan pulpen dengan corak hewan-hewan menggemaskan. 

“Untuk kamu atau seseorang?” 

“Untuk adikku, 17 tahun. Apa dia terlalu tua untuk memakai ini?”

“Tentu saja, dia akan ditertawakan teman-temannya.” Charlie melihat ke arah rak pulpen dan mengambil pulpen hitam polos. “Ini lebih cocok, polos dan tidak mudah untuk dihina.” 

“Ugh, sekarang aku harus membeli pulpen lebih dari satu.” Amara mengambil pulpen hitam polos itu dari tangan Charlie dan memasukkannya ke dalam keranjang. 

“Apa adik kamu lebih dari satu?” tanya Charlie yang penasaran. 

“Dua, satu berumur dua belas, satu lagi tujuh belas tahun,” jawab Amara. Sekarang Amara melihat-lihat buku catatan. “Tadinya aku hanya tinggal berdua dengan yang dua belas, tapi yang tujuh belas memilih untuk kabur dari rumah.” Amara mengambil satu buku catatan. “Sekarang aku harus mengurus dua adik sekaligus.” 

Charlie tidak mengatakan apa-apa seakan dia mendengar cerita yang tidak lengkap. Namun, dia memilih untuk diam. Dia mengalihkan pandangannya ke rak tempat pensil, mungkin dia bisa membantu Amara memilih barang. Aiden mengambil tempat pensil polos tanpa corak apa pun. “Adik kamu bisa pakai ini, kalau dia butuh. Yang tujuh belas.” Aiden menunjukkan tempat pensil itu kepada Amara. 

Amara tertawa kecil. “Tempat pensil dia memang terlihat jelek. Baiklah, ternyata kamu ada gunanya juga.” 

“Bagaimana kalau itu hadiah dari aku? Aku yang bayar.” 

“Aku tidak membutuhkan pria membayarkan belanjaan milikku.” 

“Ayolah, hanya tempat pensil saja. Dengan pulpen, kalau kamu tidak keberatan.” 

“Baiklah, tapi sebagai gantinya, kamu akan mendapatkan cupcake gratis. Titik.” 

Mereka pergi membayar belanjaan Amara dan setelah itu pergi dari minimarket. Entah mengapa, rasa canggung Charlie sudah berkurang. Sepanjang perjalanan Charlie tidak bisa berhenti tersenyum. Tentu saja, rasa suka Charlie semakin melambung tinggi. Dia merasa senang Amara menyukai sarannya, mengira Amara akan menghiraukan hal itu. Jantung Charlie berdebar, berputar, berlari, bahkan ingin keluar dari tubuhnya. Amara menyadari semua itu karena wajah Charlie terlihat begitu merah. Amara berusaha menahan senyumannya, tetapi Charlie begitu menggemaskan. 

Lihat selengkapnya