Tanpa disadari, dua hari lagi tahun akan berganti. Amara dan Mia di penuhi oleh kesibukan dengan pesanan kue yang begitu banyak. Mereka bekerja lebih dari seminggu tanpa henti, hingga mereka memutuskan untuk cuti lima hari sebelum tahun baru tiba. Namun, mereka tidak bisa beristirahat sepenuhnya karena Daisy membutuhkan bantuan mereka dalam mendekorasi rumah untuk pesta tahun baru. Pesta yang tidak begitu besar, hanya keluarga dan kerabat jauh.
Di lain sisi, Ian dan Henry sudah mendapatkan libur sekolah dari hari natal hingga tahun baru. Kedua anak itu menghabiskan waktu libur mereka dengan melakukan hal yang tidak jelas, seperti melakukan eksperimen yang tidak masuk akal. Terakhir kali mereka mencoba untuk membekukan kaleng soda tanpa alasan yang jelas. Mereka juga sibuk menjahili orang-orang disekitar. Semakin banyak mereka berulah, semakin banyak hukuman yang akan mereka terima.
Berbeda dengan Aiden yang hanya berdiam diri di kamarnya. Sudah seminggu berlalu semenjak dirinya berbicara dengan Amara, dan Amara membolehkan Aiden tinggal bersamanya. Kali ini Amara mengosongkan gudang rumahnya agar Aiden bisa menepatinya. Bahkan Amara menyiapkan semuanya dari membeli ranjang, lemari, hingga meja belajar untuk Aiden. Saat mengetahui hal itu, Aiden tidak bisa mengatakan apa-apa, selain berterima kasih berulang kali akan kebaikan yang tidak pernah dia duga.
Malam ini tidak ada bedanya, Aiden hanya terdiam di dalam kamarnya. Dia mendengar suara televisi yang diputar begitu kencang oleh Ian. Hal itu terkesan menyebalkan, tetapi Aiden membiarkan hal itu. Aiden bukanlah orang yang tega dalam menegur seseorang, jadi dia hanya membiarkan semua itu. Aiden terduduk diam di ranjangnya, memikirkan apa yang akan dia lakukan sekarang. Dia hanya memandangi dinding sekitar dengan pikiran yang penuh. Pikiran Aiden selalu penuh, bagaikan perempatan yang selalu ramai. Aiden melupakan kapan terakhir kali pikirannya terasa tenang.
“Ian, kecilkan suara TV-nya!” Teriak Amara ketika masuk ke dalam rumah. “Kakak tidak ingin mendengar protes dari tetangga lagi, dan jika kamu masih ingin mendengar dengan jelas, jangan menonton TV kencang-kencang.” Aiden tertawa mendengar itu, mengingat tembok rumah yang begitu tipis, apa pun bisa terdengar.
“Ih, tidak seru!” keluh Ian yang langsung mengecilkan volume televisi. “Kakak habis dari mana?”
“Membantu Mia mendekorasi rumah,” jawab Amara sambil menaruh tasnya di meja. “Kakak bawakan ayam goreng. Mau makan tidak?”
Ian langsung berlari ke arah meja makan dan berkata, “Tentu saja mau!”
Amara hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat Ian yang langsung berusaha membuka kotak ayam goreng. Amara membiarkan Ian dan berjalan menuju kamar Aiden, berharap anak itu belum tidur sama sekali. Setiap pagi sebelum matahari terbit, Amara selalu mendengar tangisan keluar dari kamar Aiden, tetapi dia membiarkan itu. Merasa Aiden pantas untuk menangisi semua masalahnya. Amara sudah berusaha menjadwalkan Aiden untuk berkunjung ke rumah sakit, tetapi semua jadwal begitu penuh dan jadwal yang kosong hanya ada setelah tahun baru. Amara terpaksa menangani Aiden seorang diri, hal yang terkesan sulit untuk Amara.
“Aiden, apa kamu sudah tidur?” tanya Amara sambil mengetuk pelan.
Aiden berdiri dari duduknya dan langsung membuka pintu kamarnya. “Tidak, kenapa, Kak?”
“Kakak belikan ayam goreng. Ayo, makan,” jawab Amara, berusaha tersenyum tipis.
“Tapi aku sudah makan tadi dan sudah kenyang,” ucap Aiden. Memang Amara meninggalkan makan malam untuk Ian dan Aiden, tetapi Aiden tidak menghabiskan makanannya. Dia membiarkan Ian menghabiskan sisa makanannya.
“Sudah makannya tadi, bukan sekarang. Ayo, makan.” Amara langsung berjalan ke dapur, tidak ingin bertengkar hanya karena sebuah makanan dengan Aiden.
Aiden terpaksa mengikuti kakaknya, dia berencana untuk makan sedikit saja. Ketika Aiden sampai di dapur, dia melihat Ian yang sudah memakan satu potong ayam goreng. Andai Aiden bisa makan secepat itu, dia selalu merasa dirinya terlalu lama dalam menghabiskan makanan. Melihat Amara yang duduk di samping Ian, Aiden langsung duduk di hadapan Amara. Tanpa Aiden pinta, Amara langsung menaruh dua potong ayam goreng yang memiliki daging paling banyak. Aiden hanya terdiam, tidak ingin memprotes sama sekali.
“Aiden, apa kamu punya rencana untuk tahun baru?” tanya Amara secara tiba-tiba.
“Tidak, teman-temanku mengajak berpesta, tapi mereka ingin minu—” Aiden terdiam seketika dan melirik ke arah Ian yang sibuk memakan ayam gorengnya. “Aku tidak suka konsep pestanya.”
“Bilang saja ingin minum-minum, aku tidak bodoh, tahu,” balas Ian.
“Jangan berbicara sambil makan,” tegur Amara kepada Ian. “Kalau kamu tidak punya rencana. Kamu datang saja ke tempat Mia, keluarganya selalu mengadakan pesta bakar-bakaran. Aku dan Ian juga akan datang.”
“Apa tidak apa-apa? Aku diam saja di rumah,” balas Aiden merasa tidak enak.
“Datang saja, Kakak akan lebih khawatir jika kamu tidak datang,” ucap Amara dengan jelas. “Siapa tahu kamu keluar diam-diam dan pergi ke pesta minum-minum temanmu,” canda Amara, membuat Ian tertawa mendengar itu.