Setelah peristiwa Ariel menjaga pintu toilet untuk memberi rasa aman kepada Raihanun yang kala itu memakai toilet pria, semuanya berlalu biasa saja, meski bayang-bayang Ariel masih tersimpan di kepala Raihanun. Sebaliknya dengan Ariel, cowok itu malah telah melupakan kejadian tersebut, bahkan sosok Raihanun pun dia tak ingat lagi.
Pekerjaan yang menumpuk memang menyita waktu Raihanun, ia merasa bersalah kalau pekerjaannya tidak siap tepat waktu, tapi kali ini ia mengambil risiko demi seraut wajah yang kebaikannya telah tersohor di kantor Raihanun. Siapa lagi kalau bukan Ariel? Memang, sungguh tidak mudah untuk melupakan cowok itu dari ingatannya. Cerita-cerita tentang kebaikan cowok itu dari orang-orang di kantor, telah dirasakan sendiri oleh Raihanun. Bayangkan saja ia dikawal ketika pipis! Layaknya very-very important person.
Pukul 10.00 pagi menjelang tengah hari, Raihanun beranjak dari ruang kerjanya. Ia berdiri dan meregangkan tubuh sejenak untuk menghalau rasa penat di tubuh sambil memerhatikan partisi ruang yang berada di dekat pintu. Areal partisi ruang lima baris di dekat pintu masuk adalah ruang kerjanya anak-anak finance yang memang selalu punya hubungan kerja dengan Raihanun, setidaknya mendekati hari gajian. Raihanun pasti menyerahkan payroll para karyawan ke bagian finance untuk mentransfer gaji ke rekening masing-masing karyawan.
Seorang OB mengantar kopi ke tempat Raihanun bertepatan ia hendak beranjak ke tempat orang-orang finance.
"Sini, Nang!" Raihanun meminta kopi yang dibawakan OB di atas nampan.
"Lho, mau Mbak Anun bawa kemana?" tanya Nanang heran.
"Mau main ke anak-anak finance," sahut Raihanun santai sembari mengambil secangkir kopi dari atas nampan.
"Ya, sudah. Kalau gitu biar nanti saya anterin." Nanang melangkah membawa nampan yang masih berisi beberapa cangkir kopi lagi.
"Ke ruangannya Mbak Geraldine, kan?" tanya Nanang menoleh ke ke arah Raihanun sambil melangkah.
"Iya, ke tempatnya Geraldine," sahut Raihanun yang masih berdiri di tempatnya.
"Tumben Mbak Anun mau bertandang ke tempat orang?" ujar Nanang lagi sambil masuk ke sebuah partisi ruang, di sebelah partisinya Raihanun.
Raihanun tak menanggapinya, ia bergegas melangkahkan kaki menuju ke ruang kerja Geraldine.
***
Ruang kerja Ariel atau lebih tepat dikatakan posko berada di basement berdekatan dengan kantor security. Sebuah ruangan yang lumayan luas berukuran 6x8 meter. Di ruangan itu ada meja supervisor dan kepala teknik, selebihnya ada rak panjang terdiri dari beberapa tingkat berisi peralatan yang merupakan alat-alat kerja, electrical dan mechanical. Selebihnya ada loker tempat menyimpan pakaian dan perlengkapan pribadi para teknisi serta kursi dengan meja lipat untuk para teknisi menulis ketika meeting dengan kepala teknik dan supervisor.
Maintenance gedung merupakan pekerjaan yang sudah dikontrakkan kepada perusahaan penyedia jasa oleh pemilik gedung berlantai dua puluh itu, perusahaan tempat bekerja Raihanun merupakan tenant di gedung perkantoran itu, mereka membayar biaya pemeliharaan gedung di lantai mereka kepada owner dan tidak bersangkut paut langsung dengan perusahaan tempat Ariel bekerja sebagai teknisi maintenance.
Ariel sedang duduk dikursi yang dilengkapi dengan meja lipat kecil sedang menulis.
"Maintenance, monitor!"
Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari handy talkie yang tersemat di pinggangnya. Cepat Ariel mengambil handy talkie dan menjawab panggilan tersebut.
"Maintenance terima, ganti."
"Ada kebocoran pipa wastafel di gedung lantai tujuh, ganti."
" Dicopy, segera meluncur."
Ariel kembali menyematkan handy talkie ke pinggangnya kemudian berjalan menuju rak tempat menyimpan perkakas, ariel mengambil sebuah tool box dan helm berwarna kuning lalu mengenakannya dan buru-buru keluar dari ruangan. Di luar ia berpapasan dengan Kepala Teknik.