Buat Ibu Bangga

Bilsyah Ifaq
Chapter #2

Langkah di Pelatnas

Gedung olahraga itu tampak sangat megah dengan lampu sorot yang menyilaukan mata Aris dan Fajar. Cahaya putih yang tajam memantul di lantai kayu yang mengilap, menciptakan suasana yang begitu asing bagi mereka berdua. Di sekeliling mereka, ratusan anak berbakat dari seluruh penjuru negeri berkumpul dengan penuh percaya diri. Mereka mengenakan perlengkapan mahal, mulai dari sepatu keluaran terbaru hingga tas raket bermerek yang masih tampak kaku karena baru dibeli.

Aris menggenggam erat tas raketnya yang usang. Kulit tas itu sudah mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan jejak perjuangan panjang di lapangan semen desa. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat, namun suara riuh rendah di dalam aula besar itu justru membuatnya semakin gugup. Setiap kali seorang peserta lain lewat dengan ayunan langkah yang mantap, Aris merasa beban di pundaknya menjadi sedikit lebih berat.

"Banyak sekali orangnya, Ris," bisik Fajar sambil menyapu pandangan ke arah tribun yang mulai penuh.

"Jangan lihat mereka," jawab Aris, suaranya sedikit bergetar. "Fokus saja pada apa yang sudah kita latih."

Fajar mengangguk pelan, meski tangannya terasa dingin. Ia merasa kecil di tengah keramaian itu, seolah keberadaannya tertelan oleh kemegahan arena. Namun, di balik rasa minder yang menghimpit, ia teringat wajah lelah Ibunya yang sedang menanti kabar baik di rumah. Bayangan senyum ibunya yang teduh menjadi satu-satunya kekuatan yang menahan kakinya agar tetap berpijak kokoh di lantai arena yang licin ini.

"Peserta nomor urut seratus dua puluh satu sampai seratus empat puluh, bersiap!" teriak seorang panitia.

Pelatih kepala dengan wajah garang mulai memanggil nama peserta satu per satu. Suaranya yang berat menggema di seluruh penjuru gedung, memecah kebisingan dan memaksa semua orang untuk terdiam. Setiap nama yang dipanggil adalah langkah menuju pembuktian, dan setiap langkah itu membawa ketegangan yang semakin memuncak bagi mereka yang masih menunggu di barisan belakang.

"Nama kita sebentar lagi," gumam Fajar sambil memperbaiki letak tali sepatunya yang sebenarnya sudah kencang.

Panggilan nama berlanjut hingga giliran Fajar dan Aris masuk. Mereka melangkah melewati gerbang lapangan, menyatu dengan sorot lampu yang menerangi arena pertandingan.

Lampu sorot stadion mini itu terasa begitu menyengat saat Fajar dan Aris melangkah masuk ke area pertandingan. Udara di dalam sana pengap oleh aroma keringat dan ketegangan yang menggantung tebal di antara para atlet muda. Fajar menggenggam erat gagang raket kayunya yang mulai kusam, merasakan tekstur kayu yang kasar di telapak tangannya yang sedikit berkeringat.

Suara bisik-bisik mulai merayap di antara deretan kursi pemain cadangan saat mereka melintas. Beberapa pasang mata tertuju pada peralatan yang dibawa Fajar, seolah benda itu adalah artefak kuno yang salah tempat di turnamen modern ini.

"Apa mereka mau main di pasar malam?" ejek seorang anak bertubuh tinggi dengan seragam bermerek mahal sambil tertawa kecil ke arah temannya.

Fajar menunduk, membiarkan poninya menutupi mata yang mulai terasa panas karena malu. Langkahnya melambat, hampir terhenti tepat di pinggir garis lapangan yang putih bersih.

"Jangan berhenti," bisik Aris sambil menepuk bahu Fajar dengan sangat keras hingga sahabatnya itu tersentak.

"Mereka benar, Ris. Lihat raket mereka, semuanya karbon ringan," gumam Fajar pelan, nyaris tak terdengar di tengah kebisingan gedung.

"Raket tidak menentukan siapa yang menang, tanganmu yang menentukan," balas Aris dengan nada bicara yang datar namun penuh penekanan.

"Tapi mereka menertawakanku," sahut Fajar lagi, masih enggan mengangkat wajahnya.

