Raihanun mendatangi Bapak yang sedang duduk bersantai di beranda. Aroma melati menguar dari halaman yang ditumbuhi banyak jenis tanaman kembang. Dulu sebelum bekerja dan pindah ke Jakarta, semua tanaman itu Raihanun-lah yang menanam dan merawatnya. Kini hal itu diambil alih oleh Inut.
"Jadi kau pulang besok" tanya bapak tanpa menoleh ke arah Raihanun yang duduk di kursi sebelahnya.
"Jadi, Pak."
"Barang-barangmu sudah dikemas?" tanya Bapak lagi, kali ini ia menoleh. Menatap Raihanun.
"Sudah. Oh ya, besok Anun terbang dengan pesawat pagi-pagi sekali" ujar Raihanun menerangkan.
"Besok Bapak juga berangkat pagi, ada muatan yang mau diantar ke Surabaya."
"Anun berangkat dari rumah jam empat subuh, Pak."
Bapak kaget dan menoleh lagi.
"Jam segitu mana bisa Bapak mengantar kamu ke Bandara? Mmm... Bukannya nggak bisa, tapi waktunya nggak pas. Bapak ke garasi pukul lima, ngambil truk, terus muat barang pukul enam. Kalau Bapak ke Bandara nganterin kamu..." Bapak menggantung ucapannya.
Anun tersenyum.
"Nggak apa-apa, Pak. Anun udah rental mobil, kok. Besok jam empat subuh dijemput."
Tiba-tiba Inut muncul di pintu beranda.
"Semua hal kalah dengan pekerjaan. Padahal baru tiga hari Mbak Anun di rumah, sudah mau balik lagi. Pikirin Ibu, Mbak. Dia udah sakit-sakitan sekarang. Asam lambungnya sering kumat. Mana Ibu mengidap demensia lagi? Dia perlu ditemani lebih lama sama Mbak Anun," ujar Inut bernada kesal.
Anun menarik napas pelan lalu dia tersenyum.
"Aku punya tanggung jawab pada pekerjaan. Hidup itu harus punya komitmen. Kalau sudah berkomitmen menjadi pegawai sebuah perusahaan ya, kita harus komit. Dikasih ijin permisi lima hari. Jadi waktu maksimal di rumah ini ya, cuma tiga hari. Mau bagaimana lagi?" ujar Raihanun beralasan.
Inut tersenyum sinis.
"Tanggung jawab ke perusahaan, lantas tanggung jawab kepada Ibu bagaimana?"
Raihanun menghela napas dan berusaha menekan emosinya.
"Tanggung jawabku kepada keluarga ini, mengirimkan uang setiap bulan!"
"Oh, jadi dengan mengirimkan uang tersebut, Mbak Anun merasa sudah terlepas dari semua tanggung jawab kepada Ibu, kepada Bapak?"
Raihanun menatap tajam mata Inut.
"Aku tidak bisa bertanggung jawab kepada semua hal. Kalau aku bisa mengirimkan uang untuk menanggung kebutuhan keluarga, berarti aku harus bekerja dan tidak punya banyak waktu lagi melakukan hal lain di luar itu. Semisal menjaga dan merawat Ibu."
"Bapak masih bisa kok, menghidupi keluarga ini," sela Inut tak mau kalah.
"Kalian sudah tidak menganggap Bapak ada di sini?" ujar Bapak pelan, tapi terdengar sangat berwibawa.
Inut dan Raihanun terdiam. Mereka tersadar telah menafikan Bapak selama tadi mereka bersitegang satu sama lain.
"Inut tidak bermaksud begitu, Pak."
"Aku juga tidak sedang merendahkan posisi, Bapak. Aku sadar sepenuhnya bahwa tanpa Bapak, aku juga tidak akan seperti sekarang," Raihanun juga berusaha membela dirinya.
Bapak tak bersuara lagi. Dia bangkit dari duduknya lalu melangkah masuk ke rumah meninggalkan beranda. Kini tinggal Inut dan Raihanun yang tinggal di beranda. Inut berdiri di ambang pintu beranda sedangkan Raihanun duduk di kursi rotan yang ada di teras rumah.
"Kamu itu anak milenial, Mbak. Bukan generasi Baby Boomers seperti, Bapak."
Raihanun menoleh menatap adiknya yang masih berdiri di ambang pintu beranda. Lalu Inut meneruskan ucapannya tanpa memberi kesempatan Raihanun untuk berbicara.