Buah Yang Menyatu

Lilian
Chapter #16

Bagaimana Denganmu?

Terkadang keadaan selalu memburuk dan tidak ada yang bisa dilakukan, selain berharap keadaan buruk itu cepat berlalu. Badai pasti berlalu, itulah yang selalu Amara katakan kepada dirinya sendiri. Amara sudah melalui berbagai badai, entah itu masalah keluarga ataupun percintaan. Amara tidak pernah beruntung dalam masalah percintaan, antara dia bertemu pria yang salah atau dia merasa dirinya kurang untuk seseorang yang baik. Amara tidak pernah memperdulikan hal seperti itu, dia sibuk membesarkan Ian. Terkadang Amara juga ingin merasakan dunia ini hanya milik dirinya dan siapa pun orang yang dia cintai.

Terkadang Amara melupakan Charlie, yang selalu memandangi dirinya dari kejauhan. Amara selalu menyadari itu, sejak pertama kali Charlie datang ke toko dan hal pertama yang dia lihat adalah Amara. Hal itu terkesan manis jika Amara mengingatnya lagi. Satu tahun semenjak toko kue Amara dibuka dan Charlie tidak pernah berani mengajak Amara berkencan. Ketika Charlie akhirnya mempunyai keberanian itu, hidup Amara dipenuhi oleh penderitaan dan tidak ada ruang yang tersisa.

Malam ini, Amara tertinggal seorang diri untuk menutup toko. Mia pulang terlebih dahulu karena ibunya sedang sakit. Amara bisa melihat Charlie yang sedang lembur dengan membenarkan sebuah mobil yang terlihat mahal, Amara tidak mengetahui banyak tentang mobil. Charlie jarang berbicara tentang mobil, dia berpikir Amara tidak akan menyukai pembahasan seperti itu. Charlie mengetahui ketika mulutnya berbicara tentang mesin mobil Amara akan menganggapnya membosankan. Hal itu selalu berada di benak Charlie, mengapa Amara ingin berkencan dengan pria membosankan seperti dirinya.

Ketika Amara sedang membersih tempat showcase kue, suara lonceng pintu berbunyi. “Maaf, kami sudah tutup,” ucap Amara dengan intonasi yang kesal. Lampu toko jelas-jelas sudah mati dan hanya cahaya rembulan yang menerangkan toko.

“Aku tidak ingin beli apa pun,” balas Charlie dengan nada canggung.

Amara langsung berhenti dan melihat ke arah Charlie. “Oh, kamu, apa ada yang kamu butuhkan?”

“Ya, mungkin ini hanya perasaan aku, tapi kenapa kamu menghindari aku?” tanya Charlie langsung pada intinya. Bajunya masih dipenuhi oleh oli dan tangannya jelas-jelas masih terlihat hitam, apa pun yang ada di benaknya tidak bisa ditunda.

“Aku tidak menghindari kamu, aku kira kamu menghindari aku,” jawab Amara dengan enteng.

“Tidak,” ucap Charlie yang terlihat begitu terkejut. “Aku hanya memberikan kamu ruang karena aku dengar ibu kamu baru saja meninggal dan adik kamu masuk rumah sakit. Lagi pula, aku tidak tahu status hubungan kita, jadi aku tidak tahu harus melakukan.”

“Bukannya kita pacaran?” tanya Amara dengan serius.

“Sejak kapan?!” tanya Charlie dengan ekspresi terkejut.

“Aku tidak tahu,” jawab Amara dengan enteng.

Mereka sudah berkencan sebanyak lima kali, Amara rasa itu sudah cukup bagi mereka untuk menjadi sepasang kekasih. Jika Amara tidak menyukai Charlie, dia tidak akan pergi berkencan sebanyak lima kali dengannya. Hal itu jauh berbeda dari apa yang Charlie pikirkan, dia berniat untuk bertanya apakah Amara ingin menjadi kekasihnya di kencan mereka yang keenam. Charlie tidak ingin terburu-buru bagaikan binatang yang belum makan selama berhari-hari. Charlie selalu berusaha mencari jawaban apakah Amara menyukai dirinya, terkadang dia ragu, terkadang tidak.

“Lupakan soal itu, nanti kita bahas,” ucap Charlie yang tidak ingin memusingkan hal seperti itu. “Apa kamu baik-baik saja?”

Amara tertawa kecil dan mengucapkan, “Untuk apa aku tidak baik-baik saja. Tidak ada gunanya. Lagi pula, kondisi keluargaku sudah membaik, jadi kamu tidak perlu mendengar penderitaan aku lagi.”

“Baiklah,” ucap Charlie, tidak ingin menekan pembahasan itu. “Apa kamu ingin aku antarkan pulang?”

“Ayo-ayo saja, tapi aku mau jalan kaki.”

Setelah menggantikan bajunya dan membersihkan sisa-sisa oli dari tubuhnya, Charlie menemani Amara berjalan pulang. Amara tidak banyak berbicara seperti biasa. Terkadang Amara Bertanya-tanya mengapa Charlie menyukai wanita seperti dirinya, seakan tidak ada wanita lain di dunia ini. Mia bahkan memiliki sikap yang lebih ramah, tetapi Charlie memilih untuk menyukai Amara. Bagi Amara, Charlie masih membosankan, membosankan dalam hal yang bagus. Charlie tidak pernah mengajak Amara melakukan hal gila maupun ilegal, baginya itu bukan cara bagus dalam bersenang-senang. Charlie pernah mengajak Amara ke pameran mobil antik, tetapi Amara menolak. Bukan karena hal itu membosankan, tetapi karena Amara tidak mengerti apa-apa.

Charlie tidak pernah mengatakannya langsung, tetapi Amara mendengar dari orang sekitar bahwa ayahnya Charlie yang memiliki bengkel tempat Charlie bekerja. Amara suka bertanya perihal Charlie di restoran sebelah tokonya, restoran sudah berada di area itu entah sejak kapan. Pemilik restoran itu mengenal ayahnya Charlie dan Charlie, itulah mengapa Amara suka berbicara dengan pemilik restoran itu. Dari situ Amara mengetahui bahwa hidup Charlie terkesan sempurna, tidak mungkin pria seperti itu menyukai Amara. Semua orang mengetahui Charlie adalah orang yang baik, sedangkan banyak orang yang tidak menyukai Amara.

“Apa kamu terkadang merindukan ibu kamu?” tanya Amara secara tiba-tiba.

Charlie sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. “Tentu saja, setiap hari. Kalau dia ada hari ini, pasti dia akan suka sama kamu.”

Lihat selengkapnya