Mimpi terburuk yang pernah Amara alami adalah ibunya yang membakar dirinya karena terlalu banyak bertanya. Namun, itu bukanlah sebuah mimpi. Ketika ayahnya pergi meninggalkan Amara seorang diri dengan ibu yang tidak stabil dan adik yang tidak dia inginkan, Amara selalu bertanya kemana perginya sang ayah kepada ibunya. Terakhir kali Amara bertanya ketika ibunya sengaja menumpahkan lilin panas ke tubuhnya, sejak saat itu Amara tidak pernah bertanya tentang apa pun. Namun, Amara tidak pernah bisa membenci ayahnya. Terkadang dia mengerti mengapa ayahnya pergi dan terkadang tidak. Amara selalu berpikir jika ayahnya memilih untuk tinggal, mungkin semuanya akan semakin memburuk. Amara tidak akan pernah bisa melupakan betapa ayahnya membenci ibunya dan Aiden.
Ketika Amara bertemu dengan ayahnya, dia berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Ayahnya terlihat bahagia dan bersalah di saat yang bersamaan, hal yang wajar. Namun, Amara tidak bisa mengekspresikan dirinya, hal yang jarang Amara lakukan. Amara tidak takut untuk mengungkapkan apa yang dia pikirkan dan mengatakan hal itu secara lantang. Namun, disitulah Amara terdiam saat ayahnya bertanya bagaimana kehidupan Amara. Amara hanya mengatakan bahwa dia memiliki toko kue, tidak membahas kedua adiknya sama sekali. Amara bahkan yakin bahwa ayahnya tidak mengetahui bahwa Amara memiliki dua adik. Semua terasa rumit dan mustahil untuk dijelaskan. Amara mengira ayahnya hanya akan meminta maaf lalu pergi, bukan tinggal dan berusaha memperbaiki hubungan mereka.
“Kue untuk Charlie!” teriak Amara saat memasuki bengkel.
Charlie yang mendengar itu langsung berhenti bekerja dan menghampiri Amara. “Aku tidak memesan kue.”
“Kamu belum datang ke toko hari ini dan ini sudah siang,” tegur Amara sambil memutarkan matanya. “Aku membuatkan kue cokelat untuk kamu, tidak terlalu manis.”
Charlie mengambil sebungkus kue itu dari Amara, kue itu tidak besar sama sekali, tetapi bulat dan berukuran kecil seperti mangkuk sup. Di atas kue itu terdapat bentuk hati yang tidak begitu sempurna, menandakan bahwa Amara yang menggambar hati itu. “Terima kasih. Kamu tidak perlu repot-repot.”
“Tidak apa, selain itu, aku ingin mengajak kamu makan siang. Apa kamu sibuk?”
Charlie tidak mungkin menolak ajakan Amara dan mereka pergi berjalan kaki ke restoran terdekat. Terkadang Charlie merasa kasihan kepada Mia karena jika dirinya pergi bersama Amara, Mia akan tertinggal seorang diri dan makan siang seorang diri. Namun, Mia adalah pendukung nomor satu mereka, pasti dia akan memaklumi itu. Sekarang Amara terbiasa menghabiskan waktu makan siang bersama Charlie, mengingat betapa sibuknya Amara saat ini. Selalu memastikan bahwa Aiden maupun Ian baik-baik saja, dia hanya merasa takut kejadian yang pernah terjadi akan terulang lagi.
Terkadang Amara menghampiri Charlie untuk mendapatkan pertanyaan tentang dirinya sendiri. Ketika Charlie bertanya seperti itu Amara akan berpaling dari kekhawatiran yang dia miliki, dan berpikir tentang dirinya sendiri. Amara menyukai ketika Charlie berusaha menghibur dirinya dan menghilangkan semua rasa cemas itu. Hal itu membuat Amara menanti-nantikan kedatangan Charlie ke tokonya. Dia ingin melihat senyuman Charlie yang terlihat begitu tulus, begitu lebar hingga Amara ingin ikut tersenyum. Amara selalu Bertanya-tanya mengapa Charlie selalu tersenyum dengan begitu lebar dan tulus.
“Apa kamu tidak makan?” tanya Charlie, melihat Amara hanya memesan makanan ringan dan segelas air.
“Aku sudah makan,” jawab Amara dengan jujur. “Tapi aku masih lapar,” ucap Amara sambil memakan keripik kentang miliknya.
“Kamu terlihat senang hari ini. Apa kamu memenangkan undian?” tanya Charlie sambil memakan makanannya.
“Aku harap,” jawab Amara sambil memutarkan matanya. “Aku senang karena pagi ini Aiden sarapan dua kali. Dia terlihat lebih sehat, tidak kurus kering seperti lidi. Lalu, dia mulai memakai baju lengan pendek jika dia di rumah saja.” Amara mengetahui bahwa hal itu terkesan sepele, tetapi hal itu masih membuat Amara senang.
“Syukurlah kalau dia membaik,” ucap Charlie sambil tersenyum tipis. “Aku kira kalian akan bertengkar karena kamu sekarang sering bertemu ayah kamu.”