Buat Ibu Bangga

Bilsyah Ifaq
Chapter #8

Mimpi yang Menjadi Nyata

Sinar matahari pagi masuk melalui jendela besar di ruang tamu, menyinari lantai kayu yang masih terasa baru. Fajar duduk di tepi sofa, mengikat tali sepatunya dengan gerakan yang sudah menjadi rutinitas sejak kemenangannya di Istora Senayan beberapa bulan lalu. Kemenangan itu memang mengubah segalanya, tapi di rumah ini, segalanya tetap terasa membumi.

"Jangan terlalu dipaksa kakinya, Ris," kata Fajar sambil menoleh ke arah adiknya.

Aris, yang sedang mencoba melakukan peregangan kecil di dekat pintu, hanya tersenyum tipis. Ia melangkah perlahan tanpa bantuan tongkat penyangga yang dulu selalu menemaninya. Langkahnya memang belum secepat dulu, namun kemajuan itu adalah mukjizat kecil yang mereka syukuri setiap hari setelah masa pemulihan yang panjang.

"Sudah jauh lebih kuat, Jar," jawab Aris singkat.

"Tetap saja, pelan-pelan," timpal Fajar lagi.

Ibu muncul dari arah dapur, membawa dua botol air minum yang langsung ia letakkan di meja kayu di dekat mereka. Rumah baru ini jauh lebih layak dan nyaman, memberikan ruang bagi Ibu untuk bergerak tanpa harus khawatir dengan atap bocor atau lantai yang lembap. Meski begitu, tatapan matanya masih menyimpan ketegasan yang sama seperti saat mereka masih tinggal di kontrakan sempit.

"Ingat apa yang Ibu bilang soal prestasi?" tanya Ibu lembut namun penuh penekanan.

"Iya, Bu. Mempertahankan jauh lebih sulit daripada meraihnya," jawab Fajar dengan anggukan mantap.

Ibu mengelus bahu Fajar sebentar, memastikan putra-putranya tidak kehilangan arah di tengah kenyamanan yang kini mereka miliki. Mereka menikmati ketenangan rumah baru itu. Pagi itu cerah dan teduh, suasana damai menyelimuti keluarga tersebut ketika Ibu menatap taman kecil di depan rumah.

Aroma tanah basah dari pot-pot kembang sepatu di sudut taman tercium lembut, berpadu dengan udara pagi yang masih bersih dari polusi kota. Ibu berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahunya pada kusen kayu jati yang masih berbau pelitur segar. Matanya menyapu setiap sudut halaman depan yang tertata rapi, di mana rumput gajah mini tumbuh menghijau menyelimuti tanah.

Tidak ada lagi suara gemericik air yang jatuh ke dalam ember plastik setiap kali mendung tebal datang menggantung di langit. Bayangan tentang atap seng yang berlubang dan lantai semen yang lembap kini terasa seperti kenangan dari kehidupan orang lain. Rumah ini begitu sunyi, sebuah ketenangan yang selama puluhan tahun hanya berani ia simpan dalam doa-doa pendeknya di sepertiga malam.

"Bu, lihat raket Aris. Senarnya masih kencang sekali," celetuk Aris sambil mengusap bingkai karbon raketnya dengan kain mikrofiber.

Fajar yang duduk di sebelahnya di atas lantai teras yang sejuk hanya terkekeh pelan. Ia sedang sibuk menyemprotkan cairan pembersih ke pegangan raketnya, memastikan tidak ada sisa keringat atau debu yang menempel di sana. Cahaya matahari pagi memantul pada permukaan raket yang mengilap, menciptakan kilatan kecil yang menari-nari di dinding teras yang luas.

"Jangan cuma dilap, Ris. Besok di lapangan jangan sampai kendor juga mainnya," goda Fajar tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.

"Enak saja. Aku sudah siap tempur, Kak," jawab Aris dengan nada percaya diri yang khas.

