Buat Ibu Bangga

Bilsyah Ifaq
Chapter #6

Titik Balik

Suasana di dalam gedung olahraga terasa semakin menyesakkan saat pertandingan memasuki fase kritis di set kedua. Skor yang tertera di papan digital menunjukkan angka yang sangat ketat, membuat setiap pasang mata penonton tak berani berkedip barang sejenak. Ketegangan itu bukan hanya milik penonton, tapi meresap hingga ke pori-pori kulit Fajar yang mulai merasakan sensasi panas yang tidak biasa.

Fajar mulai merasakan kram di betis kirinya, sebuah tarikan tajam yang seolah ingin mengunci pergerakannya di atas lantai kayu yang licin. Namun, ia berusaha menyembunyikannya dari penglihatan lawan dengan tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar dan dingin. Ia tahu jika ia menunjukkan kelemahan, lawan akan langsung menghabisinya tanpa ampun di lapangan melalui serangan-serangan yang mengeksploitasi keterbatasan fisiknya.

"Masih kuat, Fajar?" teriak pelatih dari pinggir lapangan, suaranya nyaris tenggelam oleh riuh rendah sorakan pendukung.

Fajar hanya memberikan anggukan singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arah bangku cadangan.

Keringat membanjiri seluruh tubuhnya, membuat bajunya basah kuyup dan terasa sangat berat dipakai, seolah ia sedang memikul beban tambahan di pundaknya. Setiap kali ia melompat, ia bisa merasakan percikan air dari pakaiannya yang menempel ketat di kulit, menambah rasa tidak nyaman yang terus menggerogoti konsentrasinya. Di tribun, Ibu tampak menggenggam tasbihnya, mulutnya komat-kamit memanjatkan doa keselamatan untuk anaknya agar tetap tegak berdiri hingga poin terakhir diraih.

"Ayo, jangan menyerah sekarang!" seru seorang penonton dari barisan depan yang mengenakan atribut bendera.

Fajar menatap bendera Merah Putih yang tergantung tinggi di langit-langit gedung, mencari sisa kekuatan yang ada di dalam relung jiwanya yang terdalam. Warna merah dan putih itu seolah memberinya suntikan adrenalin instan untuk mengabaikan rasa nyeri yang mulai menjalar ke paha. Ia mengatur napasnya yang mulai memburu, mencoba menenangkan detak jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang yang tak kunjung usai.

"Fokus pada bola, jangan lihat yang lain," gumamnya pada diri sendiri sambil membetulkan posisi pegangan raketnya yang mulai terasa licin.

Fajar menarik napas pendek, memaksa kaki kirinya melangkah. Saat lawan memukul bola, ia berlari ke belakang lapangan untuk mengejar bola lob yang menjauh.

Decitan karet sepatu yang bergesekan dengan lantai lapangan terdengar memekakkan telinga saat Fajar dipaksa mundur jauh ke belakang. Otot betis kirinya berdenyut kencang, memberikan sinyal peringatan yang sudah lama ia abaikan sejak set kedua dimulai. Rasa nyeri itu bukan lagi sekadar pegal, melainkan tusukan tajam yang membuat setiap langkahnya terasa seperti menginjak bara api yang menyala.

"Masih bisa?" teriak pelatih dari pinggir lapangan, suaranya nyaris tenggelam di tengah riuh rendah penonton.

Fajar hanya memberikan anggukan singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arah bangku ofisial. Ia tidak ingin melihat raut cemas di sana, apalagi melihat tim medis yang sudah bersiap dengan semprotan etil klorida mereka. Baginya, meminta bantuan medis saat ini sama saja dengan mengakui kekalahan sebelum poin terakhir benar-benar menyentuh lantai.

Sedikit lagi, Fajar, jangan menyerah sekarang!

Ia membisikkan kalimat itu berkali-kali di dalam kepalanya, menjadikannya mantra untuk meredam rasa sakit yang menjalar. Tangannya mencengkeram gagang raket lebih kuat, merasakan getaran senar yang masih menyisakan sisa hantaman kok sebelumnya. Pandangannya tidak pernah lepas dari pergerakan lawan yang kini tampak mulai membaca kelemahannya di sisi belakang lapangan.

"Ayo, Fajar! Kamu pasti bisa!" seru seorang penonton dari barisan depan.

Fajar mengatur napasnya yang mulai memburu, mencoba mencari ritme yang lebih tenang di tengah tekanan yang menghimpit. Ia sadar bahwa ia tidak bisa lagi bermain dengan gaya meledak-ledak seperti di awal pertandingan jika ingin bertahan hingga akhir. Gerakannya kini lebih terukur, setiap langkah diambil dengan perhitungan matang agar energinya tidak terbuang sia-sia untuk mengejar bola yang mustahil.

"Dia mulai melambat," gumam lawan di seberang net, cukup keras untuk didengar oleh Fajar.

"Jangan terlalu yakin," balas Fajar dengan napas yang tersengal.

"Kita lihat saja sampai kapan kakimu itu bisa bertahan," tantang lawannya sambil bersiap melakukan servis pendek yang mengecoh.

Lawan di hadapannya mulai memanfaatkan keterbatasan ruang gerak Fajar dengan mengirimkan bola-bola sulit tepat di sudut lapangan yang paling jauh. Fajar dipaksa melakukan

lunges

 dalam yang membuat otot pahanya gemetar hebat menahan beban tubuhnya sendiri. Setiap kali ia berhasil mengembalikan bola, lawan kembali menempatkan kok di posisi yang mengharuskannya berlari menyilang.

"Sudah cukup, Fajar! Jangan dipaksakan!" teriak rekannya dari tribun penonton.

"Belum!" sahut Fajar ketus sambil terus memburu bola.

Tiba-tiba, saat mencoba membalikkan keadaan dengan sebuah

smash

 loncat, kaki kirinya kehilangan tumpuan dan ia tersungkur keras di atas lantai karet. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari betis hingga ke pinggang, membuat pandangannya sempat memudar selama beberapa detik. Namun, sebelum wasit sempat mendekat untuk menanyakan kondisinya, Fajar sudah menumpukan tangan pada lantai.

"Mau menyerah sekarang?" tanya wasit dengan nada prihatin.

"Belum waktunya," jawab Fajar sambil menggertakkan gigi.

Ia bangkit dengan napas tersengal, keringat mengucur deras membasahi jersey merahnya hingga terasa berat menempel di kulit. Tatapannya menyapu seluruh tribun Istora yang mendadak hening menyaksikan perjuangannya, dan saat itulah seluruh penonton mulai berdiri serentak menyanyikan lagu kebangsaan yang menggema memenuhi ruangan.


Suara ribuan orang yang menyanyikan lagu kebangsaan itu merayap masuk ke sela-sela sendi Fajar, memberikan kehangatan yang tidak masuk akal di tengah dinginnya mesin pendingin ruangan stadion yang menusuk kulit. Ia berdiri dengan tumpuan kaki yang gemetar, namun punggungnya tegak seolah ada benang tak terlihat yang menariknya ke atas. Di depannya, net putih yang membentang tampak seperti garis perbatasan yang harus ia pertahankan dengan nyawanya sendiri.

"Kamu dengar itu, Jar?" tanya pelatih dari pinggir lapangan, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh vokal massa.

Fajar tidak menjawab dengan kata-kata, hanya sebuah anggukan kecil yang sarat dengan beban emosional yang selama ini ia pendam rapat-rapat di dalam dadanya.

Lihat selengkapnya