"Biarkan saja. Jangan dengarkan mereka, tunjukkan kemampuanmu di lapangan saja," tegas Aris sambil mendorong pelan punggung Fajar agar segera menempati posisinya.

Fajar menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya dan mencoba meredam gemuruh di dadanya. Ia berdiri di seberang net, menatap lawan yang sudah bersiap dengan senyum remeh yang masih menghiasi wajahnya.

Peluit panjang berbunyi nyaring, memecah kesunyian sesaat yang sempat tercipta di antara kedua pemain tersebut. Fajar tidak membuang waktu, kakinya bergerak refleks mengikuti irama latihan keras yang selama ini ia jalani di gang sempit dekat rumahnya.

Saat kok melambung tinggi ke arahnya, Fajar langsung melompat tinggi, seolah gravitasi tidak lagi mengikat tubuhnya yang ramping. Suara hentakan kakinya di lantai semen terdengar mantap, memberikan tenaga tambahan pada ayunan lengannya.

Ia melakukan smash keras dengan sudut tajam yang menghujam tepat di garis samping pertahanan lawan. Bunyi benturan kok pada raket kayunya terdengar unik, lebih berat dan solid dibandingkan raket pada umumnya.

Lawannya terdiam seketika, terpaku di tempatnya berdiri tanpa sempat menggerakkan raket sedikit pun karena sangat terkejut dengan kecepatan serangan itu. Sorak-sorai penonton yang tadinya berupa ejekan kini berubah menjadi gumaman kekaguman yang samar.

Fajar menuntaskan poinnya di lapangan itu dengan sebuah anggukan kecil pada dirinya sendiri. Sementara itu, perhatian beralih ke lapangan sebelah di mana Aris telah mulai memainkan raketnya dengan tenang.


Decit sepatu karet di atas permukaan semen yang kasar menjadi irama tunggal yang mendominasi sisi kanan lapangan. Aris bergerak dengan efisiensi yang menakutkan, seolah setiap jengkal lantai itu sudah terpetakan dengan sempurna di dalam kepalanya. Tidak ada gerakan sia-sia, tidak ada langkah yang goyah, hanya ada ketenangan yang tajam di tengah cuaca sore yang mulai mendingin.

Di pinggir lapangan, Coach Hendra berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Matanya tidak sedetik pun lepas dari pergerakan Aris, sementara jempolnya sesekali menekan pulpen mekanik di atas papan klip kayu yang sudah usang. Ia mengamati bagaimana Aris menekuk lututnya tepat pada sudut yang benar untuk menyambut bola-bola rendah yang sulit dijangkau pemain biasa.

"Lihat posisi kakinya," bisik Coach Hendra tanpa menoleh ke arah asistennya yang berdiri di samping.

"Dia sangat stabil, Coach. Padahal lawannya mencoba menyerang dengan smes keras terus-menerus," jawab sang asisten sambil ikut memperhatikan.

Aris baru saja melakukan sebuah gerakan tipuan yang membuat lawannya terjungkal ke arah belakang. Dengan satu sentuhan ringan di depan net, kok jatuh meluncur tepat di balik garis putih, tak tersentuh sama sekali. Permainan netting yang sangat halus itu menjadi senjata mematikan yang terus-menerus ia tunjukkan sejak set pertama dimulai.

"Anak ini punya visi bermain yang luar biasa," gumam Coach Hendra pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Maksud Coach cara dia membaca arah angin?" tanya asisten itu dengan nada penasaran.

"Bukan hanya angin. Dia tahu ke mana lawan akan bergerak bahkan sebelum lawan itu sendiri menyadarinya," jelas Coach Hendra sambil mencatat sesuatu dengan coretan cepat.

Aris tidak memberikan ruang bagi lawan untuk bernapas sedikit pun, terus menekan dengan penempatan bola yang tidak terduga. Lawannya tampak mulai frustrasi, napasnya tersengal-sengal dan wajahnya memerah karena kelelahan, sementara Aris tetap menjaga ritme permainannya dengan dingin. Setiap kali kok melambung tinggi, Aris sudah bersiap di posisi yang paling menguntungkan.

"Kamu masih kuat, Ris?" teriak lawan dari seberang net setelah reli panjang yang melelahkan.

Aris hanya mengangguk singkat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mengatur napasnya lewat hidung, mencoba menjaga detak jantungnya agar tetap stabil di bawah tekanan fisik yang hebat. Keringat deras mengucur dari pelipisnya, membasahi kaus olahraga yang kini terasa berat menempel di kulit, namun ia tidak memedulikannya.

