Buah Yang Menyatu

Lilian
Chapter #18

Kau Adalah Darahku, Selalu.

Hari berlalu, bulan berganti, semuanya membaik secara perlahan bagaikan siput yang lama, tetapi sampai di tujuannya. Ketika Aiden keluar dari pusat rehabilitasi setelah berbulan-bulan berada di sana, dia merasa senang dan lega. Dia merasa lebih tenang, lebih baik, bagaikan orang pada umumnya. Terkadang Aiden masih berpikir tentang rasa bersalah miliknya, rasa yang akan lama untuk hilang. Namun, Aiden bisa merasakan hal bagus, yaitu rasa benci Amara yang tidak pernah terlihat lagi. Amara berlaku sebagai seorang kakak yang Aiden selalu impikan. Aiden mengetahui bahwa Amara masih menyayangi Ian lebih dari dirinya, tetapi dia mulai mengerti mengapa hal itu bisa terjadi.

Di rumah tidak ada yang berubah, selain sikap Ian yang terkadang janggal. Selain itu, semuanya terlihat baik-baik saja. Ketiga saudara itu selalu berusaha menghabiskan waktu bersama sebanyak mungkin, terutama Amara. Amara seakan ingin melupakan semua hal buruk yang terjadi dan bersenang-senang. Tidak ada gunanya memenuhi otak dengan memori buruk, itulah mengapa Amara selalu berusaha meninggalkan semua itu. Amara tidak memendam semua memori buruk itu, tetapi melepaskannya. Untuk pertama kalinya Amara menerima hal baik yang terjadi pada dirinya dan tidak pertanyaan hal itu.

Amara tidak membahas perihal pertemuan dirinya dan ayah kandungnya, tetapi Aiden dan Ian bisa mengetahui jelas. Pertemuan itu berjalan dengan baik dan Amara menjadi sering bertemu dengan ayahnya, hal itu membuat Ian merasa iri, sedangkan Aiden hanya berdiri di tengah-tengah, tidak ingin mencampuri perihal itu. Aiden ingin menjaga ketenangan dirinya dan dia tidak menyukai jika membahas perihal ayahnya Amara. Kepergian pria itu yang membuat Amara begitu membenci Aiden, hal yang tidak mudah untuk dilupakan. Hal yang begitu rumit, tidak ada yang bisa dilakukan untuk meluruskan semua kerumitan itu.

“Kak Aiden mau kemana?” tanya Ian, melihat Aiden yang sudah rapi di sore hari yang cerah ini.

“Aku mau pergi ke toko, Kak Mia membutuhkan bantuan,” jawab Aiden dengan jujur.

“Aku ikut!” ucap Ian yang merasa bosan. Anak itu langsung bangun dari duduknya dan mengambil jaketnya.

Dengan terpaksa, Aiden berjalan ke toko bersama Ian, sedangkan Ian terlihat senang karena bisa melakukan hal lain selain menonton televisi di hari Minggu ini. Aiden tidak keberatan menghabiskan waktu bersama Ian, itu adalah hal yang menyenangkan. Namun, terkadang dia merasa canggung karena tidak mengetahui cara menjadi kakak yang benar. Dia berusaha mengikuti perilaku Amara terhadap Ian, tetapi Amara terlihat seperti seorang ibu daripada seorang kakak. Bagaimana Aiden bisa bersikap seperti itu? Dirinya bahkan tidak mengetahui banyak hal. Satu hal yang dirinya ketahui, bahwa Ian menyayanginya dan itu sudah lebih dari cukup.

“Kenapa Kak Mia membutuh bantuan Kakak?” tanya Ian, saat mereka sedang berjalan.

“Katanya Kak Amara sedang sibuk, jadi tidak bisa bantu,” jawab Aiden, tidak mengetahui kemana Amara pergi. “Kamu tumben tidak bermain bersama Henry,” ucap Aiden berusaha menggantikan topik pembicaraan.

“Dia lagi dihukum karena menjahili guru, jadi dia sedang tidak boleh bermain,” balas Ian, membuat Aiden tertawa kecil.

“Aku tidak pernah dihukum di sekolah sama sekali,” ucap Aiden, berniat untuk sombong kepada Ian. Berbohong sedikit tidak ada salahnya, Aiden selalu membuat masalah di sekolah, tetapi gurunya terlalu sibuk untuk menyadari hal yang Aiden lakukan.

“Ih, enak sekali! Aku saja dihukum dua kali kalau lupa mengerjakan PR, pertama oleh guruku, lalu Kak Amara. Tidak adil,” balas Ian dengan kesal.

“Makanya jangan lupa mengerjakan PR kamu,” ledek Aiden. “Kak Amara pasti akan bangga sama kamu.”

“Kak Amara selalu bangga akan hal kecil, aku tidak mengerti. Bahkan saat Kakak pulang, Kak Amara mengadakan pesta selamat pulang. Apa menurut Kakak Kak Amara berlebihan?”

Aiden langsung mengacak-acak rambut Ian dan berkata, “Lebih baik berlebihan daripada tidak peduli sama sekali.”

Ian tidak mengetahui betapa hal yang dia pikir berlebihan begitu berharga untuk Aiden. Entah berapa kali Aiden merasa iri kepada Ian dan berharap dirinya adalah Ian. Mungkin Aiden sudah membaik, tetapi perasaan itu terkadang muncul walau hanya sesaat. Terkadang Aiden berpikir, apakah ini yang Amara rasakan ketika ibu mereka terang-terang lebih menyayangi Aiden. Amara bukanlah ibu mereka, dia bisa menutupi perbedaan kasih sayang itu, tetapi terkadang hal itu terlihat jelas walau hanya sekilas. Aiden selalu menyadari itu karena dia selalu haus akan kasih sayang. Hal kecil yang Amara lakukan atas dasar kasih sayang selalu berbekas di benak Aiden.

***

Setelah membantu Mia merapikan toko yang akan segera tutup hari itu, Aiden dan Ian beristirahat untuk sejenak sambil memakan kue potong yang Mia berikan sebagai tanda terima kasih. Aiden sudah terbiasa membantu di toko, sedangkan ini adalah kali pertama Ian dan anak itu merasa begitu lelah. Namun, semua itu sepadan untuk sepotong kue cokelat yang terasa begitu manis. Terkadang Ian melupakan betapa enak kue buatan Amara dan Mia. Rasanya Ian ingin memakan kue setiap hari, tetapi itu tidak mungkin. Amara pasti akan memarahi Ian jika anak itu terlalu banyak memakan makanan manis. Ian mengerti kekhawatiran Amara, tetapi anak itu juga selalu mendengar tentang Charlie yang setiap hari datang untuk membeli cupcake. Namun, Ian mengetahui itu hanyalah alasan agar bisa bertemu Amara, sedangkan Ian benar-benar ingin kue.

“Kalau dilihat-lihat, Kak Charlie masih ada di bengkel,” celetuk Ian sambil memakan sesendok kue.

Lihat selengkapnya