Ketika Amara berjalan menjauh dari toko miliknya, dia selalu berpikir bahwa semua ini tidak nyata. Amara tidak pernah memiliki cita-cita ataupun mimpi karena dia tidak mempunyai waktu untuk hal seperti itu. Amara hanya berjalan mengikuti apa yang dunia rencanakan untuk dirinya. Semua terasa begitu indah, walau tidak sempurna. Tidak pernah dalam seribu tahun Amara berpikir dia akan berakhir seperti ini, memiliki tujuan hidup dan orang yang menyayangi dirinya. Semua tidak berakhir ketika dia meninggalkan kehidupan lamanya. Dia berhasil menjalani hidupnya dengan keadaan bernyawa, hal yang tidak pernah dia duga.
Amara selalu merasa takut, takut dirinya tidak akan pernah menemukan cinta. Amara selalu merasa takut jika dia akan memilih lelaki yang salah, seperti ibunya. Tidak ada lelaki baik di dunia ini, ibunya selalu mengatakan hal seperti itu. Untuk sesaat Amara mempercayai hal itu, tetapi dia tidak yakin. Dia tidak ingin Ian ataupun Aiden tumbuh menjadi lelaki yang tidak baik. Amara tidak ingin membuang waktunya membesarkan seseorang yang memiliki hati busuk. Hal itu terasa sulit karena Amara tidak pernah merasa dirinya adalah orang yang baik. Amara selalu berpikir bagaimana rasanya menjadi orang tua dari seorang pembunuh? Hal itu pasti menyeramkan.
“Amara, kenapa kamu diam saja?” tanya Charlie.
Amara berhenti melamun, menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam mobil Charlie. Amara melihat sekitar, melihat lampu merah yang begitu terang, dia bahkan tidak menyadari kalau mobilnya sedang berhenti.
“Apa kamu tidak suka filmnya?” tanya Charlie, mengingat mereka baru saja berkencan ke sebuah bioskop.
“Tidak, filmnya lumayan,” ucap Amara dengan singkat, tetapi dia menyadari bahwa dirinya terkesan kasar. “Dan aku sangat menyukai kencan kita, pilihan kamu bagus sekali. Untuk sesaat aku mengira kamu akan memilih film tentang mobil-mobilan.”
Charlie tertawa kecil. “Aku tidak secinta itu dengan mobil.” Charlie berhenti tertawa sejenak. “Kamu terlihat seperti orang yang banyak pikiran.”
“Aku selalu banyak pikiran, tapi kencan kita membantuku untuk relax sebentar,” ucap Amara dengan enteng.
“Aku tebak, pasti tentang adik kamu.”
“Tentu saja, apalagi,” balas Amara sambil menghela napas. “Andai aku anak satu-satunya seperti kamu.”
“Sebagai anak satu-satunya yang tidak tahu apa-apa tentang persaudaraan.” Amara tertawa mendengar hal itu. “Aku sarankan kamu dan Aiden berbicara tentang apa pun masalah yang kalian miliki. Selain itu, Aiden masih remaja, kita semua pernah melakukan hal bodoh saat remaja.”
“Kamu terdengar seperti kutu buku, tidak mungkin kamu membuat masalah saat remaja,” goda Amara sambil tertawa kecil.
“Aku memang tidak pernah membuat masalah, tapi semua orang berbeda-beda. Aku yakin kamu banyak membuat masalah saat remaja.”
“Itu benar, bahkan masalah yang besar.” Amara terdiam sejenak, berpikir betapa bodohnya seorang remaja, terutama Aiden yang tidak bisa mengatur perasaannya. “Baiklah, aku akan ikuti saran kamu, tapi kalau itu tidak berhasil, kita tidak akan makan siang bersama selama seminggu.”
“Baiklah, aku masih bisa melihat kamu dari kejauhan,” ucap Charlie tanpa berpikir. “Melihat kamu dari kejauhan terdengar seperti kegiatan penguntit.” Amara tertawa mendengar itu.
Lampu merah berganti menjadi hijau dan Charlie kembali fokus mengemudi. Amara sendiri kembali tenggelam dengan pikirannya. Berpikir tentang bagaimana Charlie begitu tenang setelah mengetahui semua masalah yang Amara miliki. Amara menyukai bagaiamana Charlie selalu berusaha tidak menghakimi, selalu mengatakan bahwa setiap orang memiliki masalah masing-masing. Charlie selalu bercerita bagaimana ibunya bekerja sebagai pekerja sosial, dari pekerjaan ibunya, Charlie melihat berbagai macam manusia. Charlie selalu bercerita tentang ibunya dan Amara senang mendengarkan hal itu, mengetahui bahwa Charlie tumbuh dengan ibu yang penyayang.
Amara selalu memaksa Charlie untuk bercerita kepada dirinya karena dia ingin mendengar masalah yang Charlie alami. Amara ingin Charlie bercerita, bukan hanya menjadi pendengar. Charlie selalu bercerita tentang harinya, hal yang simpel, tetapi membuat Amara senang. Charlie bahkan bercerita tentang ibunya yang memiliki kanker dan bagaimana ibunya meninggal karena kanker. Amara tidak bisa membayangkan hal itu, kehilangan seseorang yang begitu disayangi. Bahkan sebenci apa pun Amara terhadap Aiden, dia selalu berdoa agar Aiden diberi kesehatan.