BUDAK CORPORATE

Onet Adithia Rizlan
Chapter #11

TIBA-TIBA IBU INGAT RAIHANUN

Inut menyiram kembang sambil menemani Ibu yang sedang berjemur di halaman belakang dekat dapur, meski rumah mereka sederhana, tapi tanahnya luas, di depan dan belakang rumah ada halaman yang ditumbuhi pepohonan dan kembang-kembang. Sehingga suasana segar di pagi itu semakin membuat suasana hati menjadi tenang dan damai karena hadirnya matahari pagi yang sinar hangatnya terasa lembut menyentuh kulit.

"Raihanun mana, apa dia sudah sarapan?" tiba-tiba saja Ibu bersuara.

Inut yang sedang menyirami tanaman tampak kaget dan menoleh kepada Ibunya yang duduk di kursi roda.

"Ibu ngomong apa tadi?" tanya Inut seolah tak percaya dengan pertanyaan Ibunya itu.

"Raihanun mana? Panggil dia suruh sarapan," Ibu menjawab seolah Raihanun memang ada di rumah.

Inut tersenyum, meski tersirat kesedihan di matanya.

"Ibu ingat sama Mbak Anun?" 

"Dia anak Ibu," sahut Ibu sambil menatap kosong, lurus ke depan.

"Terus, aku siapa?" Inut mencoba menguji ingatan Ibunya.

Ibu menarik pandangannya yang tadi lurus ke depan, kini menatap Inut dengan serius, seolah-olah sedang berpikir keras.

"Ayo, aku ini siapa?" Inut mengulang pertanyaan yang sama.

"Anak Ibu juga, kan?" ujar Ibunya ragu.

Inut menghela napas dan geleng-geleng kepala.

"Kok, pakai, kan? Berarti Ibu ragu karena nggak ingat, aku ini siapa?"

"Iya, lupa. Nggak ingat," sahut perempuan paruh baya itu datar.

"Aku Inut, Bu. Adiknya Mbak Anun.

Inut meletakkan ember berleher angsa alat penyiram tanaman di dekat Ibu, kemudian dia mendorong kursi roda.

"Sudah dulu berjemurnya, besok lagi, ya?"

Ibu menoleh dan mendongak ke belakang, melihat Inut yang sedang mendorong kursi roda.

"Kamu anak saya juga?" 

Ya, iyalah. Masa anak tetangga?"

Ibu tertawa kecil, mendengar jawaban Inut.

"Namanya siapa?" tanya Ibu polos.

" Yah, dia lupa lagi," Inut pura-pura kesal.

"Nama anak saya, Raihanun," ujar Ibu datar saja.

"Nama anak yang satunya lagi, si bungsu, siapa?" desak Inut.

Lihat selengkapnya