BUDAK CORPORATE

Onet Adithia Rizlan
Chapter #12

PERCAKAPAN BAPAK dan ANUN

Seorang lelaki paruh baya memarkir truknya di halaman warung makan yang sudah dipenuhi oleh truk-truk yang lebih dulu singgah. Beberapa saat kemudian lelaki paruh baya itu turun dari truk yang dikemudikannya.

"Anwar! Sudah lama tidak bertemu. Masih bawa truk kau rupanya?" 

Seorang lelaki yang duduk di teras warung menegur lelaki paruh baya yang baru turun dari truknya dan berjalan menuju warung tersebut.

Lelaki paruh baya itu berusaha mengenali orang yang menegurnya tadi, sambil terus melangkah mendekati warung makan.

"Ah, kau rupanya, Hasan?" 

Lelaki bernama Anwar itu datang mendekat.

"Iya, aku, Hasan mantan kenekmu dulu. Ngomong-ngomong masih kuat saja kau bawa truk?"

"Kalau aku tidak kerja, anak istriku mau makan apa?" Pak tua Anwar tersenyum ramah.

"Itu karena kau saja yang tak mau berpangku tangan. Kurasa hidupmu sudah enak, punya anak sulung yang bekerja di perusahaan pertambangan dan berkantor di Jakarta. Punya jabatan lagi dia. Gaji dan bonusnya pasti besar. Buat apa lagi kau kerja banting tulang, Anwar?"

"Sudah, ya. Aku mau ngisi perut dulu." Pak Anwar melangkah masuk ke warung makan.

"Kau sendiri saja, mana kenekmu?" Pak Hasan bertanya lagi.

"Aku tidak pakai kenek untuk menghemat," sahut Pak Anwar sambil jalan.

Memang gaji kenek itu diambil dari pendapatan sopir dalam sekali perjalanan. Kalau ingin menghemat, para sopir memang jalan sendiri dan tidak memakai kenek meski setiap kesulitan di jalan semisal truk mogok atau pecah ban, semua itu harus ditangani sendiri oleh sopir.

Di dalam warung makan, Pak Anwar memesan makanan kepada salah seorang pelayan yang berdandan menor.

"Aku mau makan, Min," ujar Pak Anwar santai. 

Perempuan berusia tiga puluhan yang berdandan menor itu tersenyum.

"Wah, sudah lama tidak singgah ke warung ini, Pak Anwar. Ke mana saja?"

Pak Anwar yang usianya sudah separuh abad, tapi masih terlihat gagah itu mengulas senyum.

"Ruteku sekarang lebih sering lewat jalur selatan, Min."

"Ya, sudah. Sekarang mau makan apa?"

"Ah, jangan pura-pura lupa, menu kesukaanku dulu apa? Itu saja," selesai berkata seperti itu Pak Anwar mencari tempat duduk di warung makan pinggir jalan yang luas dan ramai itu.

***

Raihanun menghentikan jarinya yang sibuk mengetik tuts keyboard komputernya. Ia lalu menyambar ponsel di atas meja komputer tidak jauh dari tas tangannya yang berwarna cokelat terbuat dari kulit asli.

Tiba-tiba kepala Bardo melongok dari partisi sebelah.

"Mau nelepon siapa di jam kerja begini?"

Raihanun berhenti menggunakan ponselnya dan mendongak ke partisi di sebelahnya.

"Bisa nggak sekali saja, Lo nggak ikut campur urusan gue?" wajah Raihanun terlihat kesal.

Bardo tersenyum canggung dan buru-buru duduk dan menghilang dari tatapan Raihanun.

"Gua bukan mau ikut campur urusan lu, Anun. Tadi itu cuma iseng becandain elu," suara Bardo terdengar dari partisi sebelah.

"Gue bukan bahan bercandaan!" ketus suara Raihanun.

***

Pak Anwar menyelesaikan makan siangnya dan beranjak keluar. Ia berkata kepada pelayan.

"Min, buatkan aku kopi hitam. Seperti biasa, ya?"

"Kopi hitam nggak pakai gula?" sahut pelaysn itu.

Pak Anwar mengerdipkan matanya sambil tersenyum.

"Ya, antarkan ke depan. Aku di teras warung."

Lihat selengkapnya