Ibu melangkah pelan mendekati kedua putranya, merasakan tekstur ubin granit yang halus di bawah telapak kakinya. Ia berhenti tepat di belakang mereka, memandangi bahu tegap kedua anaknya yang kini menjadi tiang penyangga hidupnya. Ada getaran halus di dadanya yang sulit dijelaskan, sebuah campuran antara rasa syukur yang meluap dan kelegaan yang mendalam.

"Terima kasih, anak-anakku, kalian sudah memenuhi janji kalian," ucap Ibu dengan suara yang sedikit serak karena haru.

Fajar segera meletakkan raketnya dan berdiri, lalu melingkarkan lengannya di bahu sang ibu dalam sebuah pelukan hangat dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di pundak wanita yang telah membesarkannya dengan segala keterbatasan itu. Kehangatan tubuh Ibu seolah membilas semua rasa lelah setelah bertahun-tahun menjalani latihan fisik yang menyiksa dan jadwal pertandingan yang padat.

"Ini baru awal, Bu. Ibu tidak perlu khawatir lagi kalau hujan turun malam-malam," bisik Fajar lembut.

"Iya, Bu. Nanti kalau Aris menang turnamen lagi, kita tanam pohon mangga di pojok sana," tambah Aris sambil menunjuk sudut taman dengan sisa kain lap di tangannya.

Ibu hanya bisa mengangguk pelan, mengusap punggung tangan Fajar yang melingkar di dadanya. Rumah ini bukan sekadar bangunan dari bata dan semen, melainkan wujud nyata dari tetesan keringat, rasa sakit di persendian, dan air mata yang sering tersembunyi di balik handuk olahraga. Semua pengorbanan itu kini terbayar lunas dalam wujud hunian yang layak dan damai bagi mereka bertiga.

Malam berlalu dengan damai di bawah atap kokoh yang melindungi mereka dari dinginnya angin malam. Keesokan paginya, Aris dan Fajar bersiap berangkat ke pelatnas, membawa raket yang telah bersih dan tersusun rapi di dalam tas olahraga mereka. Mereka tiba di lapangan dengan hati gembira, siap memulai hari dengan semangat baru yang membara.


Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah ventilasi gedung pelatnas, memantul di atas permukaan lantai kayu yang dipoles mengilap. Udara di dalam ruangan itu terasa segar, bercampur dengan aroma samar dari karet sepatu dan pengharum lantai yang khas. Aris menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi oleh atmosfer yang selama beberapa bulan ini hanya bisa ia bayangkan dari balik jendela kamar rehabilitasi.

Fajar sudah berdiri di tengah lapangan, tampak kontras dengan jersey biru terangnya yang mencolok. Ia memutar-mutar raket di tangan kanannya, sebuah kebiasaan kecil saat ia sedang merasa sangat antusias. Begitu melihat sosok Aris melangkah masuk, wajahnya langsung cerah, seolah-olah beban berat yang selama ini ia pikul sendiri di tempat latihan telah menguap begitu saja.

"Ayo Kak, tunjukkan bahwa kau belum berkarat!" seru Fajar sambil mengacungkan raketnya ke arah Aris.

Aris tertawa kecil sambil mengencangkan tali sepatunya untuk terakhir kali. Ia merasakan sedikit ketegangan di area pergelangan kaki, namun itu bukan rasa sakit, melainkan hanya sisa-sisa kewaspadaan yang wajar. Ia berjalan mendekati net, merasakan tekstur lapangan di bawah sol sepatunya yang terasa begitu akrab sekaligus baru.

"Berkarat? Kamu harus khawatir dengan kecepatanmu sendiri, Fajar," balas Aris dengan nada menantang yang tenang.

"Kita lihat saja nanti di lapangan," sahut Fajar sambil tertawa lebar.

"Jangan kasih kendor, ya," tambah Aris lagi sembari melakukan pemanasan bahu singkat.

Fajar melakukan servis pendek yang halus sebagai pembuka. Aris menyambutnya dengan dorongan ringan, mengirimkan

shuttlecock

 kembali ke area tengah. Mereka tidak langsung melakukan

smash

 keras, melainkan memulai dengan reli-reli pendek yang terukur. Gerakan kaki Aris terlihat masih sedikit berhati-hati, namun setiap langkahnya menunjukkan ketepatan yang tidak hilang meski ia sempat absen cukup lama.

