Kelahiran Ian bukanlah hal yang diinginkan. Suatu hari wanita itu kembali dalam keadaan hamil, bahkan kedua anaknya tidak mengetahui hingga perutnya membesar. Selama Ian berada di dalam kandungan, Amara tidak pernah melihat siapa sosok pria yang menghamili ibunya. Amara berusaha bertanya, tetapi jawaban wanita itu selalu berbeda. Amara sudah membayangkan bagaimana adik keduanya akan berakhir seperti Aiden. Aiden terus mengatakan bagaimana dia akan membunuh adiknya saat adiknya lahir. Entah bagaimana, Amara berhasil membuat Aiden meninggalkan ide bodoh itu.
Ketika Ian lahir, Amara sibuk mengurus anak itu. Ibunya enggan memberikan makanan yang layak untuk Ian. Terkadang Amara harus menyisihkan uang miliknya untuk membeli susu balita. Ibunya hanya fokus kepada Aiden dan Aiden terlalu kecil untuk menyadari bahwa ibunya menelantarkan saudaranya secara emosional. Setiap kali Amara melihat Ian, dia tidak ingin Ian menjadi dirinya ataupun Aiden. Setiap hari Amara berusaha mencari jalan keluar. Bekerja secara diam-diam, bahkan mencari tempat untuk dirinya dan adiknya. Semua itu sepadan.
Hari ini Amara datang ke sekolah Ian untuk melihat drama teater. Ian mengatakan dirinya akan menjadi pohon, hanya sebatang pohon. Peran yang tidak penting, tetapi Amara tetap datang. Pagi ini Amara mengantarkan Aiden ke pusat rehabilitasi, berharap Aiden akan membaik. Hal itu terasa begitu menyedihkan, itulah mengapa Amara memutuskan untuk datang ke sekolah Ian. Selain itu, Amara ingin melihat Ian sebagai pohon sebelum harus menjelaskan kepada Ian mengapa Aiden pergi.
“Kamu telat,” ucap Daisy saat melihat Amara masuk ke dalam aula.
Amara duduk di samping Daisy. “Maaf, aku harus mengantarkan pesanan kue tadi,” balas Amara.
“Bagaimana Aiden? Aku dengar dia pergi hari ini,” tanya Daisy.
“Lebih baik, sedikit ragu. Tapi dia akan baik-baik saja, bukan? Bagaimana kalau dia bertemu dengan orang pemarah di sana dan terbunuh?”
Daisy langsung melihat Amara, seakan Amara kehilangan akalnya. “Dia pergi ke pusat rehabilitasi, bukan tempat yang berbahaya.”
“Kamu benar, aku tidak perlu takut,” ucap Amara, berusaha menenangkan dirinya. “Omong-omong, di mana Ian dan Henry?”
“Tidak tahu, drama ini sangat membosankan.”
“Ya, aku hanya datang untuk Ian.”
Setelah acara selesai, Ian keluar dari kostum pohonnya dan menghampiri Amara sebelum kembali belajar. Anak itu terlihat senang melihat Amara. Namun, dia berharap Aiden akan datang. Aiden tidak berjanji untuk datang, tetapi Aiden terdengar senang saat mendengar Ian akan bermain di dalam sebuah drama teater. Aiden bahkan mengatakan Ian akan menjadi pohon yang indah. Namun, Ian tetap senang Amara datang dan berharap Aiden akan datang di lain waktu.
Ketika Aiden keluar dari rumah sakit, Ian menyadari bahwa Amara menjadi begitu perhatian kepada Aiden. Selalu bertanya apakah Aiden sudah makan, selalu menghubungi Aiden setiap waktu, dan memeriksa Aiden saat Aiden tertidur. Ian merasa sedikit iri, tetapi dia mengerti bahwa Aiden baru saja sembuh. Siapa pun akan merasa khawatir. Ian bisa melihat senyuman Aiden semakin melebar ketika Amara memberi perhatian lebih kepada Aiden. Ian bisa melihat betapa Aiden menyayangi Amara, seperti dirinya.
“Kamu terlihat bagus menjadi pohon,” puji Amara sambil membenarkan rambut Ian.
“Aku gitu, lho. Tapi capek,” balas Ian, membuat Amara tertawa.
“Kenapa kamu tidak bantuan teman-teman kamu, tuh? Mereka sibuk merapikan panggung,” ucap Amara sambil melirik kepada anak-anak yang sibuk membereskan panggung dan aula.
“Nanti, ah. Omong-omong, kenapa Kak Aiden tidak datang?”
“Ah, nanti Kakak kasih tahu. Pulang sekolah ke toko, ya.”
“Baiklah kalau gitu.”
Amara masih memikirkan bagaimana dia akan membahas perkara Aiden kepada Ian. Amara sudah terbiasa mengatakan kabar buruk kepada Ian, dengan kata-kata yang diperhalus. Namun, apa yang bisa diperhalus dari keadaan Aiden. Amara tidak bisa mengatakan Aiden sudah kehilangan akalnya, hal itu tidak benar. Amara tidak bisa mengatakan bahwa Aiden mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Amara tidak menginginkan Ian merasa khawatir dan takut. Selama ini Amara berusaha menjauhi Ian dari pembahasan yang terkesan berat, seperti keadan Aiden. Amara merasa tersesat.
***
Semenjak ibunya telah tiada, Amara tidak bisa berhenti melihat pesan belasungkawa dari ayahnya. Amara belum membalas pesan itu, dia tidak mengetahui apakah dia benar-benar ingin bertemu dengan ayahnya. Dia bertanya kepada Mia dan Mia menyuruh Amara mengikuti hatinya. Mia bahkan mengatakan apakah Amara siap bertemu dengan orang yang meninggal dirinya. Apa yang Mia ucapkan tidak ada salahnya, tidak ada orang yang ingin bertemu dengan orang yang meninggal mereka. Namun, entah mengapa Amara masih ingin bertemu dengan pria itu. Sekedar bertanya mengapa pria itu meninggalkan Amara, terasa cukup.