PERINGATAN: KONTEN MENGANDUNG PERCOBAAN BUNUH DIRI, MOHON BIJAK DALAM MEMBACA!
terburuk dari sebuah situasi, entah itu situasi yang penting atau bukan. Amara selalu berusaha berpikir bahwa pasti hal baik akan datang pada waktunya, tetapi berpikir positif tidak semudah itu. Dia tidak bisa mengganti semua pikiran buruk yang ada, pikiran itu tidak bisa hilang begitu. Ketika semua sudah berjalan dengan baik dan Amara bisa menidurkan semua pikiran buruknya, hal buruk terjadi.
Amara mengira kematian ibunya adalah akhir dari penderitaan yang dia alami. Namun, sekali lagi dia salah. Hari ini tidak ada hujan yang turun, langit terlihat cerah, dan malam terasa damai. Bulan bisa terlihat jelas, tidak ada kabut yang menutupnya. Hari yang indah, di mana Amara tidak berhenti mendapatkan pesan dari orang-orang menyatakan bela sungkawa mereka. Dirinya sedikit menyesal memberi tahu semua orang itu kalau ibunya sudah tiada, entah mengapa Amara melakukan itu. Sekarang dia mengetahui kerabat jauh yang sebelumnya tidak dia tahu.
Ketika Amara tiba di rumahnya, dia melihat Ian yang sedang menonton televisi. Entah berapa lama anak itu terduduk diam. Namun, Ian menyadari kehadiran dan mengatakan bahwa Aiden mengunci pintu kamarnya. Ian merasa aneh karena mereka baru saja berbicara dan setelah itu Aiden mengurung dirinya. Ian bisa mendengar suara Aiden mengusir Ian, mengatakan dirinya ingin waktu seorang diri. Amara tidak terlalu memikirkan hal dan menyuruh Ian untuk pergi ke kamarnya dan tidur, hal yang langsung Ian lakukan tanpa bertanya apa pun.
Amara pergi ke dapur, menuangkan dirinya segelas air putih. Amara terdiam sejenak, bertanya kepada dirinya apakah ibunya benar-benar sudah tiada. Amara selalu berjanji kepada dirinya bahwa dia akan berpesta ketika ibunya tiada, tetapi dia tidak merasa seperti itu ketika ibunya benar-benar tiada. Ketika Amara berjalan ke kamarnya, dia melirik ke kamar Aiden. Aneh, malam itu Amara tidak mendengar tangisan Aiden sama sekali. Amara harusnya merasa senang jika Aiden tidak menangis lagi, tetapi dia merasa khawatir. Tanpa berpikir dua kali, Amara mengambil kunci cadangan dan membuka kamar Aiden secara perlahan.
Aiden hanya terbaring di ranjangnya dengan tubuh membelakangi pintu masuk. Namun, hal itu tidak menyakinkan Amara, dia memilih untuk masuk dalam keadaan kamar yang gelap. Amara menyentuh bahu Aiden, berusaha mengecek apakah Aiden baik-baik saja. Wajah Aiden terlihat begitu pucat walau dalam kegelapan. Amara berusaha membalikkan tubuh Aiden agar Aiden terlentang. Entah mengapa Amara melakukan hal itu, hatinya hanya menyuruhnya dan Amara melakukannya. Ketika Amara ingin merapikan tangan Aiden, dia bisa merasakan pergelangan tangan Aiden yang terasa basah. Amara tidak bodoh, dia mengetahui apa yang baru saja dia sentuh. Amara menaruh telinganya di dada Aiden, dia merasakan detak jantung Aiden yang terdengar kecil.
Malam itu Amara menelepon ambulans. Paramedis datang untuk membantu Aiden dan Amara pergi ke kamar Ian, ketika dia tahu Aiden sudah berada di tangan yang tepat. Ian belum tertidur sama sekali, dia mendengar suara mobil ambulans yang terdengar begitu dekat dari rumahnya. Namun, Ian enggan keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi. Ketika Amara masuk, Ian merasa lega.
“Kak, kenapa berisik sekali?”
“Ah, kamu belum tidur.”
“Tidak bisa tidur.”
“Kakak yang paling ambulans, sakitnya Aiden semakin parah dan butuh bantuan segera.”
“Apa Kak Aiden akan baik-baik saja?”
“Tentu saja. Kakak akan ikut bersamanya, dan kamu akan tunggu disini.”
“Kenapa aku tidak boleh ikut?”
“Kamu masih kecil. Nanti kalau Kak Aiden sudah membaik, baru kamu boleh berkunjung.”
“Oke, tapi Kakak jangan sakit juga.” Ian memeluk Amara dengan begitu erat. Saat itu Amara berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis sama sekali. “Kak Aiden pasti akan sembuh.” Amara hanya menganggukkan, berharap Aiden akan baik-baik saja. Amara tidak akan pernah memaafkan wanita itu jika Aiden tiada karenanya.
***
Hidup yang selalu Aiden impikan, hidup di mana keluarganya adalah keluarga yang bahagia. Di mana dirinya dan Amara tidak memiliki ayah yang berbeda. Di mana Ibunya menyayangi dirinya dan mengajarkan dia apa yang harus dilakukan. Di mana ayahnya akan mengajarkan dia bagaimana menjadi pria yang baik. Di mana kakaknya akan menjadi temannya dan orang yang panuti. Lalu, dirinya akan dikagumi oleh adiknya sendiri. Hidup yang sempurna. Namun, itu hanyalah mimpi, bagaikan ikan yang bermimpi bisa berjalan di daratan. Ikan yang bodoh.