Waktu istirahat makan siang sudah berlalu lima menit, partisi ruang yang berada di sekitar tempat Raihanun sendiri sudah pada kosong melompong. Tak ada orang dan semua komputer di setiap partisi ruang sudah dipadamkan. Hanya komputer Raihanun yang masih menyala dan ia mengetik dengan satu tangan dan satu tangan lagi sibuk menyendok nasi dari ompreng plastik berwarna biru. Sambil makan, Raihanun sibuk memelototi layar komputernya.
Bardo, lelaki bertubuh atletis dan berwajah ganteng, staf logistik yang selama ini mengincar Raihanun, tahu betul kebiasaan perempuan yang bekerja sebagai staf HRD itu. Anun, begitu orang-orang kantor memanggilnya, selalu saja menghabiskan waktu istirahat sambil melanjutkan pekerjaan tanpa jeda untuk istirahat. Bardo selalu mengintai dari partisi di sebelah ruangan Anun. Lalu laki-laki itu bergegas turun ke lantai satu dan buru-buru ke kantin yang berada di bagian belakang gedung perkantoran berlantai dua puluh itu. Bardo selalu makan tergesa-gesa dan sesegera mungkin menghabiskan makan siangnya dan kembali lagi ke lantai tujuh, lokasi di mana perusahaan tambang tempat Raihanun dan Bardo berkantor.
Bardo dengan napas sedikit tersengal masuk ke ruangan besar dan sejuk karena AC sentral di gedung itu, memberikan suhu yang konsisten ke seluruh ruangan. Lampu-lampu yang berjajar di eternit cukup bagus memberikan penerangan di ruangan besar yang dibagi menjadi partisi-partisi berukuran 3x2 meter. Tempat para karyawan perusahaan tambang itu bekerja. Kecuali para manager, mereka punya ruangan sendiri dan terpisah dengan para staf dan karyawan biasa.
Bardo melongok ke arah partisi tempat Raihanun bekerja. Dari jauh ia bisa melihat kepala Raihanun menyembul sedikit dari dinding bagian atas partisi ruang. Dari posisi kepala Raihanun yang agak menunduk, Bardo yakin kalau perempuan yang ditaksirnya itu sedang menatap layar komputer dan sibuk menginput data untuk payroll seluruh karyawan dan staf perusahaan tambang batubara tersebut.
Bardo melangkah mengendap-endap mendekati Raihanun. Sayup-sayup Bardo mendengar alunan suara Dolores O'Riordan vocalis The Cranberries mengalunkan lagu berjudul When You're Gone. Bardo hapal betul lagu itu karena ia mendengarnya sejak SD karena pada waktu itu Kakak perempuannya sering menyetel lagu itu di rumah. Ah, sebuah lagu lama yang sudah usang, tapi meninggalkan kenangan yang cukup dalam.
"Aku juga suka lagu itu," ujar Bardo ketika sudah berada di luar partisi ruang tempat Raihanun sedang sibuk menginput data.
Raihanun tak menoleh, tatapannya masih fokus ke layar komputer. Ia hanya mendengus pelan tanda kesal dan tak ingin diganggu.
"Suara mendiang, Dolores O'Riordan vocalisnya The Cranberries," Bardo berusaha membuat topik pembicaraan dengan Raihanun.
Alih-alih Raihanun menanggapi Bardo dan masuk ke dalam topik pembicaraan tentang lagu dan vocalis band The Cranberries yang sudah meninggal itu, Raihanun malah memutus akses ke Spotify di komputernya.
"Kenapa dimatikan?" Bardo heran melihat apa yang dilakukan oleh Raihanun.
"Nggak apa-apa sekalian dikubur. Sudah mati, kan?" ujar Raihanun sinis.
"Absurd!" Bardo tersenyum mengejek.
"Biarin!" balas Raihanun ketus.
"Kamu itu sebenarnya bukan workaholic, tapi lebih kepada budak corporate. Orang yang merasa dirinya telah dibeli oleh perusahaan ya, hidupnya, ya waktunya. Jadi takluk dan patuh total seperti robot!" Bardo menumpahkan kekesalannya kepada Raihanun.