Buah Yang Menyatu

Lilian
Chapter #21

Prolog

Terkadang di hari yang cerah sekali pun, Amara masih memikirkan sang ibu yang tak pernah benar-benar ada. Memikirkan seribu kemungkinan jika sang ibu bukanlah sang ibu. Namun, semua itu hanya berakhir dengan Amara yang berdiri bersama kedua adiknya. Bahwa semua kemungkinan tidak penting jika adik-adiknya tidak tersenyum seperti saat ini. Berlari di jalan yang selalu mereka lewati dengan tawa yang seakan tak pernah terbayang. Ian dengan hadiah bodohnya dan Amara dengan pakaian formalnya, seperti keluarga normal yang mendatangi acara kelulusan saudara mereka.

Inilah kebahagiaan yang selalu Aiden harapkan, setiap doa-doa yang dia ucapkan tiap malam. Dirinya bisa berdiri di atas panggung bersama penghormatan atas perjuangan yang dia habiskan selama empat tahun. Aiden mengingat malam-malam itu, ketika Amara memastikan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang dapat Aiden tentukan. Ketika Amara membuat lelucon akan semua usaha yang dirinya lakukan untuk melihat Aiden berdiri dengan diploma itu. Bersama tepuk tangan begitu kencang, hanya Amara tujukan kepada Aiden. Semua kebencian itu seakan menguap seiring berjalannya waktu.

“Lihatlah sarjana kita ini,” goda Charlie ketika acara selesai.

“Ah, terima kasih,” ucap Aiden sebelum melihat Amara dengan senyuman penuh bangga dan berlari ke pelukan sang kakak.

Setiap malam terasa seperti mimpi indah yang berjalan dan berjalan tanpa henti. Terkadang, Aiden bersyukur akan kematian sang ibu. Seakan dirinya dibebaskan akan batu yang menahan kakinya. Namun, terkadang Aiden masih terduduk di makam sang wanita dan berharap akan yang terbaik jika kehidupan setelah kematian ada. Mengingat malam-malam di mana sang ibu mabuk berat dan merasa lega bahwa itu tidak akan pernah terjadi lagi. Bahwa Amara akan selalu ada untuknya.

Lihat selengkapnya