Buah Yang Menyatu

Lilian
Chapter #13

Kata Yang Mematikanku

Semua ini salahmu.

Kalimat yang tertera di dalam surat terakhir dari wanita itu. Aiden membaca keseluruhan surat itu, di mana dirinya terdengar seperti orang jahat. Surat itu membuat Aiden merasa seperti orang yang jahat. Dia tidak ingin menangisi ibunya yang sudah tiada, dia tidak ingin memberikan wanita itu rasa puas. Namun, dia tidak bisa membawa dirinya sejauh itu. Mungkin Amara bisa melakukan hal itu, tetapi tidak dengan Aiden. Aiden akan merasa bersalah sepanjang hidupnya, menyesali keputusan yang diambil.

Aiden hanya terduduk di bangku rumah sakit, membaca ulang surat terakhir dari sang ibu. Ketika Amara datang, Aiden tidak terkejut, pelarian Aiden bukanlah pelarian yang bagus. Amara tidak berbicara apa pun kepada Aiden, dia sibuk mengurus dokumen-dokumen yang harus dia isi untuk ibunya yang sudah tiada. Mengingat mereka adalah satu-satunya keluarga dari ibu mereka. Menangani kematian ibunya adalah mimpi terburuk Amara, dia tidak peduli kepada ibunya untuk mengurus hal seperti ini.

“Jangan dibaca terus.” Amara mengambil surat itu dari tangan Aiden dan membuangnya.

Amara menggenggam Aiden untuk keluar dari rumah sakit, dan Aiden hanya mengikuti Amara bagaikan anak kecil. Mereka pulang menggunakan taksi, kembali ke rumah Mia untuk menjemput Ian. Dengan padatnya jalan di malam tahun baru, perjalanan terasa begitu lama. Mereka menghabiskan pergantian tahun di dalam taksi yang terasa begitu hening. Amara hanya bisa melihat keluar jendela mobil, melihat kembang api yang menyala begitu terang. Ibunya selalu memiliki cara untuk menghancurkan hal yang Amara sukai.

Di rumah Mia, Aiden hanya terdiam melihat Ian yang sudah tertidur di samping Henry. Amara menyuruh Aiden untuk membangunkan Ian agar mereka bisa pulang, tetapi Aiden tidak memiliki tenaga untuk hal itu. Dia hanya terduduk di lantai, menyembunyikan wajahnya di dalam lututnya. Tangisan seakan tidak keluar dari mata Aiden, bagaikan tidak ada air mata yang tersisa. Aiden yang selalu menangis dalam diam tiba-tiba tidak bisa menangis lagi, terasa aneh.

“Aku baik-baik saja, Mia,” ucap Amara yang sedang mengambil tas miliknya yang tertinggal di dapur.

“Jangan berbohong, ibu kamu baru saja meninggal dan kamu pergi tanpa bilang ke siapa-siapa. Semua orang khawatir,” protes Mia.

“Tentu saja, aku berbohong. Saat mati saja wanita itu masih bisa merepotkan aku. Aku tidak ingin mengurus mayatnya ataupun pemakamannya. Dia tidak berarti untukku,” ucap Amara sambil menahan air matanya. “Maaf, aku menghancurkan pesta ini.”

“Lupakan pesta membosankan ini. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Mia, merasa penasaran dengan kematian ibu Amara yang terkesan begitu tiba-tiba.

“Overdosis, mungkin heroin dalam jumlah yang tidak wajar. Jadi, bunuh diri. Aku bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa keluar dari penjara, mungkin salah satu pacar bodohnya membebaskan dia,” jawab Amara dengan penuh amarah.

“Kamu terdengar marah. Seharusnya kamu senang kalau dia sudah tidak ada.”

“Dia meninggalkan surat tidak jelas, menyalahkan Aiden. Aku tidak tahu, aku rasa Aiden sangat terpengaruh oleh surat bodoh itu. Siapa pun yang memiliki akal sehat akan menganggap surat itu bodoh, tapi tidak dengan Aiden,” ucap Amara, mengeluarkan air mata frustasi. “Kenapa wanita itu selalu mempersulit hidupku? Aku rasa dia lebih baik hilang daripada mati.”

Mia tidak mengatakan apa pun dan langsung memeluk Amara. “Aku jarang melihat kamu menangis.”

“Aku tahu, sekarang aku terlihat bodoh,” balas Amara sambil tertawa kecil.

Setelah berpelukan, Amara melihat ayahnya Mia yang sedari tadi menunggu mereka selesai berpelukan. Amara hanya bisa tersenyum dan berusaha menghapus air matanya. Untuk kali ini senyuman terasa sulit terbentuk di wajah Amara, tetapi Amara memaksakan hal itu. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun, terutama ayahnya Mia, orang yang selalu berusaha membantu Amara dan adik-adiknya.

“Apa kamu baik-baik saja, Amara?” tanya pria tua itu.

Lihat selengkapnya