BUDAK CORPORATE

Onet Adithia Rizlan
Chapter #6

IBU PULANG KE RUMAH

Inut mengurus kepulangan Ibu dari rumah sakit, setelah selesai di bagian administrasi, ia bersama seorang perawat yang mendorong kursi roda berjalan menuju ke ruang rawat inap.

"Waktu kontrolnya sudah dikasih tau kan, Mbak?" ujar perawat memecah keheningan.

Inut berjalan mengiringi perawat yang mendorong kursi roda.

"Tiga hari dari sekarang, Sus," sahut Inut sambil mengatur langkah yang ketinggalan dari si perawat.

Perawat menoleh sedikit sambil terus melangkah mendorong kursi roda.

"Mbak anak tunggal, ya?"

Pertanyaan perawat itu membuat Inut kaget. Mulutnya sempat terbuka ingin menjawab, tapi dengan cepat ia katupkan kembali dan pura-pura tidak mendengar. Apa maksud si perawat menanyakan hal itu? Inut penasaran dalam hati. Seolah tau apa yang ada dipikiran Inut, si perawat kembali bersuara.

"Saya beberapa kali melihat Mbak, jagain Ibu Farida ketika di opname. Cuma Mbak doang nggak pernah lihat yang lain."

Inut tersenyum canggung.

"Ada, saya punya Kakak perempuan, tapi tinggal di Jakarta."

"Pasti dia sangat sibuk sekali, sehingga tidak punya waktu untuk menjaga Ibu Farida," Perawat menoleh ke samping memandang Inut.

"Cari kerja sekarang susah ..." gumam Inut berusaha membela Raihanun, Kakak perempuannya itu.

"Ya, dan itu jadi alasan kita untuk tidak berani mangkir dari pekerjaan, lalu lepas tangan dari menjaga atau sekadar menjenguk orangtua yang perlahan renta dan tak berdaya."

Inut tak menjawab. Ia tenggelam dalam pikirannya yang campur aduk mengenai Raihanun yang betul-betul tak mau peduli terhadap kondisi Ibu mereka.

"Setiap kita akan menua, sendiri dan terpisah dari anak-anak yang telah kita besarkan," gumam Inut seperti kepada dirinya sendiri.

"Hidup yang menyedihkan," sambung si perawat.

Mereka pun tiba di ruangan opname Ibunya Inut. Perawat membuka pintu kamar dan mendorong masuk kursi roda. Inut mengikutinya dari belakang.

"Selamat siang, Ibu Farida, hari ini sudah boleh pulang, ya? Sudah siap semuanya, Ibu? Kalau sudah, ayo saya anterin," perawat tersenyum ramah.

"Dianterin sampai ke rumah?" ujar Ibunya Inut membuat si perawat tertawa dan geleng-geleng kepala.

"Sampai ke depan saja, Bu. Pintu lobi, tempat antar jemput pasien. Seperti biasanya kalau Ibu Farida selesai opname di rumah sakit ini. Masa lupa, sih?"

"Iya, saya lupa." sahut Ibu pelan.

"Semoga ini untuk yang terakhir kalinya masuk rumah sakit ya, Bu?" ujar perawat menguatkan hati Ibunya Inut.

"Saya nggak mau sakit, lagi."

"Bagus! Semangat dan sehat terus ya, Ibu," perawat menanggapi sambil membantu Ibunya Inut turun dari tempat tidur.

***

 Sebuah taksi masuk ke halaman dan berhenti di depan rumah. Inut turun dari taksi lalu memutar ke sisi mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Ibunya.

Ibu turun dari mobil dibantu oleh Inut yang menuntun perempuan paruh baya itu. Sesaat kemudian mobil bergerak mundur dan keluar dari halaman.

"Ibu pegangan sama Inut, Bu."

Lihat selengkapnya