Terkadang hal buruk lebih mudah untuk diingat daripada hal baik, Amara tidak mengingat kebaikan apa yang pernah ibunya berikan. Amara hanya mengingat semua keburukan yang ibunya miliki. Ibunya tidak selalu seperti itu, walau samar-samar Amara bisa mengingat ketika ibunya menenangkan dirinya yang menangis. Ingatan itu terkadang terasa kabur karena semua keburukan yang ibunya lakukan. Namun, jauh di dalam diri Amara, dia masih mengingat semua itu, tetapi memilih untuk melupakan semua itu. Tidak ada gunanya mengingat kebaikan orang yang telah menyakiti kita, itulah yang selalu Amara pikirkan. Dia tidak akan melupakan bagaimana ibunya membuat dirinya hilang harapan dan berdoa agar kematian datang kepada dirinya. Itu semua sudah berlalu, tetapi tidak terlupakan.
Setiap kali Amara berjalan pulang dari toko kue, dia selalu berharap semua ini bukanlah mimpi. Kehidupan yang tidak pernah dia bayangan sama sekali. Amara berpikir dirinya akan berakhir di sebuah rumah sakit jiwa atau sebuah makam dengan namanya. Rasanya aneh ketika Amara berpikir bahwa dirinya memiliki masa depan. Pada akhirnya Amara tidak takut akan dunia ini. Jika Amara mengatakan semua itu kepada dirinya yang dulu, mungkin dia tidak akan mempercayai hal itu. Dunia terasa tenang tanpa adanya rasa takut akan kegagalan dan kematian.
“Kenapa kamu tidak pernah menghubungi Ayah?”
“Aku kira Ayah sudah tidak peduli denganku. Aku tidak ingin mengganggu orang yang tidak ingin menginginkan diriku,” jawab Amara dengan jujur. Sore itu, Amara memilih untuk berjalan di sebuah taman bersama ayahnya. Bukanlah ide yang ideal karena Amara berniat untuk memberitahu ayahnya tentang adik-adiknya.
“Ayah berusaha menghubungi ibumu, tetapi dia selalu menghindar. Ayah berusaha untuk berada di dalam hidupmu lagi. Saat Ayah mengunjungi rumah kita yang lama, kalian sudah pindah.”
“Terdengar seperti ibu. Aku selalu berpikir kenapa kami pindah,” balas Amara sambil tertawa kecil.
“Bagaimana kabar anak itu? Kamu tidak membicarakan dia sejak kita bertemu.”
Ayahnya Amara selalu memanggil Aiden dengan sebutan lain selain namanya, seakan pria tua itu enggan mengakui keberadaan anak itu. Amara mengetahui bahwa ayahnya menyimpan sedikit kebencian terhadap Aiden karena Aiden menghancurkan keluarganya. Mungkin dulu Amara akan sependapat dengan ayahnya, tetapi sekarang dia tidak mempunyai hati untuk membenci Aiden. Amara lebih memilih berdamai dengan fakta itu dan menganggap Aiden keluarganya.
“Baik, dia tinggal bersamaku. Kedua adikku sebenarnya,” ucap Amara dengan enteng. “Ibu memiliki anak lagi setelah Aiden, dan aku merawat keduanya.”
“Ayah kira kamu tidak menyukai anak itu, tambah satu lagi. Kamu pasti begitu membenci mereka berdua.”
“Tidak, aku menyayangi mereka. Mereka hanyalah anak-anak dan semua itu salah ibu, bukan mereka. Jika dilihat Aiden begitu mirip denganku,” balas Amara dengan sedikit canggung.
Ayahnya Amara terlihat tidak menyukai hal itu dengan jelas. Pria tua itu tidak mempedulikan anak lain, selain Amara. Amara mengerti mengapa ayahnya merasa seperti itu. Ayahnya tidak memiliki hubungan darah dengan Aiden ataupun Ian, tetapi Amara memiliki itu. Amara merasa hubungan itu lebih dari sekedar darah, Amara begitu menyayangi kedua anak itu.
Tidak ada hari di mana Amara tidak menyesali apa yang dia lakukan. Penyesalan itu dipenuhi oleh Aiden dan hal lain yang sudah berlalu. Setiap malam, ketika Amara melihat Aiden tertidur, dia selalu memikirkan apa saja yang akan terjadi jika hari itu dia pergi bersama Aiden. Berpikir apa yang akan terjadi jika Aiden tidak pernah ada, apakah dia akan merasa senang atau sedih. Mungkin Amara akan merasa sedih karena Aiden hanyalah anak yang bodoh dan nakal. Amara tidak pernah merasa senang meninggalkan Aiden seorang diri, setiap kali Amara memikirkan Aiden hanya ada rasa sedih dan penyesalan.
“Aiden? Ian?” panggil Amara yang melihat Aiden dan Ian berada di balik pohon dekat pintu masuk taman. Amara langsung menghampiri kedua anak itu, diikuti oleh ayahnya.
Aiden dan Ian terlihat takut karena sudah membuntuti Amara, tetapi mereka berusaha bersikap normal. “Ah, Kak Amara, apa yang Kakak lakukan di sini? Aku dan Ian sedang berjalan menghirup udara segar,” ucap Aiden, merangkul Ian agar anak itu tidak berusaha kabur.