BUDAK CORPORATE

Onet Adithia Rizlan
Chapter #16

SUNYI dan SENDIRI

Sepulang dari Jogja, Raihanun merasa ada yang hilang dari dirinya. Kali ini ia merasa jauh dari Ibu, Bapak dan Ibunya. Jarak dan waktu memang telah merenggutkan Raihanun dengan orang tua dan adiknya. Baru kali ini juga ia merasa bersalah, karena lebih memilih pekerjaan daripada keluarganya terutama Ibu yang sakit-sakitan dan mengalami demensia. Terbersit di benaknya untuk resign dari perusahaan dan kembali ke rumah menjaga dan merawat Ibu agar Inut lebih bisa berkonsentrasi dengan kuliahnya tanpa diganggu oleh kerepotannya merawat dan menjaga Ibu.

"Ngelamunin apa, non?" 

Tiba-tiba Geraldine muncul dan berdiri di pintu partisi ruang kerja Raihanun. Perempuan mengenakan blazer dan rok sebatas lutut berwarna cokelat itu menoleh sedikit kemudian menghela nafas berat.

"Kenapa, Anun. Lu ada masalah? Ngomonglah jangan disimpen sendiri nanti jadi penyakit!" ujar Geraldine serius.

"Kalau aku ngomong, apa semua masalahku bisa teratasi?"

Geraldine geleng-geleng kepala.

"Makanya ngomong, masalah yang lu hadapin bisa kita pecahkan bersama," Geraldine melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Lalu lanjutnya, "Ayo, kita cari makan dulu. Niat gue tadi mau ngajak lu makan siang," ujar Geraldine menjelaskan.

"Kamu kan tau, aku selalu menyuruh Nanang, Office Boy kantor membelikan makan siang untukku?" Raihanun beralasan.

"Ya, siang ini kita makan di luar aja. Sambil ngobrol. Gue udah lama nggak ngalor-ngidul sama elu," Geraldine mencoba merayu Raihanun supaya mau diajak makan siang di luar.

"Ya, udah. Sekalian singgah ke tempatnya anak-anak maintenance, kemarin belum sempet ke sana."

Geraldine terheran-heran mendengar ucapan Raihanun. Ia memandangi Raihanun yang sibuk mengambil tas tenteng bertuliskan oleh-oleh dari Jogja. 

"Oleh-oleh untuk siapa, Ariel?" tebak Geraldine.

Raihanun tak menjawab. Ia bersiap-siap keluar dari partisi ruang kerjanya itu.

"Ada yang aneh ini?" Geraldine melangkah keluar dari partisi. Raihanun mengikutinya.

"Aneh apanya?" Raihanun terlihat jengah.

"Sudah seakrab itu dengan Ariel" Geraldine terlihat penasaran.

Raihanun melengos dari tatapan Geraldine.

"Cuma bakpia, oleh-oleh dari kota kelahiranku. Apanya yang aneh?" suara Raihanun terdengar canggung.

"Biasanya kalau kita abis bepergian yang dibawain oleh-oleh itu adalah saudara, teman dekat, tetangga atau orang istimewa, si Ariel itu masuk golongan yang mana?" selidik Geraldine.

Raihanun menghela nafas kesal.

"Ya, temanlah."

"Dekat apa istimewa?" kejar Geraldine.

Raihanun tak menjawab. Kini mereka berjalan di koridor menuju pintu lift.

"Pura-pura nggak denger, nih?" sindir Geraldine.

Raihanun masih tetap diam sampai mereka masuk ke lift. Di dalam lift, Geraldine bersuara lagi.

"Bukan apa-apa, gue seneng kalau lo udah mau pacaran. Seneng pake banget! Jadi hidup lo itu bukan cuma ngurusin kerjaan yang nggak ada abis-abisnya itu."

Lihat selengkapnya