Bardo gelisah di belakang meja kerjanya. Mata lelaki muda, staf logistik itu menatap layar komputer, tapi terlihat tatapannya itu kosong dan menerawang. Jelas dia tidak konsentrasi pada apa yang tertera di layar komputer. Bardo melamun, memikirkan seorang perempuan yang berada di partisi ruang tepat disebelah kirinya. Mereka hanya dipisahkan oleh pembatas partisi yang terbuat dari sofboard tidak terlalu tebal, tapi Bardo merasakan seolah-olah mereka dipisahkan oleh tembok tebal yang sangat kokoh.
Bardo bergerak sedikit, merapatkan telinganya ke dinding partisi, mencoba untuk mencuri dengar ke partisi ruang disebelahnya, tempat di mana Raihanun sedang sibuk menuntaskan pekerjaan. Bardo tak mendengarkan suara apa pun dari sebelah, tidak juga suara lagu yang biasanya sering terdengar dari speaker eksternal komputer Raihanun, seperti kebiasaan perempuan itu jika sedang sibuk menuntaskan pekerjaan yang menumpuk.
" Lagi ngapain?"
Bardo terkejut dan menoleh ke belakang. Di pintu partisi tampak Raihanun sedang berdiri sambil memegang tumbler stainless.
Perlahan Bardo menjauhkan kepalanya yang tadi menempel ke dinding partisi, sambil menarik tubuhnya kembali duduk lurus di kursi. Ia memutar kursi ke arah pintu partisi sambil tersenyum, tapi betapa terkejutnya ia, karena tidak ada siapa-siapa yang berdiri di depan pintu partisi.
"Anun, tadi kamu yang berdiri di pintu partisi?" ujar Bardo tegang.
"Anun?"
Bardo memanggil sekali lagi, tapi tetap tak ada sahutan. Suasana terasa hening. Cepat Bardo berdiri dan melongok ke dalam partisi ruang tempat Raihanun. Tidak ada siapa-siapa, komputer masih menyala, lembaran berkas masih berserak di meja kerja Raihanun.
"Anun?" Bardo memanggil lagi, kali ini ia berdiri dan memutar kepala ke segala penjuru.
Ruangan besar yang disekat-sekat menjadi partisi ruang masing-masing seluas 2x3 meter dan itu terlihat sepi. Lampu-lampu di eternit juga sudah dipadamkan, kecuali di daerah koridor dan di dekat partisi ruang Bardo dan Raihanun yang bersebelahan. Sekarang sudah pukul sepuluh malam, tidak ada lagi orang di kantor selain Raihanun dan Bardo yang sedang lembur. Satpam berada di posnya di lantai dasar, hanya berpatroli dua jam sekali pada setiap lantai.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah ruang pantry di sudut ruangan. Bardo berusaha menajamkan pandangannya.
"Anun?" Bardo sedikit berteriak memanggil nama perempuan, staf HRD itu. Tiba-tiba saja sosok Raihanun terlihat dari belokan di ujung koridor. Suara hentakan tumit sepatu Raihanun yang mengenakan rok dipadu dengan blazer berwarna cokelat muda itu semakin terdengar jelas. Gemanya memenuhi ruangan. Bardo menarik napas lega, karena tadi ia sempat terbawa suasana aneh di hatinya, meski ia skeptis dengan segala hal yang berbau mistis di kantor mereka itu.
"Kau tadi yang berdiri menegurku, ya?" tanya Bardo tak sabar ketika Raihanun sudah semakin mendekat.
Raihanun memonyongkan bibirnya.
"Aku dari tadi ke pantry bikin kopi," sahut Raihanun santai melewati Bardo yang berdiri di depan partisi.
"Sebelum ke pantry?" ujar Bardo penasaran.
Raihanun masuk ke ruangannya. Sambil menghenyakkan bokongnya ke kursi kantor yang empuk, Raihanun menyahuti Bardo.
"Kenapa, kau pikir yang menegurmu tadi, hantu?"
Bardo terlihat kesal, ia keluar dari tempatnya dan berjalan menuju partisi ruang tempat Raihanun.
"Aku nggak percaya pada hal-hal tak masuk akal seperti itu."
"Ya, sudah kalau tidak percaya, tapi simpan dulu rasa takut kamu itu," Raihanun tertawa mengejek.
"Siapa yang takut?" Bardo kesal dituduh takut oleh Raihanun.
Raihanun mengalihkan pandangannya dari layar komputer ke kepada Bardo yang berdiri di ambang pintu partisi.
"Jadi apa namanya itu, memanggil-manggil namaku seperti orang ketakutan?" kata-kata Raihanun cukup menohok Bardo.
"Aku cuma mau memastikan kamu ada di mana. Maklum aku khawatir akan keselamatanmu," Bardo tersenyum menggoda.