Buah Yang Menyatu

Lilian
Chapter #9

Tidak Ada Yang Terjadi Jika Kau Mengabaikannya

Pergantian tahun semakin dekat, tidak ada yang berubah sama sekali. Amara selalu merasa bahagia saat pergantian tahun, perayaan itu selalu mengingatkan Amara akan betapa jauh dirinya sudah berusaha. Mengingat bahwa dia mengambil keputusan yang tepat untuk kebaikan dirinya maupun adiknya. Namun, tahun ini terasa beda, Amara tidak merasa bahagia sama sekali. Dengan keluarganya yang berantakan, tidak ada yang bisa dirayakan. Amara tidak bisa berhenti memikirkan tentang Aiden, selalu bertanya kepada Mia bagaimana keadaan Aiden, seakan enggan bertanya langsung. Amara mengetahui dia seharusnya merasa marah kepada Aiden, tetapi pada akhirnya kemarahan itu hanya memperburuk keadaan.

Saat berada di rumah Mia, Aiden jarang sekali berbicara dengan siapa pun. Dia hanya akan pergi bersekolah dan berdiam diri di kamar. Ketika Aiden berusaha membantu, orang rumah selalu menolak bantuannya. Terkadang Henry berbicara dengan Aiden, membahas keadaan Ian dan hal lainnya. Aiden merasa Henry sudah mengetahui apa yang terjadi, tetapi memilih untuk menutup mulutnya. Hal itu benar adanya, Ian menceritakan segalanya kepada Henry dan membuat Henry berjanji untuk tidak mengatakan apa pun kepada Aiden.

Hari ini, Mia meminta Aiden untuk datang ke toko. Beberapa hari yang lalu, Mia tidak sengaja mendengar Aiden yang membutuhkan uang untuk sekolahnya, tetapi Aiden menolak bantuan dari keluarga Mia. Setelah memutar otaknya selama berhari-hari, Mia menawarkan Aiden untuk bekerja di toko, tanpa persetujuan Amara. Jika Amara mengetahui hal ini, pasti dia akan menolak mentah-mentah. Selain itu, Mia ingin hubungan Amara dan Aiden membaik.

Ketika Amara sedang menata kue-kue di dalam lemari es, dia melihat Aiden yang berdiri di depan toko. Amara berpura-pura tidak melihat dan kembali menata kue-kue itu. Aiden menyadari hal itu dan tetap memilih masuk. Saat Aiden masuk, Amara segera pindah ke tempat showcase kue dan merapikan tatanan kue di situ. Tidak ada yang perlu dirapikan, Amara hanya ingin terlihat sibuk.

Tak lama Mia keluar dari dapur. “Hai, Aiden,” sapa Mia dengan senyum yang manis.

“Apa yang dia lakukan di sini?” tanya Amara, enggan menatap Aiden.

“Aiden akan membantu kita, melayani pelanggan dan membersihkan toko kita,” jawab Mia dengan yakin.

“Iya, aku akan bekerja di hari libur,” ucap Aiden sambil menundukkan kepalanya.

Mendengar itu Amara langsung menarik Mia masuk ke dalam dapur. Amara tidak mengira ide ini adalah ide yang bodoh, tetapi mereka tidak membutuhkan bantuan. Keputusan Mia seakan menghamburkan pemasukan mereka. Namun, Amara mengetahui hari ini akan datang, di mana Mia mempekerjakan seseorang. Mia selalu mengeluh untuk mempekerjakan orang lain bukan tanpa alasan.

“Apa kamu gila?! Kita tidak punya dana untuk mengaji anak itu!” ucap Amara sambil berbisik.

“Tenang saja, papaku yang akan membayar Aiden. Jadi, uang toko tetap sama,” balas Mia.

“Mia, kamu tahu aku tidak suka bantuan dari ayah kamu. Lagipula, untuk apa Aiden bekerja di sini? Dia tidak bisa membuat kue, dan aku tidak akan menjadikan adikku orang yang kamu suruh-suruh.”

“Ayolah, Mara. Dia membutuhkan uang dan tidak mau menerima bantuan dari keluargaku. Jadi, aku membantunya dengan menyuruhnya bekerja untuk kita,” ucap Mia dengan yakin.

Amara menghela napasnya. “Sebelum aku setuju, apa yang akan dia lakukan? Jangan suruh dia bekerja yang berat-berat,” balas Amara yang membuat Mia tersenyum, mengetahui Amara masih peduli dengan adiknya. “Bagaimana kalau kasir dan bersih-bersih meja? Tidak termasuk dapur. Mungkin menerima pesanan dan mencatatnya.”

“Baiklah, kalau itu mau kamu. Aku tidak memaksa sama sekali,” ucap Mia dengan sombong.

Amara hanya terdiam dan merasa kesal, melihat itu Mia langsung berlari keluar. “Eh, jangan kabur! Semua ini salah kamu!” Amara segera mengejar Mia hingga mereka berada di luar dapur, di mana Aiden berada. Melihat Aiden, Amara langsung berhenti dan berpura-pura seakan tidak ada yang terjadi.

Ketika Amara menatap Aiden, Aiden langsung tersenyum tipis ke arah Amara. Amara tidak mengetahui apakah dia harus membalas senyuman itu, dia memilih untuk mengalihkan pandangannya. Amara ingin merasakan amarah yang besar terhadap Aiden, tetapi dia mengetahui bahwa Aiden hanyalah anak yang tersesat. Keputusan yang Aiden pilih adalah keputusan yang bodoh. Namun, Amara bisa merasakan bahwa Aiden begitu menyesali keputusannya yang gegabah itu, dan Amara tidak mengetahui harus memaafkan Aiden atau tidak.

“Kamu bisa bekerja di sini,” ucap Amara kepada Aiden. “Jangan mencuri ataupun merusakan barang.” Amara pergi ke meja kasir dan mulai menghitung uang yang ada, sebelum membiarkan Aiden menjaganya. “Jika Mia meminta hal yang aneh, tolak saja. Pokoknya, kamu dengarkan aku saja.”

“Hei! Tidak adil,” keluh Mia. Namun, Amara langsung menatap Mia dengan tajam, membuat Mia sedikit takut.

“Kemarilah, Aiden, biar aku ajarkan.” Aiden langsung menghampiri Amara dengan jalan yang canggung. Amara langsung menunjukkan cara menggunakan mesin kasir dengan jelas dan singkat. Mia sendiri hanya duduk diam membiarkan kedua saudara itu akur, hal yang jarang.

“Baiklah, aku mengerti, Kak Amara,” ucap Aiden dengan canggung.

Lihat selengkapnya