BUDAK CORPORATE

Onet Adithia Rizlan
Chapter #13

LEMBUR BERDUA

Raihanun makan malam sendirian di ruang kerjanya, sambil makan ia masih sibuk menatap layar komputer sambil memainkan mouse memindahkan cursor dan mengklik file yang ia cari. Tiba-tiba saja di tengah kesibukannya memeriksa data, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah partisi ruang tempat kerjanya. 

Raihanun berdiri sedikit ia coba melongok ke arah dari mana datangnya suara langkah kaki itu. Deg! Raihanun kaget dsn buru-buru duduk di kursi kerjanya. Ia ingin memastikan apa yang dilihatnya tadi, tapi itu tidak mungkin, langkah kaki itu semakin mendekat. Pasti ketahuan kalau ia melongok dari dinding partisi ruang yang tingginya tidak lebih dari tinggi badannya Raihanun sendiri.

Betulkah yang ia lihat tadi adalah Ariel, karyawan bagian maintenance gedung? Warepack yang dikenakan lelaki itu memang seragam petugas maintenance gedung dan sosoknya juga adalah sosok Ariel yang Raihanun kenal.

Raihanun buru-buru menyudahi makan dan menyingkirkan bungkus makanan ke bawah meja kerjanya.

"Permisi, ada yang masih kerja di sini?" suara Ariel terdengar begitu dekat.

Raihanun menoleh ke belakang dan ia melihat Ariel hingga sebatas dada ke atas, sedang berdiri di pintu partisi ruang tempat kerjanya Bardo staf logistik yang bersebelahan dengan ruang kerja Raihanun.

"Betulkan ini partisi ruang E 6, tempat kerjanya Mas Bardo?" tanya Ariel sopan.

Raihanun mengangguk sambil membenarkan bahwa betul partisi ruang E 6 adalah ruang kerjanya Bardo. Mendengar penjelasan dari Raihanun, Ariel tersenyum dan mengucapkan terimakasih, kemudian melangkah masuk ke partisi ruang E 6.

"Over time juga, ya?" iseng Raihanun membuka pembicaraan.

"Iya, udah dari kemarin Mas Bardo ngelapor ke kita, kalau extension cord di tempatnya, ceblok," uja Ariel sambil membuka toolbox dan mengeluarkan obeng dan tang.

Raihanun berdiri dan melongok ke partisi ruang di sebelahnya.

"Extension cord? Ceblok?" wajah Raihanun melongo.

Ariel yang sedang bejongkok memeriksa extension cord yang terletak di bawah meja kerja Bardo, menoleh dan mendongak melihat Raihanun yang berdiri di sebelah partisi ruang E 6.

Ariel tersenyum malu.

"Ini terminal listriknya oglek-oglek udah mau jatuh," Ariel menerangkan. 

Raihanun tersenyum.

"Kamu asalnya dari mana, pasti dari Jawa, ya?"

"Iya, saya dari Jogja,"

Raihanun terkesiap. Ia semakin penasaran.

"Jogja dimananya?"

"Sleman," sahut Ariel sambil membuka baut terminal dengan obeng.

"Aku juga dari Sleman," Raihanun menjelaskan daerah asalnya tanpa ditanya.

"Sleman dimananya?" 

Ariel berhenti melepas baut extension cord yang masih menempel pada dinding partisi dan menoleh serta mendongak ke belakang, melihat Raihanun yang masih berdiri di tempatnya.

" Aku di sendangadi, Mlati," ujar Raihanun senang.

"Kalau saya di Condong Catur," Ariel melengkapi tempat dari mana ia berasal.

"Yen ngono, sampeyan kuwi tonggoku,” ujar Raihanun mulai merasa akrab.

"Iyo, jebule kita tonggoan. Tonggo, adoh." ujar Ariel menanggapi.

Tiba-tiba saja terdengar suara tawa Raihanun dan Ariel yang sedang sibuk mengganti extension cord menghentikan pekerjaannya lalu menoleh ke belakang. Raihanun sudah tak terlihat lagi. Ariel buru-buru berdiri dan melongok ke partisi ruang sebelah. Ariel melihat Raihanun duduk di kursinya sambil memandangi layar komputer.

Lihat selengkapnya