Rasa lelah yang merayap di otot paha dan lengannya dianggap sebagai gangguan kecil yang harus diabaikan demi tujuan yang lebih besar. Setiap pukulan yang ia lepaskan, setiap loncatan yang ia lakukan, adalah bentuk dedikasi yang ia persembahkan sepenuhnya untuk Ibu. Wajah wanita yang selalu mendukungnya itu terbayang jelas di benaknya, memberinya tambahan energi setiap kali ia merasa hampir ambruk.

"Fokus, Aris. Jangan beri ampun," perintah Coach Hendra dari kejauhan dengan suara tegas.

"Baik, Coach," jawab Aris singkat sambil membetulkan posisi pegangan raketnya.

"Habisi di poin ini juga!" seru asisten pelatih ikut memberikan semangat.

Aris melakukan servis pendek yang sangat tipis di atas net, memaksa lawan untuk mengangkat bola dengan terburu-buru. Begitu kok melambung tinggi di tengah lapangan, Aris melompat dengan kekuatan penuh, melakukan smes tajam yang menghujam tepat di sudut lapangan yang kosong. Suara benturan kok dengan lantai semen terdengar nyaring, menandakan berakhirnya perlawanan lawan.

"Pertandingan selesai!" teriak wasit sambil memberikan isyarat tangan ke arah Aris.

Kemenangan mutlak berhasil diraih Aris dalam waktu singkat tanpa perlawanan berarti di menit-menit terakhir. Ia berjalan menuju net untuk menjabat tangan lawannya yang masih terduduk lemas di lantai semen sambil berusaha mengatur napas. Tidak ada kesombongan di wajah Aris, hanya ada rasa lega yang terpancar dari sorot matanya yang tajam.

"Permainan yang bagus," kata lawannya sambil menyeka keringat dengan punggung tangan.

"Terima kasih. Kamu juga bermain sangat keras tadi," balas Aris dengan nada bicara yang tetap rendah hati.

Coach Hendra mendekat sambil menepuk pundak Aris dengan bangga, memberikan beberapa catatan singkat tentang performanya hari ini. Aris mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk tanda mengerti, meski pikirannya sudah mulai beralih ke hal lain di sekitarnya. Ia mengambil handuk kecil dari tasnya dan mulai mengusap wajahnya yang basah kuyup.

"Istirahat dulu, setelah ini kita evaluasi lebih detail di ruang ganti," kata Coach Hendra sambil berlalu menuju meja panitia.

Usai pertandingannya, Aris berjalan ke pinggir lapangan sebelah dan melihat Fajar berjuang di atas lapangan yang sedang digunakan Fajar. Ia berdiri diam di sana, memperhatikan sahabatnya yang sedang berada di tengah reli sengit, memberikan dukungan moral hanya dengan kehadirannya di sisi lapangan.


Decit sepatu karet di atas lapangan semen yang kasar terdengar semakin intens saat Fajar dipaksa berlari dari satu sudut ke sudut lainnya. Lawannya, seorang remaja bertubuh jangkung dengan jangkauan tangan yang lebar, sepertinya sudah membaca kelemahan terbesar Fajar sejak set pertama dimulai. Setiap kali ada kesempatan, lawan itu selalu mengarahkan kok dengan tajam ke arah sudut kiri belakang, memaksa Fajar melakukan pukulan backhand yang tidak pernah sempurna.

Aris berdiri di pinggir lapangan sebelah, meremas pinggiran raket kayunya yang sudah mengelupas catnya. Ia baru saja menyelesaikan pertandingannya sendiri, namun napasnya masih memburu bukan karena lelahnya sendiri, melainkan karena ketegangan melihat sahabatnya terdesak. Aris tahu betul bahwa Fajar sedang berada di titik nadir konsentrasinya, sementara poin lawan terus merayap naik meninggalkan perolehan angka Fajar yang stagnan sejak lima menit lalu.

"Ayo Fajar, bergerak lebih cepat!" teriak Aris dari pinggir lapangan dengan cemas.

Fajar tidak menjawab, napasnya tersengal-sengal dengan keringat yang membanjiri pelipis hingga masuk ke mata. Ia mencoba melakukan

cross-step

 untuk mengejar bola lob yang melambung tinggi ke arah

backhand

Lihat selengkapnya