Amara selalu berpikir bahwa tidak ada gunanya membenci anak berusia delapan tahun, karena pada akhirnya Aiden hanyalah anak-anak. Namun, dia hanyalah remaja yang muak dengan hidupnya saat itu. Dunia ini memang tidak adil, tetapi ketika Amara melihat Mia, dia merasa dunia hanya tidak adil padanya. Amara tidak iri dengan Mia, dia merasa senang memiliki teman yang naif akan dunia ini. Mia selalu bercerita bagaimana dia tidak memiliki teman sama sekali karena pernah dirundung. Amara masih mengingat bagaimana Mia mengatakan bahwa Amara adalah satu-satunya orang yang baik kepada Mia.
Mungkin itulah cara Aiden memandang Amara, sebagai orang yang lebih beruntung. Aiden selalu merasa kagum kepada Amara yang penuh dengan keberanian, tetapi dia terlalu malu untuk mengatakan itu kepada Amara. Aiden merasa tidak kuat mengetahui Amara membenci dirinya. Namun, mengapa seseorang yang membenci Aiden ingin membantunya? Hal itu terdengar tidak masuk akal. Amara bisa saja mengusir Aiden, meminta Mia untuk tidak menolong Aiden, dan meninggalkan Aiden seorang diri tanpa siapa pun. Namun, Amara tidak melakukan itu.
Selama seminggu Aiden berada di toko, Amara enggan menyapa ataupun menatapnya. Amara hanya berbicara soal pekerjaan, membuat Aiden merasa asing. Setiap hari Aiden melihat Amara berbicara dengan Charlie dengan senyum yang begitu lebar. Amara terlihat bahagia, tetapi dia enggan menunjukkan hal itu kepada Aiden. Namun, Aiden bukanlah anak yang bodoh. Aiden hanya bisa memandangi ponselnya dan bertukar pesan dengan temannya, sedangkan Amara berbicara dengan Charlie di luar toko.
“Siapa yang menyuruh kamu bermain handphone? Kalau ada maling bagaimana,” ucap Amara saat masuk ke dalam toko.
Aiden langsung menaruh ponselnya. “Tapi Kakak di depan, jadi maling tidak akan masuk,” balas Aiden, merasa sedikit kesal. “Tidak mungkin Kakak sesibuk itu dengan pacar Kakak hingga tidak ada kalau ada yang masuk.”
“Siapa yang kamu hubungi? Aku lihat jari kamu cepat sekali mengetiknya,” sindir Amara. “Apa kamu menghubungi ibu?” tanya Amara langsung pada intinya.
“Tidak! Aku sedang bertukar pesan dengan teman-temanku,” jawab Aiden dengan cepat. “Aku tahu ibu sudah keluar dengan uang tebusan, tapi aku tidak ingin menghubunginya. Apa itu membuat Kakak senang?” Amara terkejut mendengar itu, sejak kapan Aiden peduli tentang kesenangan Amara. Kata-kata itu seakan berlawanan dengan sikap Aiden.
“Tidak, untuk apa aku senang? Aku tidak ingin memikirkan nasib ibu sama sekali, kamu juga harusnya. akan keterlaluan jika kamu masih berpikir untuk kembali kepada ibu,” ucap Amara dengan jelas.
Amara pergi ke dalam dapur, mengambil cupcake yang sudah dihias dan menaruhnya di showcase samping meja kasir. Amara menata cupcake-cupcake itu dengan hati-hati, tanpa berpaling sedikitpun. Untuk sekilas Amara menyesal memilih untuk tinggal, daripada ikut dengan Mia yang sedang berbelanja. Amara bisa melihat Aiden yang sedang mengetik dari sudut matanya. Sekilas Amara melihat Aiden tersenyum tipis, membuat Amara menyadari bahwa Aiden tidak pernah membahas temannya. Menyadari bahwa Aiden tidak pernah menceritakan apa-apa kepada Amara.
“Kamu tidak pernah pergi keluar bersama teman kamu,” celetuk Amara.
Aiden langsung menaruh ponselnya sekali lagi. “Ah, jarang ada waktu. Lagi pula, sekarang aku sibuk bekerja.”
“Sibuk bertukar pesan,” sindir Amara, membuat Aiden mengalihkan pandangannya. “Kamu kalau butuh apa-apa bilang saja ke aku. Aku bukanlah peramal yang bisa mengetahui isi kepala kamu, jadi kamu harus bilang. Kalau hanya tempat pensil rusak atau sepatu yang jelek, pasti aku tahu. Tapi yang lain aku tidak tahu.”
“Aku tidak ingin merepotkan Kakak,” balas Aiden sambil menggenggam erat ponselnya.
“Kamu tanggung jawab aku, aku yang memilih itu. Jika aku tidak mau, sudah aku biarkan kamu dibawa ke panti asuhan,” ucap Amara dengan tegas. Amara menatap Aiden dan menegur Aiden, “Kamu tidak perlu menunduk kalau Kakak berbicara. Kamu tidak akan berubah menjadi batu.”
Aiden mengangkat kepalanya dan menatap Amara. “Maaf, aku terbiasa dengan hal itu.”
“Kamu harus mencoba pusat rehabilitasi yang aku sarankan, agar kamu merasa lebih baik.” Amara berjalan ke arah dapur, tetapi sebelum dia benar-benar masuk ke dalam dapur, dia berhenti. “Pergilah bermain bersama teman-teman kamu, biar Kakak yang jaga toko.” Amara merogoh kantong apron miliknya dan mengambil beberapa lembar uang dari kantongnya. Tanpa mengucapkan apa-apa, Amara langsung memberikan uang itu kepada Aiden.
“Ah, kebanyakan, Kak.” Aiden berusaha menaruh dua lembar uang ke dalam kantong apron Amara. Namun, Amara langsung menghalangi tangan Aiden.
“Kalau kamu bilang tidak, Kakak akan marah besar kepada kamu.”
Tanpa mengatakan apa-apa, Aiden langsung memeluk Amara dengan begitu erat. “Terima kasih, Kak,” bisik Aiden dengan suara yang begitu kecil. Dengan ragu, Amara menaruh salah satu tangannya di punggung Aiden dan mengusapnya. Entah mengapa, mata Amara dipenuhi dengan butiran air mata yang akan terjatuh. Menyadari bahwa dirinya tidak mengingat kapan terakhir kali Aiden memeluknya seperti ini. Saat Aiden melepaskan pelukan, Amara berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. Setelah pelukan itu, Aiden langsung mengambil ponselnya dan pergi keluar dari toko, tidak menyadari mata Amara yang berkaca-kaca. Bagaimana Aiden bisa menyadari hal seperti itu jika dia jarang menatap Amara.