BUDAK CORPORATE

Onet Adithia Rizlan
Chapter #10

RUTINITAS NEVER DIE

Satu per satu karyawan dan staf beranjak meninggalkan ruang kerja mereka masing-masing. Lalu orang-orang menumpuk di koridor dan puncaknya ada di depan pintu lift. Mereka bergantian menggunakan lift untuk turun ke lantai satu atau langsung ke tempat parkir kendaraan yang berada di basement. Di antara kerumunan orang di koridor tersebut, Geraldine melihat Raihanun menyempil dipinggir dekat dinding koridor.

Geraldine ingin memanggil Raihanun, tapi ia urung melakukannya karena takut menjadi perhatian karyawan dan staf yang lain. Kayak orang nggak pernah ketemu aja. Bukankah seharian mereka berada dalam satu kantor yang sama. Kurang apalagi sampai harus memanggil-manggil ingin bertemu.

Padahal Geraldine hanya ingin tau, kenapa Raihanun pulang sesore ini. Bukankah harusnya dia over time? Tumben anak itu nggak lembur hari ini. Geraldine berusaha merangsek ke depan, menyelinap di antara kerumunan dan mencari celah untuk mendekati Raihanun yang hampir berada di depan pintu lift.

Namun Geraldine kalah cepat dengan Raihanun yang tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu lift. Menunggu bersama bersama beberapa orang yang berkerumun menantikan terbukanya pintu lift.

"Minggir dikit, minggir dikit!" Geraldine berusaha mengurai kerumunan di koridor menuju lift di depannya.

Kesemua orang yang berada di koridor itu adalah teman-temannya dalam satu perusahaan, cuma beda divisi saja. Jadi di antara mereka sudah terjalin keakraban atas nama soliditas perusahaan. Karena itulah Geraldine tidak merasa canggung untuk meminta jalan di tengah antrean menuju lift.

"Buru-buru amat, Din. Kebelet pipis?" ujar salah seorang karyawan perusahaan yang dilewati oleh Geraldine.

"Mentang-mentang weekend!" seru yang lain.

"Iya, gue takut ketinggalan konsernya Bang Haji!" 

Geraldine menoleh ke belakang menjawab celetukan yang ditujukan kepadanya, meski ia tidak tau siapa orangnya yang menggodanya tadi.

"Hah?! Bang Haji, Soneta?" timpal seorang cowok yang berada di kerumunan di belakang Geraldine.

"Emang kenapa? Soneta juga grup musik, kan?" sahut Geraldine geram.

"Iya, yang bilang grup sirkus siapa?" ujar seseorang 

Geraldine malas menanggapi. Paling cuma jadi debat kusir saja. Ia kembali berpaling ke arah pintu lift. Sosok Raihanun sudah tak terlihat lagi. Buset! Udah ngilang aja itu budak corporate, rutuk Geraldine dalam hati. 

Perlahan Geraldine mengambil ponsel dari tas tangannya. Kemudian menghubungi Raihanun.

"Hallo, lu udah pulang, apa nggak lembur?"

"Siapa yang pulang, aku ambil over time, kok," sahut Raihanun santai.

Geraldine bengong sejenak. Lalu ia berbicara lagi.

"Nah, jadi yang gue liat tadi siapa?"

"Maksudnya?" tanya Raihanun tak kalah bingung.

"Tadi gue liat elu berdiri di depan pintu lift. Mau pulang kan, lo? Itu gue ada di belakang elo tadi," napas Geraldine terdengar menderu-deru saking semangatnya bicara dengan Raihanun.

"Kenapa tadi nggak negur aku. Ya, jadi mana aku tau kau ada di belakangku?"

"Ke Java Jazz, yuk!" ujar Geraldine bersemangat.

"Aku udah ngajuin over time tadi ke Bos," sahut Raihanun beralasan.

Geraldine yang mendengar jawaban Raihanun cuma bisa melihat ponselnya dan kemudian mendekatkan ponsel itu ke telinganya kembali.

"Lagian, ngapain sih elo ngajuin over time segala?"

"Kerjaanku numpuk, kalau nggak dilemburin, bisa-bisa nggak kelar sampai akhir bulan ini."

"Jadi, sekarang lo di mana, bukannya mau lembur. Gue liat tadi elo ikut turun ke bawah?" Geraldine nggak habis pikir.

"Aku mau ke lobi," sahut Raihanun menerangkan.

"Ya, udah gue ke lobi deh, sekarang," Geraldine menutup pembicaraan dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan.

"Ada Soneta juga di Java Jazz?" terdengar seorang lelaki nyeletuk.

Lihat selengkapnya