Sinar matahari pagi menembus celah-celah pepohonan di taman rumah sakit, menciptakan pola cahaya yang menari di atas rumput yang masih basah oleh embun. Ibu menuntun Fajar dengan langkah pelan, seolah takut jika bergerak terlalu cepat, semangat putranya yang rapuh akan hancur berantakan. Udara dingin yang masuk ke paru-paru setidaknya memberikan sedikit kesegaran di tengah aroma obat-obatan yang menyesakkan.
"Pelan-pelan saja, Nak," bisik Ibu sambil memegang lengan Fajar.
Fajar hanya mengangguk kecil, matanya menatap kosong ke arah jalan setapak di depan mereka. Bahunya merosot, beban yang ia pikul tampak nyata dalam setiap gerak tubuhnya yang kaku dan berat. Ia merasa seolah-olah seluruh energinya telah terkuras habis oleh malam-malam panjang penuh kekhawatiran yang baru saja ia lalui di dalam ruang perawatan.
"Kita duduk di sana sebentar, ya?" tanya Ibu lagi.
Ibu mengarahkan Fajar menuju sebuah bangku kayu tua yang menghadap ke arah kolam kecil di sudut taman. Saat mereka duduk, Ibu bisa merasakan tubuh putranya yang gemetar hebat, sebuah tanda bahwa rasa takut yang besar masih mencengkeram hatinya dengan kuat. Tanpa berkata-kata, Ibu mulai mengusap punggung Fajar dengan gerakan melingkar yang menenangkan.
"Lihat burung-burung itu, Fajar," kata Ibu lembut sambil menunjuk ke langit.
Beberapa ekor burung gereja terbang rendah sebelum akhirnya melesat tinggi ke angkasa, bermanuver dengan bebas di antara awan putih yang berarak. Fajar mendongak, mengikuti arah telunjuk ibunya, dan untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, ada kilatan kecil di matanya yang redup. Ia memperhatikan betapa ringannya makhluk-makhluk kecil itu bergerak tanpa beban.
"Dulu kamu tidak pernah takut jatuh," lanjut Ibu dengan suara yang tenang.
Ibu mulai menuturkan kembali kepingan-kepingan ingatan tentang Fajar kecil yang selalu berlari meski lututnya sering terluka karena tersandung batu. Setiap kali terjatuh, Fajar kecil akan bangkit lagi dengan tawa, membersihkan debu di celananya, dan kembali mengejar apa pun yang menarik perhatiannya. Kekuatan tersembunyi itu sebenarnya selalu ada, tertimbun di bawah lapisan keraguan yang kini menyelimuti dirinya.
Di bangku taman, Ibu menatap Fajar lembut. Udara pagi masih sejuk saat ia hendak menuturkan kenangan masa kecil putranya.
"Dulu kau pernah belajar sepeda sampai lututmu hancur, tapi kau tidak menangis sama sekali," kenang Ibu sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku kayu yang masih terasa lembap oleh embun pagi.
Fajar tersenyum tipis, membiarkan jemarinya mengusap permukaan celana olahraganya yang kasar. Ia teringat betapa keras kepalanya dia saat masih kecil dulu, menolak bantuan siapa pun meski darah mengalir dari luka di kakinya.
"Ibu sampai panik melihatmu, tapi kau malah tertawa dan minta naik sepeda lagi," lanjut Ibu dengan sisa tawa kecil di matanya yang mulai mengeriput.
"Aku hanya tidak ingin terlihat lemah di depan Ayah," jawab Fajar pendek. Suaranya terdengar agak serak, terbawa suasana tenang di taman yang hanya dihiasi kicauan burung gereja.
"Bukan cuma di depan Ayah," Ibu menoleh, menatap profil samping wajah putranya dengan penuh arti. "Kau selalu ingin melindungi Aris, padahal kau yang lebih kecil dan tubuhmu paling ringkih saat itu."
Fajar menatap telapak tangannya sendiri. Garis-garis keras di sana menjadi saksi bisu latihan berat yang ia jalani setiap hari demi mengejar ketertinggalan dari sang kakak.
"Aris sering menangis kalau jatuh, jadi aku harus kuat untuknya," gumam Fajar pelan.
"Kau memang selalu punya semangat petarung, Fajar. Itu tidak pernah berubah sejak kau masih balita," ucap Ibu lagi, kali ini dengan nada yang lebih dalam dan serius.
Fajar terdiam, meresapi setiap kata yang keluar dari bibir ibunya. Beban berat yang menghimpit pundaknya selama beberapa hari terakhir seolah sedikit terangkat.
"Tapi kali ini rasanya berbeda, Bu. Aku tidak yakin bisa sehebat Aris di lapangan nanti," aku Fajar jujur, akhirnya menyuarakan keraguan yang selama ini ia pendam sendiri.
"Ibu percaya padamu, Fajar, seperti Ibu percaya pada Aris selama ini. Kalian punya jalan yang berbeda, tapi hati kalian sama kuatnya," ucap Ibu tulus sambil menggenggam jemari Fajar.
Keyakinan yang terpancar dari tatapan Ibu menjadi obat paling mujarab bagi rasa rendah diri yang dialami Fajar selama beberapa hari terakhir ini, membakar kembali sisa-sisa keberaniannya.
"Terima kasih, Bu. Aku akan ingat itu saat pertandingan esok," kata Fajar sambil membalas genggaman tangan ibunya dengan mantap.
Ibu mengangguk pelan, seolah tahu bahwa kata-katanya telah sampai ke tempat yang paling dibutuhkan di dalam hati putranya yang sedang gundah.
Setelah siang itu, hari pun berlalu dan malam tiba. Fajar berada di rumah, mempersiapkan diri menyambut waktu pertandingan esok hari dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Lampu neon di ruang tengah berkedip pelan, memberikan rona temaram pada dinding rumah yang catnya mulai mengelupas. Fajar berdiri mematung di ambang pintu kamar yang sedikit terbuka, membiarkan jemarinya bertumpu pada kayu kusen yang terasa dingin. Di sudut ruangan, Ibu masih bersujud di atas sajadah biru yang tepiannya sudah mulai berserabut dimakan usia.
Suasana begitu hening hingga suara napas Ibu yang teratur terdengar jelas di telinga Fajar. Ia tidak ingin mengganggu, namun kakinya seolah terpaku di sana, menyaksikan punggung yang kian membungkuk itu tetap tegak dalam pengabdiannya. Sujud itu berlangsung sangat lama, jauh lebih lama dari biasanya, seakan ada ribuan kata yang sedang diadukan kepada Sang Pencipta.
"Ya Allah, jaga anak hamba esok hari," bisik Ibu pelan.
Fajar menahan napas saat mendengar suara itu pecah, bergetar oleh emosi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Ada harapan yang begitu berat dititipkan dalam setiap suku kata yang meluncur dari bibir Ibu.
"Berikanlah dia kekuatan untuk melampaui rasa takutnya sendiri," lanjut Ibu lagi dengan nada yang lebih rendah.
Air mata hampir saja jatuh membasahi pipi Fajar, namun ia segera menyekanya dengan punggung tangan. Ia merasa dadanya sesak, bukan karena beban pertandingan, melainkan karena menyadari betapa besar cinta yang mengalir untuknya tanpa pernah diminta.
"Bu, sudah larut malam," tegur Fajar dengan suara serak saat melihat Ibu mulai bangkit dan duduk tegak.
Ibu menoleh, sedikit terkejut namun segera menyunggingkan senyum yang membuat kerutan di sudut matanya terlihat jelas. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengakhiri percakapan panjangnya dengan langit.