Hujan yang lebat memiliki suara yang begitu keras sehingga tangisan tidak terdengar sama sekali. Sebuah mobil menabrak pagar jalanan dan mengeluarkan asap, mungkin akan segera terbakar. Entah bagaimana mereka berakhir seperti ini. Ian hanya terdiam dengan darah mengucur dari tangannya dan luka sayatan di beberapa bagian tubuhnya. Ketika kesadaran sampai kepada dirinya, Ian keluar dari mobil itu dan dengan cepat berlari sejauh mungkin dari mobil itu, dan orang di dalamnya. Dia bisa mendengar orang itu memanggil namanya berulang kali, tetapi dia enggan menghiraukan suara itu. Ian berlari begitu cepat, memaksa dirinya untuk tetap berlari. Larinya semakin lamban setiap detiknya, tetapi melaju saat melihat seseorang yang dia kenal.
Ian berlari ke pelukan Aiden, berharap wanita aneh itu berhenti memanggil dirinya. Ian tidak mengingat apa yang terjadi setelah itu. Saat dia membuka matanya, dia berada di kantor polisi dengan pihak medis yang mengobati lukanya. Polisi bertanya banyak hal, tetapi Ian hanya bertanya tentang kakaknya, meminta polisi menghubungi Amara. Namun, polisi tidak bisa menghubungi Amara sama sekali. Ian dengan penuh air mata sudah merasa pasrah, tetapi dia berusaha mengingat siapa saja yang bisa dia hubungi. Dia merasa begitu takut dan tidak mengetahui harus melakukan apa. Ian tidak mengingat apa yang dia katakan kepada polisi, tetapi dia melihat Daisy dan suaminya datang ke kantor polisi. Ian langsung memeluk mereka berdua dan bertanya di mana Amara.
Sore hari itu, Ian melihat Aiden bertukar suara dengan seseorang di telepon. Aiden terus memanggil orang itu ibu, dengan suara yang serak, seakan menahan air mata. Aiden terlihat tertekan dan menyedihkan. Nada bicara Aiden terdengar seperti orang yang bersalah, dengan suara memohon maaf kepada ibunya. Ian hanya terdiam mendengar itu semua, berusaha tidak mengganggu Aiden. Namun, Ian merasa penasaran dengan Aiden yang terlihat ketakutan dan pasrah setelah pembicaraan itu berakhir.
Setelah menenangkan dirinya, Aiden langsung memasukkan barang-barangnya ke dalam ransel miliknya. Melihat itu Ian berhenti mengintip dari pintu kamarnya dan segera menghampiri Aiden. Ian berpikir Aiden akan pergi begitu saja, tanpa berpamitan. Namun, itulah niat Aiden. Pergi tanpa berpamitan.
“Kak Aiden mau kemana?” tanya Ian.
Aiden memakai ransel miliknya dan tersenyum kepada Ian. “Aku ingin pulang.”
“Bukannya Kakak diusir?” tanya Ian, merasa bingung.
“Jangan bilang siapa-siapa, tapi aku berbohong kepada kakak kamu,” jawab Aiden berbisik kepada Ian. “Aku sebenarnya kabur dari rumah karena bertengkar dengan ibuku.”
“Oh, aku mengerti. Pasti kakakku tidak akan mengizinkan Kak Aiden untuk menginap, jika Kak Aiden jujur,” ucap Ian, mengerti mengapa Aiden berbohong. Ian merasa Aiden mengatakan hal yang sebenarnya kali ini karena Aiden tidak bisa berhenti tersenyum. Ian tidak pernah melihat Aiden tersenyum begitu lebar. “Apa Kak Aiden akan pergi sekarang?”
Aiden mengangguk. “Aku tadi berbicara dengan ibuku dan dia sudah memaafkan aku. Jadi, kami sudah berdamai sekarang.”
“Baiklah,” ucap Ian, merasa sedikit sedih. “Apa mau aku antarkan ke halte?”
“Boleh, kalau kamu tidak keberatan.”
Entah apa yang ada dibenak Aiden, selalu melakukan kesalahan yang sama. Dia pikir, dia kuat untuk tidak pernah kembali kepada ibunya. Dia salah. Seakan dia tidak ingin sembuh dari apa yang membuatnya seperti ini. Mungkin jauh di dalam dirinya, dia merasa dirinya sama saja seperti ibunya, orang yang tidak bisa berubah. Mengakui bahwa dirinya salah, bukanlah hal yang mudah untuk Aiden. Mengakui dirinya membutuhkan bantuan adalah hal yang mustahil keluar dari Aiden. Cara mudah untuk menyelesaikan semua ini adalah menghancurkan dirinya sendiri.
Ketika mereka berada di halte, Ian memaksa untuk naik ke dalam bus, seakan tidak ingin berpisah dengan Aiden. Dengan pendirian yang lemah, Aiden membiarkan Ian. Namun, Aiden membuat Ian berjanji tentang satu hal, yaitu Ian harus pulang sebelum Aiden masuk ke dalam rumahnya. Aiden tidak ingin ibu mereka melihat Ian. Mungkin ibu mereka akan mengenali Ian, mungkin tidak. Aiden harap ibunya melupakan keberadaan Ian, seperti mana, ibunya melupakan kehadiran Amara. Terkadang Aiden merasa iri kepada Amara karena ibu mereka tidak peduli sedikitpun tentang Amara.
Aiden dan Ian terduduk diam di dalam bus yang sepi. Ian hanya memandangi jalan yang dilewati, sedangkan Aiden tidak berhenti bermain dengan jarinya, berusaha mengupas kulit mati yang ada di jarinya. Entah mengapa, kulit mati itu tidak ingin lepas dari jari Aiden. Hal itu membuat Aiden frustasi.
“Kalau pengen dikelupas, pakai air panas saja. Nanti kulit Kakak jadi lebih halus,” ucap Ian, ikut frustasi melihat Aiden yang tidak berhasil.
“Kata siapa bakal berhasil? Jangan sok tahu,” goda Aiden, tidak percaya dengan ucapan Ian.
“Ih, Kak Amara juga yang bilang!” ucap Ian, merasa kesal. “buktinya setiap kali aku habis bermain bola, Kak Amara selalu memberikan perawatan di kakiku, seperti di salon.”
“Aku tidak pernah ke salon,” balas Aiden. “Bukannya itu hanya untuk perempuan?”