Buat Ibu Bangga

Bilsyah Ifaq
Chapter #5

Gemuruh Istora

Istora Senayan bergetar hebat oleh teriakan ribuan penonton yang membawa bendera Merah Putih dengan bangga. Fajar berjalan keluar dari lorong pemain dengan langkah yang mantap meski kakinya terasa sedikit gemetar. Suara terompet dan yel-yel penonton memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang sangat luar biasa panas dan penuh tekanan.

Ia sempat berhenti sejenak, membiarkan matanya menyapu tribun khusus di sudut arena. Di sana, Ibu dan Aris duduk tenang dengan kursi roda mereka. Aris memberikan jempol dengan semangat, sementara Ibu melambaikan tangan dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.

Fajar menarik napas dalam-dalam, merasakan energi dari ribuan orang yang mendukungnya sepenuh hati. Oksigen yang ia hirup terasa berat oleh aroma keringat dan antusiasme yang meluap. Ia harus bisa memberikan yang terbaik untuk mereka semua yang sudah hadir di sini.

"Fajar! Ayo, fokus!" seru pelatihnya yang berdiri tidak jauh dari garis lapangan.

Fajar menoleh sebentar, lalu mengangguk pelan sebagai tanda ia mendengar instruksi itu. "Siap, Coach. Saya sudah siap," jawabnya dengan suara yang terdengar lebih tenang dari yang ia duga sebelumnya.

"Jangan biarkan sorakan itu mengganggumu," tambah pelatihnya lagi sambil menepuk pundaknya dengan keras. "Jadikan itu sebagai bahan bakar, bukan beban di pundakmu."

"Saya mengerti," sahut Fajar singkat sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Meninggalkan tribun, Fajar melangkah ke pinggir lapangan. Atmosfer panas masih menyertai, namun ia mulai memusatkan pikiran pada pertandingan yang akan segera dimulai.

Sepatu karet Fajar berdecit nyaring di atas permukaan lantai sintetis saat ia melakukan lari-lari kecil di area pemanasan. Gerakannya lincah, berpindah dari satu sisi ke sisi lain dengan transisi yang halus, seolah-olah sendi-sendinya baru saja diberi pelumas. Ia tidak ingin membiarkan ototnya mendingin sedikit pun setelah meninggalkan tribun penonton yang riuh tadi.

Di seberang net, Viktor, pemain jangkung asal Denmark yang kini menduduki peringkat lima dunia, sedang melakukan peregangan bahu. Pria itu sesekali melirik ke arah Fajar dengan tatapan dingin yang sulit diartikan, namun tersirat sebuah kesan meremehkan. Bagi pemain sekelas Viktor, Fajar mungkin hanyalah hambatan kecil yang harus segera disingkirkan sebelum melaju ke babak berikutnya.

Fajar tidak membalas tatapan itu, ia justru mengambil beberapa kok dari dalam kotak dan mulai melakukan netting tipis secara mandiri. Ia memukul kok dengan sentuhan lembut, membiarkannya menari tepat di atas pita net sebelum jatuh di sisi lain. Ia perlu menemukan perasaan yang pas pada ujung raketnya, memastikan setiap kontrol jarinya bekerja dengan presisi sempurna.

"Fokus pada setiap poin, jangan terburu-buru," bisik Coach Hendra yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.

Fajar menghentikan ayunan raketnya sejenak dan menarik napas panjang. "Iya, Coach. Saya cuma mau memastikan feeling net ini dapat dulu."

"Bagus. Tapi ingat, jangan biarkan dia memancingmu masuk ke permainannya yang lambat," lanjut Coach Hendra sambil menepuk pundak Fajar dengan mantap.

"Saya mengerti. Saya akan tetap pada rencana awal," jawab Fajar dengan nada suara yang jauh lebih tenang dari biasanya.

"Jaga napasmu. Dia akan mencoba menekanmu lewat serangan smash tajam di awal set," Coach Hendra memberikan instruksi terakhir sambil menatap mata anak didiknya itu.

Fajar mengangguk mantap, merasakan sensasi ringan yang menjalar dari ujung kaki hingga ke bahunya. Rasa minder yang sempat menghantuinya selama beberapa hari terakhir, bayang-bayang kekalahan di turnamen sebelumnya, kini seolah menguap tertiup pendingin ruangan stadion. Ia merasa tubuhnya sangat siap untuk meledak, menyimpan energi besar yang hanya menunggu aba-aba untuk dilepaskan di tengah lapangan hijau yang sudah menantinya.

"Siap untuk ini?" tanya Coach Hendra sekali lagi sebelum mereka berpisah arah.

"Sangat siap, Coach," tegas Fajar tanpa ragu sedikit pun.

Wasit memanggil kedua pemain ke tengah lapangan untuk melakukan undian koin. Fajar menarik napas, langkahnya mantap menuju garis servis, siap menyambut lonceng pertanda pertandingan dimulai.


Suara gesekan sepatu karet di atas lantai lapangan bergema nyaring, bersahutan dengan dentuman kok yang dipukul dengan tenaga penuh. Reli pertama langsung menyuguhkan adu ketahanan yang menguras napas, memaksa Fajar untuk terus bergerak menutupi setiap sudut areanya. Lawannya tampak sangat agresif, mengirimkan serangan-serangan tajam yang membuat Fajar harus jatuh bangun menyelamatkan poin demi poin di menit-menit awal.

"Fokus, Fajar! Jangan kasih kendor!" teriak seorang penonton dari tribun timur.

Fajar menyeka keringat yang mulai menetes ke pelipisnya dengan punggung tangan. Papan skor menunjukkan angka yang tidak menguntungkan, ia tertinggal tiga poin karena gerakannya masih terasa sedikit kaku. Riuh rendah teriakan penonton yang memenuhi stadion terasa seperti beban tambahan di pundaknya, membuatnya sempat kehilangan ritme permainan yang biasanya ia kuasai dengan tenang.

"Tenang, atur napasmu," bisik Fajar pada dirinya sendiri sambil memutar raket di tangannya.

Di tengah tekanan itu, bayangan wajah Aris melintas di benaknya, teringat diskusi mereka di pinggir lapangan beberapa jam yang lalu. Aris sempat memberikan catatan penting mengenai gaya bermain lawan yang sangat mengandalkan kekuatan smash namun sering kehilangan kontrol saat dipaksa bermain halus. Lawannya memiliki kecenderungan untuk menjadi ceroboh dan tidak sabar jika harus menghadapi permainan di depan net yang presisi.

"Dia bakal terpancing kalau kamu main pendek," kata Aris saat itu sambil menunjuk ke arah area depan net.

"Tapi netting silangnya harus benar-benar tipis, kan?" tanya Fajar memastikan.

"Iya, tipis dan mematikan. Jangan biarkan dia punya ruang untuk mengangkat kok dengan nyaman," jawab Aris dengan nada yakin.

Mengingat instruksi itu, Fajar mengubah strateginya secara drastis pada servis berikutnya. Saat lawan memberikan pengembalian yang sedikit tanggung, Fajar tidak langsung melakukan smash keras seperti yang diharapkan penonton. Sebaliknya, ia melangkah maju dengan ringan dan menyentuh kok dengan teknik

netting

 silang yang sangat halus, membuat bulu unggas itu meluncur tipis di atas net.

Lihat selengkapnya