BUDAK CORPORATE

Onet Adithia Rizlan
Chapter #7

HARI yang MELELAHKAN

 Mobil yang dikendarai oleh Raihanun memasuki area parkir yang berada di basement gedung. Setelah memarkir mobilnya, Raihanun turun dan mengambil tas kerjanya yang berada di jok belakang, setelah menutup pintu mobil Raihanun berjalan menuju lift. Seperti biasanya ketika hendak menuju lift, Raihanun pasti melewati kantor security dan kantor maintenance gedung. 

Kalau hari-hari sebelumnya, Raihanun tidak terlalu peduli pada tempat itu, tapi kali ini ia menoleh dan coba mencuri pandang dan mengamati situasi di depan kantor maintenance gedung, tempat Ariel bekerja sebagai teknisi. Di luar tampak sepi, tidak ada seorang pun yang terlihat.

 Setelah melewati kantor petugas maintenance gedung, Raihanun berjalan menuju pintu lift. Sebelum memencet tombol lift, sekali lagi Raihanun menoleh ke arah kantor maintenance yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari pintu lift. Raihanun terkejut dan cepat-cepat berbalik mengarah ke pintu lift ketika ia melihat, Ariel tiba-tiba keluar dari kantornya dan bergegas menuju ke arahnya. Raihanun yakin sekali kalau cowok bernama Ariel itu akan menaiki lift juga, sama seperti dirinya.

Pintu lift terbuka bersamaan dengan datangnya Ariel. Mereka pun berbarengan masuk ke lift. Sesampainya di dalam, Ariel yang lebih dulu tersenyum sambil mengangguk.

"Kerja di mana?" Ariel membuka percakapan.

Deg! Jantung Raihanun tersentak. Sialan juga ini cowok! Raihanun mengumpat dalam hati. Secepat itu dia melupakan aku kerja di mana, pakai nanya lagi. Bukannya baru kemarin dia dua kali masuk ke kantor gue, benerin saluran air di toilet sama benerin saluran pipa utama?

"Di lantai tujuh, yang kamu pernah jagain aku di toilet."

Puas bener rasanya, ia telah menjawab sekaligus memberi "tamparan" kecil untuk mengingatkan Ariel. Pesannya adalah: jangan terlalu cepat melupakan orang yang pernah berinteraksi dengan kamu!

"Oh, di perusahaan tambang itu, ya?" Ariel tersenyum seolah tak merasa bersalah sedikit pun.

Raihanun sudah kehilangan selera untuk berbincang dengan Ariel. Ia merasa cowok ini tidak tertarik kepadanya. Lho? Kok jadi personal, sih? Raihanun merasa malu sendiri. 

Baru sekali ini Raihanun terpikir tentang sebuah hubungan yang lebih dari sekadar kenal dengan seorang lelaki, tapi ketika hendak mewujudkan rasa yang mengusik hati perempuannya itu, Raihanun dihadapkan pada kenyataan bahwa, ia bukanlah siapa-siapa bagi Ariel. Itu terbukti dari sikapnya yang tak mengenali dan mengingat Raihanun sedikit pun!

Tidak ada lagi percakapan di antara Ariel dan Raihanun, sampai lift yang membawa mereka berhenti di lantai tujuh. Raihanun buru-buru keluar ketika pintu lift baru saja terbuka. Ariel mengikutinya dari belakang.

"Hei, tunggu sebentar," Ariel memanggil.

Sontak cewek bernama Raihanun itu berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Meski tadi ada perasaan jengkel karena merasa ia tak menarik perhatian Ariel, tapi kenapa kali ini cowok itu memanggilnya. Ada apa gerangan? Suara hati Raihanun berkecamuk di dalam.

Ariel tersenyum lebar.

"Saya baru ingat sekarang, kamu itu orang yang ke toilet, terus saya jagain di pintu luar. Tadi di dalam lift, sebelum kamu jelasin tentang toilet itu, saya coba mengingat-ingat dan rasanya seperti dejavu. Pernah ketemu kamu, tapi nggak tau di mana."

Raihanun tersenyum sinis.

"Sekarang sudah ingat?"

"Sudah," sahu Ariel sambil tersenyum malu.

"Ya, sudah. now it's time to work!" Raihanun berbalik dan melangkah menuju partisi ruang tempatnya bekerja.

"Nama kamu siapa?" Ariel bersuara lagi.

Raihanun kembali berhenti melangkah dan berbalik. Apa dia nggak salah dengar? Raihanun ragu kalau tadi Ariel menanyakan namanya.

"Nama kamu siapa? Saya Ariel," Ariel mengulangi pertanyaan sambil memperkenalkan namanya terlebih dulu.

"Raihanun, panggil saja, Anun. Orang-orang biasanya memanggil seperti itu," dengan ekspresi wajah yang datar Raihanun menyebutkan namanya.

" Ya, sudah. Terimakasih."

Ariel mengangguk dan melangkah pergi. Raihanun terbodoh menatap kepergian Ariel seorang karyawan bagian maintenance gedung yang cukup populer di tempat kerja Raihanun.

"Cuma begitu saja? Pe'a! Juga ni cowok!" Raihanun bergumam sendiri.

***

Inut lagi menyiram tanaman di halaman depan ketika ia dikejutkan oleh ibunya yang tiba-tiba sudah berada di beranda rumah.

"Kamu siapa?"

Inut menoleh cepat. Lalu mematikan water spray yang terpasang di ujung selang. 

"Ibu, Ibu kenapa?" suara Inut bergetar 

"Kamu siapa?" ujar perempuan paruh baya itu lagi.

Inut semakin bingung melihat sikap Ibunya yang menjadi aneh seperti itu.

Lihat selengkapnya