"Bagaimana tumpuannya? Masih terasa aneh?" tanya Fajar setelah mereka menyelesaikan satu reli panjang.

Aris mencoba melakukan gerakan menyamping yang cepat sebelum menjawab. Ia merasakan otot-ototnya merespons dengan baik, tanpa ada tarikan yang mencurigakan di bagian ligamen yang dulu cedera.

"Terasa solid," jawab Aris singkat. "Sedikit kaku di awal, tapi sekarang sudah mulai luwes."

"Baguslah kalau begitu," kata Fajar dengan nada lega yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Kenapa? Kamu takut tidak punya lawan tanding yang sepadan lagi?" goda Aris.

Fajar hanya menyeringai, lalu kembali bersiap di posisi bertahan. Ia bisa merasakan energi di sekitarnya berubah. Kehadiran kakaknya di sisi lapangan yang sama bukan sekadar soal latihan teknis, melainkan tentang kembalinya separuh semangatnya yang sempat hilang. Setiap pukulan yang mereka pertukarkan seolah-olah menyuntikkan motivasi baru yang membuat Fajar ingin berlari lebih kencang dari biasanya.

"Aku cuma ingin memastikan Kakak siap untuk turnamen bulan depan," ujar Fajar sambil melakukan

drop shot

 tipis di depan net.

Aris menjangkau bola itu dengan satu langkah panjang, mengembalikannya tepat di atas garis samping. Ia tersenyum puas melihat akurasi pukulannya yang masih terjaga dengan sangat baik.

"Jangan terlalu fokus padaku, urus saja pertahananmu yang masih bolong itu," balas Aris sambil menyeka keringat di dahinya.

"Wah, mulai sombong ya," tawa Fajar pecah, memenuhi sudut-sudut lapangan yang mulai ramai oleh atlet lain.

Mereka terus bergerak, saling menguji batas kemampuan masing-masing dalam ritme yang semakin cepat. Keringat mulai membasahi kaos mereka, namun tak ada tanda-tanda kelelahan di wajah keduanya. Bagi Aris, setiap tetes keringat itu adalah bukti bahwa ia telah kembali ke rumahnya yang sebenarnya. Sementara bagi Fajar, ini adalah awal dari babak baru yang sudah ia nantikan sejak lama.

Usai latihan pendek bersama, Aris dan Fajar menepi sejenak sambil menyerap suasana lapangan yang mulai riuh dengan suara dentuman raket. Mereka duduk di bangku panjang, mengatur napas yang masih memburu sambil meminum air mineral dalam diam yang nyaman. Tiba-tiba, Coach Hendra menghampiri mereka berdua di sisi lapangan dengan raut wajah yang sulit ditebak.


Bau karet sepatu yang bergesekan dengan lantai vinyl hijau masih menyengat di hidung. Coach Hendra berdiri tegak, melipat tangan di depan dada, sambil menatap tajam ke arah dua pemuda yang masih mengatur napas di hadapannya. Keringat bercucuran dari pelipis Aris, sementara Fajar berkali-kali menyeka wajahnya dengan pinggiran kaos jersey yang sudah basah kuyup.

"Kalian berdua, kemari," panggil Coach Hendra, suaranya menggema di sudut lapangan yang mulai sepi.

Aris melangkah lebih dulu, diikuti Fajar yang berjalan agak tertatih karena kelelahan. Mereka berdiri bersisian, bahu yang satu nyaris bersentuhan dengan bahu yang lain. Ada ketegangan yang tidak biasa di udara pagi itu, seolah dinding-dinding pelatnas pun sedang menunggu sebuah pengumuman besar yang akan mengubah peta persaingan ganda putra.

"Mulai hari ini, saya tidak mau melihat kalian berlatih terpisah lagi," Coach Hendra membuka suara dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Lihat selengkapnya