Semua orang memiliki alasan untuk berbohong, tetapi pada akhirnya mereka tetap mengatakan hal yang tidak benar. Kebohongan adalah hal yang rumit. Semua orang pasti pernah berbohong, entah itu untuk hal kecil maupun besar. Amara sendiri tidak suka dibohongi, dia akan merasa sangat bodoh karena dirinya percaya akan sebuah kebohongan. Namun, kebenciannya akan kebohongan tidak akan membuat dirinya jujur. Dia menutupi banyak hal dari Ian, berpikir bahwa anak kecil tidak perlu mengetahui banyak hal. Amara selalu memberi alasan yang dipenuhi dengan kebohongan ketika Ian bertanya tentang orang tua mereka. Ian mengetahui bahwa Amara tidak sepenuhnya jujur, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Terkadang dia harus berpura-pura tidak tahu.
Ketika kaki Amara melangkah ke dalam kantor polisi, dia merasa takut. Amara selalu menghindari polisi selama hidupnya, mengingat bahwa dirinya kabur sewaktu remaja. Saat itu Amara selalu takut jika melihat polisi, mengira dirinya akan dikembalikan kepada sang ibu. Namun, sekarang Amara adalah wanita dewasa. Tidak ada yang akan memaksa dirinya untuk kembali kepada sang ibu seperti di masa lalu. Walau seperti itu, Amara masih merasa takut.
Ketika melihat Amara, Ian tidak ingin lepas dari sisinya, memeluk Amara dengan begitu erat. Namun, salah satu petugas langsung memisah mereka. Mengetahui hal itu, Amara langsung meminta Daisy untuk membawa Ian pergi, agar Amara bisa menjelaskan keadaan ibunya kepada petugas. Amara sudah menantikan seumur hidupnya untuk hal ini. Ketika diinterogasi, Amara menjawab semuanya dengan jujur. Tentang kondisi ibunya dan tentang bagaimana dirinya melarikan diri. Amara berusaha mengatakan itu semua dengan tegas dan jelas, tanpa keraguan sedikitpun.
“Lalu, bagaimana dengan adik pertama Anda?” tanya petugas.
“Semua ini tidak ada hubungannya dengan dia,” jawab Amara dengan jelas.
“Namun, adik tertua Anda yang mengajak adik bungsu Anda untuk mengunjungi ibu kalian. Dia juga yang menghubungi kami.”
Amara terdiam sejenak, berusaha menahan emosinya. “Ya, saya tahu itu. Tapi dia, adik pertama saya, hanyalah anak yang bodoh. Ibu kami bukanlah orang baik dan dia terus membela ibu kami. Itulah alasan kenapa saya tidak berhubungan dengan adik pertama saya. Anak itu tidak ingin pertolongan sama sekali.”
“Apa Anda tahu bahwa adik pertama Anda butuh bantuan?”
“Tentu saja, saya sudah menawarkan, tapi dia menolak.”
“Saya tidak mempermasalahkan adik kedua Anda. Anda adalah orang dewasa dan memiliki hak untuk menjaga adik Anda, jika Anda pikir bahwa ibu Anda bukanlah orang tua yang baik. Dan argumen Anda didukung oleh keadaan ibu Anda, yang mabuk dan mengemudi bersama anak di bawah umur. Namun, kami mengkhawatirkan adik pertama Anda.”
“Saya tidak peduli, dia bukan tanggung jawab saya,” ucap Amara dengan yakin.
“Sekarang dia adalah tanggung jawab Anda, jika tidak, dia akan berakhir di panti asuhan. Bagaimanapun adik pertama Anda masih di bawah umur dan membutuhkan bantuan, mentalnya terlihat begitu buruk.”
Amara tidak bisa berbohong kepada dirinya, dia mengetahui bahwa dirinya lebih menyayangi Ian daripada Aiden. Dia merasa seperti orang jahat, tetapi dia tidak bisa mengatur perasaannya. Kebencian yang Amara miliki lebih besar dari yang dia kira. Setiap kali dia melihat Aiden, dia melihat anak yang menghancurkan keluarganya yang indah. Dunia Amara berubah ketika Aiden lahir ke dunia ini. Sedalam apa pun Amara berusaha menyayangi Aiden, jauh di dalam dirinya masih ada rasa benci itu. Dia tidak mengetahui bagaimana cara melepaskan rasa benci itu. Kebencian itu seakan memakan rasa sayang Amara kepada Aiden.
Setelah mengurus hal yang diperlukan, Amara berjalan keluar dari kantor polisi diikuti oleh Aiden. Tanpa paksaan Amara memilih untuk menjaga Aiden. Dia tidak mengetahui apakah ini adalah tindakan yang tepat. Amara hanya merasa lelah dan ingin semua ini berakhir, dia bahkan tidak mempunyai keberanian untuk bertemu dengan ibunya. Hati Amara terasa berat seakan membeku. Amara tidak mengetahui harus memasang ekspresi apa di wajahnya, bahkan tidak tahu harus merasa apa. Dia ingin menangis, marah dan menyerah. Namun, dia tidak tahu harus mengekspresikan yang mana.
“Masukkan tas kamu ke bagasi,” ucap Amara tanpa ekspresi sama sekali. Semua orang menyadari bahwa Amara terlihat muak dengan Aiden. Daisy dan suaminya hanya memperhatikan Amara, mereka berhenti tepat di depan pintu mobil, melihat ke seberang di mana mobil Mia di parkir. Mia sendiri menyuruh Ian masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh Ian menunggu.
“Aiden, apa kamu mau satu mobil dengan Amara?” tanya Mia, berusaha bersikap ramah. “Aku bisa ikut Mama dan Papaku.”
“Aku—”
“Tidak perlu, mobil kamu muat, Mia,” ucap Amara, memotong ucapan Aiden dan menatap Mia.
“Apa Kakak masih marah?” tanya Aiden.
“Tentu saja! Siapa yang tidak marah!” jawab Amara dengan tegas.
“Aku minta maaf, Kak. Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku membiarkan Ian ikut dengan aku. Kak, aku benar-benar minta maaf. Tolong, maafkan aku,” ucap Aiden dengan mata berkaca-kaca sambil menggenggam lengan Amara.
“Maaf saja tidak cukup, Ian hampir mati!” ucap Amara dengan penuh amarah. “Aku tidak peduli jika kamu pergi menemui ibu karena aku tahu kamu adalah orang bodoh. Kamu tidak pernah menggunakan otak kamu sama sekali! Dan kamu masih berani berpikir kalau ibu menyayangi kamu. Orang yang sayang dengan kamu tidak akan melukai kamu! Kamu hanya terlalu bodoh untuk menyadari hal itu!”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?!” tanya Aiden dengan isak tangis. “Tidak ada yang menyayangi aku, Kakak selalu bersikap dingin denganku, seakan Kakak tidak mau berurusan dengan aku! Aku bahkan ragu jika Kakak benar-benar menyayangi aku. Aku bingung! Aku tidak tahu harus melakukan apa! Ibu adalah satu-satunya orang yang … ada untukku.”