Pak Anwar pulang ke rumah disambut dengan suasana yang sedikit heboh karena Ibu sedang rewel minta pulang kepada Inut yang tampak lelah menghadapi Ibu. Bapak masuk ke rumah setelah mengucapkan salam. Bapak terlihat kusut masai, melangkah pelan sambil menenteng tas tempat baju dan handuk. Perlengkapannya ketika bekerja membawa truk ke luar kita.
"Kenapa lagi Ibumu?" tanya Bapak kepada Inut yang tampak merengut.
"Ya, begitu Ibu. Random banget! Kadang cerita tentang masa lalunya. Dia ingat semua, tapi tiba-tiba saja ribut minta dianterin pulang."
Pak Anwar menghela napas. Lalu mengambil tempat duduk di samping Ibu. Di ruang tengah rumah sederhana itu, tapi terkesan hangat dan menenangkan.
"Pulang ke mana?"
Bapak berusaha untuk tetap tenang meski di dalam hatinya rasa tercabik-cabik sedih melihat kondisi kesehatan istrinya.
"Inut juga tanya begitu ke Ibu. Mau pulang ke mana? Ibu cuma bilang minta dianterin pulang ke rumah."
"Ini kan rumah, Ibu?" Pak Anwar memegang pundak perempuan paruh baya yang duduk di sampingnya.
"Inut juga selalu bilang begitu, ketika Ibu rewel minta pulang. Mungkin Ibu teringat rumah masa kecilnya, Pak?"
"Pulang," ujar Ibu tiba-tiba.
Pak Anwar terlanjut, tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ia menutupi keterkejutannya itu dengan tersenyum.
"Ibu mau pulang ke mana?"
"Rumah," sahut Ibu singkat.
"Di sini kan rumah kita? Rumah Ibu sama Bapak?" Pak Anwar berusaha menjelaskan kepada istrinya itu.
"Hh! Percuma saja, Pak. Ibu gak akan mengerti, mau dikasih tau bagaimana juga," ujar Inut kesal dan beranjak pergi ke kamarnya.
"Ibumu terkena demensia, Inut. Berusahalah untuk mengerti dia," Pak Anwar mengingatkan putri bungsunya itu.
"Kirim aja Ibu ke Jakarta, Pak!" ujar Inut sebelum menghilang masuk ke kamarnya.
Bapak tercenung mendengar perkataan Inut. Perlahan lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah itu menoleh kepada istrinya yang sedang memandang dinding ruang tengah yang dihiasi oleh foto keluarga dalam bingkai berwarna emas.
"Ibu sedang mikirin apa sekarang?"
"Itu foto keluarga ?" tanya Ibu pelan.
Pak Anwar tersenyum.
"Iya, di foto itu ada Bapak, ada Ibu juga anak-anak kita. Anun dan Inut," Pak Anwar menerangkannya kepada Ibu.
"Anak kita, siapa?"
Pak Anwar terlihat bingung mendengar pertanyaan istrinya itu.
"Itu di foto, ada dua anak perempuan. Mereka itu adalah anak-anak kita."
"Di mana mereka sekarang?"
"Anun kerja di Jakarta, adiknya Inut kuliah dan masih tinggal bersama kita di rumah ini."
"Masih ingat siapa saja mereka?" tanya Pak Anwar menguji daya ingat istrinya itu.
"Siapa, ya? Aku tidak ingat," sahut Ibu seperti orang kebingungan.
"Pak, jangan berikan pertanyaan kepada Ibu. Dokter bilang jangan membuat pengidap demensia semakin bingung dengan melontarkan pertanyaan, apa pun tentang dirinya," suara Inut terdengar dari kamarnya.
"Ya, sudah kalau begitu," ujar Pak Anwar entah kepada siapa.
"Biasanya kalau sore-sore begini, aku suka ngopi sambil disuguhin pisang goreng," ujar Bapak berusaha memancing ingatan Ibu.
Ibu tersenyum menatap lelaki paruh baya yang duduk di sampingnya. Lama ia mengamati kemudian tersenyum.
"Kau Anwar, suamiku. Jangan coba-coba membuatku bingung. Kau suamiku! Aku selalu membuat pisang goreng dengan parutan keju untuk teman minum kopimu," ujar Ibu yakin.
"Kapan itu?" pancing Pak Anwar.
"Baru kemarin sore, kalau sekarang nggak bikin. Pisangnya habis dan tadi di pasar nggak ada yang jual juga."