Manusiawi jika pada suatu waktu tertentu, setiap kita akan mengalami rasa jenuh pada rutinitas hidup yang itu ke itu juga semisal pekerjaan, pun begitu juga yang dialami oleh Raihanun. Namun sayangnya ia tak punya cara untuk menghilangkan rasa jenuh itu dan tak tau mau berbuat apa dan ngapain. Raihanun tak punya circle pertemanan. Di sekitar tempat tinggalnya, Raihanun juga tak punya teman atau kenalan selain satpam komplek yang setiap bulan menagih uang keamanan dan uang sampah datang ke rumahnya. Ah, memang hidup yang sangat sunyi. Minim interaksi sosial karena saking sibuknya menggeluti pekerjaan.
Di kantor juga sama, Raihanun tidak punya banyak teman. Ia hanya akrab dengan Geraldine di bagian finance. Selebihnya Raihanun hanya berteman dengan Bardo dari departemen logistik. Itu pun karena partisi ruang mereka bersebelahan. Dikatakan akrab nggak juga selain hanya say hello doang, karena Raihanun berusaha menjaga jarak dengan Bardo, lelaki gagah yang selama ini berusaha mendekati Raihanun, tapi ditolak dengan halus sebab Raihanun tidak suka dengan Bardo yang terlalu ambisius. Karena menurut Raihanun, laki-laki ambisius itu cenderung keras kepala dan mau menang sendiri.
Pukul 12 siang Raihanun mematikan komputernya. Ia sudah merasa bosan dengan ruang kerjanya, siang ini dia tak berselera memesan makanan dari kantin, seperti biasanya ia selalu meminta Nanang, Office Boy kantor yang mengambil pesanan makan siangnya itu ke kantin. Setelah komputernya padam, Raihanun mengambil tas dan membukanya lalu mengambil dompet dari dalam tas kemudian bergegas keluar dari ruang kerjanya.
Raihanun bengong sendiri melihat ke sekeliling ruangan besar itu. Partisi-partisi ruang sudah pada kosong melompong, tidak satu pun orang di ruang kerjanya. Raihanun melihat jam yang melingkar di tangannya yang putih mulus. Angka di jam digital itu menunjukkan pukul 12.05. Berarti sebelum jam dua belas teman-teman kerjanya sudah pada keluar istirahat, makan siang dan mengaso.
Di depan pintu lift Raihanun bertemu dengan Nanang, Office Boy yang baru naik. Ia tersenyum dan mengangguk menyapa Raihanun.
"Nggak mesan makanan dari kantin, Mbak?"
Raihanun menggeleng pelan.
"Nggak, Nang. Bosen maksi di kantor terus, pengen keluar sekali-kali."
Nanang tertawa pelan.
" Saya juga pernah mau bilang begitu ke Mbak Anun. Keluar kek, sekali-sekali jangan di kantor mulu. Nggak bosen apa?"
"Bilang aja kamu capek, Mbak suruh-suruh ngambilin ompreng makanan ke kantin?"
"Nggaklah, Mbak. Cuma ngambilin ompreng, doang? Lagian saya sering dibagi duit sama, Mbak Anun," ujar Nanang polos.
"Ya, sudah, Mbak mau turun dulu. Kamu apa nggak istirahat, Nang?" tsny Raihanun sambil memencet tombol lift.
"Saya kan memang istirahatnya, rebahan di pantry, mbak?"
"Kamu nggak makan siang?" kejar Raihanun lagi.
"Ini tadi saya barusan makan di kantin, sekarang mau ngaso di pantry," sahut Nanang menjelaskan.
Pintu lift terbuka.
"Ya, sudah. Istirahat sana," ujar Raihanun sambil melangkah masuk ke lift.
***
Teriakan Ibu yang bikin gaduh di rumah siang itu, membuat Inut yang berada di dapur, tergesa-gesa menuju kamar. Suara ibu masih terdengar ketika Inut membuka pintu kamar.
"Mau, pulang, mau pulang!"
Inut mendekati Ibunya yang duduk di ranjang dengan pakaian yang berserakan di atas ranjang juga, di lantai kamar. Inut menatap semua itu dan beralih ke lemari kamar yang kedua pintunya terbuka lebar. Ada pakaian yang berserakan dan masih tergantung di dalam lemari. Inut geleng-geleng kepala.
"Ibu kenapa lagi, sih?"
"Mau pulang, mau pulang!" teriak Ibu marah.
"Mau pulang kemana?" tanya Inut berusaha menyabarkan hatinya.
"Mau pulang ke rumah!"
"Rumah Ibu di sini. Mau pulang ke rumah yang mana lagi?" Inut merasa geli juga melihat Ibunya bertingkah seperti itu.
"Ini bukan rumah saya. Ini rumah orang!" seru ibu dengan suara tinggi.
Inut tertawa kecil.
"Orang siapa, Bu? Ini rumah yang bangun Bapak sama Ibu, kan?"
"Kamu yang punya rumah ini, saya nggak mau tinggal di sini!"
"Terus Ibu mau pulang kemana?"
"Pulang ke rumah saya!"