Udara di dalam pusat pelatihan Jakarta terasa berat oleh aroma keringat dan gesekan karet sepatu yang berdecit keras di atas lantai vinil. Lampu-lampu sorot aula menyala benderang, memantulkan bayangan para atlet yang bergerak cepat, seolah sedang mengejar waktu yang kian menipis. Persiapan menuju turnamen internasional semakin intensif, mengubah setiap detik latihan menjadi ujian fisik yang melelahkan bagi siapa pun yang berada di sana.
Aris tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, meskipun napasnya sudah memburu pendek dan seragamnya basah kuyup. Ia melompat tinggi, mengayunkan raket dengan kekuatan penuh, dan mengirimkan
smash
demi
smash
tajam ke area lawan tanpa henti. Gerakannya terlihat meledak-ledak, hampir seperti orang kesurupan yang tidak lagi memedulikan batas kemampuan tubuhnya sendiri demi mengejar kesempurnaan di lapangan.
"Istirahat dulu, Kak. Ini sudah lewat jam sepuluh," tegur Fajar dari pinggir lapangan.
Aris hanya menggeleng singkat, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju sebelum kembali mengambil posisi siap. "Satu set lagi. Aku harus memantapkan arah bolanya."
Fajar menghela napas panjang, namun ia tetap setia mendampingi kakaknya di sana. Saat jeda singkat, ia segera menghampiri untuk memberikan botol minum dan dengan cekatan memijat otot kaki Aris yang mulai terasa kaku dan menegang. Ia tahu ambisi kakaknya sangat besar, namun ada kecemasan yang mulai merayap di benaknya melihat intensitas latihan yang sudah di luar nalar tersebut.
"Kaki kamu sudah gemetar, jangan dipaksa terus," ucap Fajar sambil menekan titik saraf di betis Aris.
"Aku baik-baik saja, Jar. Sedikit lagi," jawab Aris dengan suara parau yang dipaksakan.
Namun, ketenangan sore itu mendadak pecah saat sebuah suara retakan yang mengerikan bergema dari arah lapangan utama, memutus irama latihan yang semula teratur. Aris tiba-tiba tersungkur, tubuhnya ambruk ke lantai dengan posisi yang tidak wajar sementara raketnya terlempar jauh ke sudut ruangan. Wajahnya seketika berubah pucat pasi, menahan gelombang rasa sakit yang luar biasa yang tampak jelas dari gurat di keningnya.
Tim medis berlutut di samping Aris yang masih memegangi kakinya. Fajar terdiam sejenak sebelum teriakan cemasnya pecah di udara lapangan yang hening.
Lantai semen yang dingin terasa bergetar di bawah telapak kaki Fajar saat ia memacu larinya. Suara decit sepatunya beradu dengan keheningan yang tiba-tiba menyergap seluruh sudut lapangan. Di tengah sana, Aris meringkuk dengan posisi yang tidak wajar, memeluk kakinya sendiri seolah-olah nyawanya bergantung pada pegangan itu.
"Kak Aris! Kak, bangun!" teriak Fajar dengan suara yang pecah di udara yang terasa menyesakkan.
Aris tidak menjawab. Napasnya memburu, pendek-pendek dan berat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, sementara jemarinya meremas kuat pergelangan kaki kanan yang mulai memerah dan membengkak dengan kecepatan yang mengerikan.
"Jangan disentuh dulu, Jar! Mundur sedikit!" bentak Coach Hendra sambil berlari mendekat.
Fajar tersentak, namun ia tidak benar-benar menjauh. Ia berlutut hanya beberapa jengkal dari kepala kakaknya, menyaksikan bagaimana otot-otot di rahang Aris mengeras hingga memutih.
"Sakit sekali, Coach," rintih Aris dengan suara yang nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri.
"Tahan sebentar, tim medis sudah di sini," sahut Coach Hendra sembari memberi isyarat tangan yang panik ke arah pinggir lapangan.
Dua petugas medis datang dengan tergesa, membawa tas pertolongan pertama yang berayun-ayun di samping tubuh mereka. Mereka segera mengambil posisi di sisi kanan Aris yang cedera.
"Jangan digerakkan dulu, Aris, tenanglah," instruksi salah satu petugas medis dengan nada yang sangat tenang, kontras dengan kepanikan yang meluap di dada Fajar.
"Bisa kau gerakkan jemarimu?" tanya petugas itu lagi sambil menyentuh lembut bagian atas sepatu Aris.
Aris hanya menggeleng lemah, matanya terpejam rapat dengan air mata yang mulai mengumpul di sudutnya. Rasa nyeri itu sepertinya sudah melampaui batas yang bisa ia tanggung dengan kata-kata.
"Fajar, ambilkan air minum di bangku," perintah Coach Hendra tanpa menoleh, mencoba memberikan tugas agar anak itu tidak terus terpaku di sana.
Namun, kaki Fajar seolah tertanam di semen lapangan. Ia melihat pahlawannya, sosok yang selalu tampak tak terkalahkan saat melakukan
smash
, kini tergeletak tidak berdaya seperti bangunan yang runtuh seketika.
Bagaimana jika ini akhir dari segalanya? Bagaimana kalau dia tidak bisa bermain lagi?
"Fajar? Kamu dengar Coach?" suara itu datang dari Ibu yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya, merangkul pundaknya dengan tangan yang juga sedikit gemetar.
"Bu, Kak Aris... kakinya..." Fajar tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karena tenggorokannya mendadak terasa sangat kering.
"Ibu tahu, kita harus kuat untuknya sekarang," bisik Ibu, meski matanya sendiri tidak lepas dari pemandangan menyedihkan di depan mereka.
Petugas medis mulai memasang penyangga sementara pada kaki Aris, memastikan sendi yang cedera itu tidak bergeser lebih jauh saat dipindahkan nanti.
"Angkat perlahan di hitungan ketiga," komando salah satu petugas kepada rekannya saat mereka menyiapkan tandu lipat.
Tim medis membopong Aris ke ruang medis sementara Fajar dan Ibu mengikutinya dengan cemas. Pintu ruang medis tertutup, menyisakan napas tertahan.
Lantai ubin ruang medis yang berwarna putih pucat itu terasa dingin menusuk telapak kaki, namun ketegangan di udara jauh lebih membekukan. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan aroma keringat yang mulai mengering di jersey mereka. Dokter paruh baya itu meletakkan papan jalan di atas meja besi dengan bunyi dentang pelan, lalu melepas kacamatanya sejenak untuk menggosok pangkal hidung.