Semua keadaan ini dan Ian tidak terganggu sama sekali, rasanya mustahil. Ian sudah menyadari sejak awal bahwa Amara dan Aiden mungkin bersaudara, dan Ian benar akan hal itu. Amara dan Aiden terlihat begitu mirip, tidak seperti Amara dan Ian yang tidak memiliki kemiripan sama sekali. Awalnya Ian takut Amara akan lebih menyayangi Aiden, tetapi dia sadar bahwa itu tidak mungkin. Amara selalu mengatakan bahwa Ian adalah hal yang paling berharga untuk dirinya dan Ian selalu mempercayai hal itu. Ian tidak terkejut saat Amara mengatakan bahwa Aiden adalah saudara mereka ataupun saat Aiden pergi ke tempat yang bisa membantunya. Dia hanya terkejut dugaannya benar.
Ian selalu merasa kasihan kepada Aiden, dia bisa melihat bahwa Aiden tidak sehat. Terkadang Ian bertanya-tanya apakah Aiden lebih membutuhkan Amara daripada dirinya. Ian selalu melihat Aiden yang berusaha mendapatkan perhatian Amara ataupun rasa sayang dari Amara, sedangkan Ian hanya berdiam diri dan Amara sudah menyayangi dirinya. Andai Ian bisa bertanya mengapa kedua kakaknya berlaku seperti itu. Namun, Ian hanyalah anak kecil yang tidak bisa mengerti mengapa orang dewasa melakukan hal bodoh. Ian hanya berharap Aiden baik-baik saja.
Dirinya terduduk diam di toko kue, menunggu Amara dan Mia untuk kembali. Hari Minggu selalu terasa membosankan karena Amara begitu sibuk. Namun, Ian berusaha menyibukkan dirinya sendiri. Kemarin saat sedang berjalan-jalan, Ian membeli sebuah buku catatan harian. Amara pernah memberikan Ian buku yang sama dan mengatakan Ian bisa menulis apa pun di dalam buku itu. Pada akhirnya Ian hanya menulis saat dirinya merasa kesal ataupun sedih, hal yang jarang dia alami. Ian sengaja membeli buku itu untuk Aiden, mengingat Aiden sering merasa sedih, mungkin Aiden bisa menulis segala kesedihannya.
“Halo, Halo.” Charlie masuk ke dalam toko, hanya untuk menemukan toko masih gelap dan hanya Ian di dalam. “Apa yang kamu lakukan di sini? Di mana Amara?”
Ian yang sedang membungkus hadiah untuk Aiden seketika terhenti. “Kak Amara sedang mengantarkan kue bersama Kak Mia, dan aku merasa bosan, jadi aku bermain di sini.”
“Apa kamu sedang membungkus kado?” tanya Charlie sambil menghampiri Ian. Dia bisa melihat kertas kado yang berserakan menandakan Ian tidak pandai membungkus kado.
“Iya, dari tadi tidak rapi-rapi dan Kak Amara lama sekali. Dia yang selalu melakukan hal seperti ini untukku,” jawab Ian dengan penuh frustasi.
“Sini,” ucap Charlie sambil mengambil buku itu. Tanpa halangan Charlie bisa membungkus buku itu dengan rapi, dia bahkan membuatkan pita dari kertas kado. “Seperti ini, gampang, bukan?”
“Terima kasih,” balas Ian yang langsung mengambil hadiah itu. “Sekarang aku hanya perlu memberikannya kepada Kak Aiden.”
“Apa dia ulang tahun?”
“Tidak, aku hanya ingin memberikan hadiah.”
Charlie tersenyum mendengar itu, Ian tidak ada bedanya dengan Amara, selalu memikirkan satu sama lain. Charlie tidak bisa membayang bagaimana reaksi Ian saat mengetahui apa yang Aiden alami. Namun, Charlie juga bersyukur Amara memilih untuk mengatakan yang sebenarnya daripada berbohong. Terkadang anak kecil merasa kesal atau tertinggal saat orang dewasa tidak memberitahu apa yang terjadi. Charlie mengingat jelas perasaan itu.
“Apa kamu akan mengunjunginya?” tanya Charlie.
“Tidak, Kak Amara tidak bolehkan dan anak kecil tidak boleh datang sendiri,” jawab Ian yang merasa kesal.
“Tunggu saja, kado kamu tidak basi ini,” canda Charlie berusaha menghibur Ian.
Ian memutarkan matanya, tidak menganggap candaan itu lucu sama sekali. Namun, sebuah ide terbentuk di dalam benaknya dan tanpa berpikir panjang Ian mengatakan ide itu kepada Charlie, “Kakak orang dewasa, bukan? Kakak saja yang antarkan aku, Kakak kelihatan seperti pengangguran.”
Charlie terkejut mendengar itu. “Aku bukan pengangguran! Aku kerja di bengkel depan. Lagipula, aku tidak ingin kakakmu marah ke aku. Kami baru saja baikan,” balas Charlie, merasa tersinggung sedikit.
“Ih, tidak seru!” ucap Ian dengan lantang.