Buah Yang Menyatu

Lilian
Chapter #6

Cemburu Buas

Hari ulang tahunku. Akhirnya aku berumur 13 tahun, aku sudah menjadi dewasa. Namun, ibu tidak ingin merayakan ulang tahunku. Aku tidak mengerti. Mengapa ibu selalu merayakan ulang tahun Aiden, lalu melupakan ulang tahunku? Aku juga ingin merayakan ulang tahunku, seperti Aiden. Aku merasa iri. Aku tahu kalau merasa iri itu tidak baik. Namun, mengapa ibu selalu lebih menyayangi Aiden? Padahal aku lahir lebih dulu. Setiap kali ibu tertidur di sofa karena mabuk, aku selalu merawat ibu. Namun, ibu berterima kasih kepada Aiden. Ibu selalu mengatakan, tanpa Aiden dirinya akan mati. Lalu, aku ini apa. Aku tahu Aiden masih kecil, tapi aku tetap iri. Pikiran ibu selalu dipenuhi oleh Aiden semenjak ayah pergi. Mengapa ayah tidak membawaku pergi juga? Apa tidak ada satupun orang yang menyayangi aku? Aku harap ibu mengingat ulang tahunku. 

Tujuh belas tahun, saat Amara pergi bersama Ian yang masih balita. Saat itu, Amara begitu membenci Aiden. Aiden yang berusia delapan tahun adalah anak terburuk yang pernah Amara lihat. Anak yang selalu menghina dan merundung orang lain. Anak yang tidak menghormati siapa pun karena ibunya terlalu memanjakan dia. Anak yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Amara benci itu. Ketika Amara mengetahui Aiden yang membocorkan rencana pelarian dirinya. Amara mengatakan ‘benci’ berulang kali di hadapan Aiden. Amara menyesali itu, tetapi mengatakan hal itu membuat semua amarah yang ada hilang. 

Saat ini, bahu Aiden terasa begitu sakit. Anak-anak yang menyebalkan itu membuat lengan Aiden terasa ingin patah. Namun, Aiden merasa senang. Siapa yang menduga menyaksikan anak-anak bertengkar adalah hal lucu dan menyenangkan. Aiden merasa pipinya melebar karena dia selalu tersenyum dan tertawa jika mengingat kejadian itu. Menjadi anak kecil sangatlah menyenangkan. Saat Aiden kecil, dia tidak bisa memiliki teman karena ibunya begitu posesif. Kabur adalah hal yang terkesan indah. Itulah yang Aiden lakukan. Kabur. 

“Apa bahu kamu sakit?” Aiden terkejut mendengar suara Amara. Tanpa Aiden sadari, Amara berada di hadapannya dengan sekaleng bir di tangannya. 

Aiden mengangguk dan melihat ke arah lantai. “Anak-anak bodoh itu menarik aku terlalu kuat,” balas Aiden sambil memegang bahunya. 

Amara membuka laci meja televisi dan mengambil sebungkus koyok. Tanpa berbicara apa-apa Amara duduk di samping Aiden dan mengisyaratkan Aiden untuk membuka bajunya. Aiden sempat ragu, tetapi pada akhirnya dia membuka bajunya dan berbalik menunjukkan punggungnya. Amara bisa melihat tulang-tulang yang terlihat begitu jelas melalui kulit Aiden. Kurus kering adalah kata yang tepat. Banyak bekas luka pukulan yang terlihat di punggung Aiden. Dipukul menggunakan ikat pinggang, Amara mengetahui itu. Beberapa luka bakar kecil juga terlihat. Dibakar menggunakan lilin dan cairan lilin yang begitu panas, Amara tahu itu. Amara familiar dengan hal itu. 

“Kamu tidak perlu terus bergaul dengan Ian dan Henry, kamu tahu itu. Mereka terkadang menyebalkan,” ucap Amara sambil memasangkan koyok ke bahu Aiden. 

“Apa Kakak pernah berpikir untuk menjemputku?” tanya Aiden secara tiba-tiba. 

Amara terdiam sejenak, dia ingin mengatakan ‘iya’. Namun entah mengapa, lidahnya enggan mengatakan hal seperti itu. “Aku kira kamu senang tinggal bersama ibu,” jawab Amara dengan nada dingin. 

Aiden mencengkram kaos yang berada tangannya. “Apa Kakak sebenci itu sama aku?” 

“Tidak terlalu, kita hanyalah anak kecil saat itu. Lupakan saja jika aku pernah mengucapkan hal seperti itu,” jawab Amara, berusaha menghindari pertanyaan itu. 

Mata Aiden berkaca-kaca. “Setiap tahun ada petugas yang datang untuk mengecek keadaanku. Apa itu Kakak yang kirim?” 

“Aku tidak tahu,” jawab Amara, penuh dengan kebohongan. Jauh di dalam lubuk hati Amara, dia masih menyayangi Aiden sebagai adiknya. Mungkin saat itu Aiden adalah anak yang tidak bisa diperbaiki. Namun saat ini, Amara merasa dia bisa membuat Aiden lebih baik, lebih sehat. “Apa kamu berharap itu dari aku?” 

“Ya, aku berpikir itu dari Kakak. Aku kira Kakak masih peduli kepadaku,” ucap Aiden, menetes air mata dan enggan berbalik untuk menatap Amara.

Amara bisa merasakan tetesan air mata Aiden, membuat matanya berkaca-kaca. Amara selalu mengecek keadaan Aiden setiap tahun, bahkan meminta petugas untuk mengecek Aiden. Dua kali Aiden sudah dimasukkan ke panti asuhan, tujuh kali percobaan melarikan diri, tetapi Aiden selalu kembali dengan sukarela kepada ibu mereka. Itu yang membuat Amara ragu untuk menjemput Aiden ataupun mengambil Aiden secara paksa. Amara takut ketika dia sudah menyayangi Aiden dengan sepenuh hatinya, Aiden akan kembali kepada ibu mereka. Amara tidak ingin mensia-siakan rasa sayangnya. 

“Kakak peduli,” ucap Amara, setelah diam dalam waktu yang lama. “Tapi kamu lebih menyayangi ibu daripada Kakak. Jadi, tidak ada gunanya. Kakak membenci ibu dan kamu menyayanginya. Apa kamu kira kita akan akur hanya karena kita saudara? Kita bahkan tidak memiliki ayah yang sama.” 

Kata-kata itu terasa seperti air dingin yang disiramkan di kepala Aiden. “Aku tidak berpikir sejauh itu,” balas Aiden, tangisannya semakin deras. “Kakak terlihat begitu akur dengan Ian. Ian tidak pernah mengenal ibu … dia sangat beruntung.” 

Amara menghela napas. “Aku rasa kamu butuh bantuan. Lihatlah dirimu. Aku juga sadar kamu jarang makan, hanya sehari sekali. Dan bekas luka kamu.” 

Lihat selengkapnya