Setelah memberikan selembar surat jalan di pos satpam, Pak Anwar mengarahkan truknya memasuki halaman sebuah gudang tua. Itu terlihat dari keadaan gedungnya yang berdinding kusam serta di beberapa bagian kaca-kaca ventilasinya sudah banyak yang pecah. Setelah memarkir truk, Pak Anwar buru-buru turun dan seorang satpam berjalan mendekatinya.
"Selamat siang, Pak Anwar." tegur Pak Satpam ramah.
"Selamat siang, Pak Karim," sahut Pak Anwar sambil menganggukkan kepala.
"Istirahat dululah sebentar baru bongkar," ujar Pak Karim akrab.
Kemudian mereka berjalan meninggalkan truk yang terparkir di depan pintu gudang yang masih tertutup. Pak Anwar dan Pak Karim berjalan sambil berbincang menuju pos satpam.
"Sambil nunggu orang gudang, Pak Anwar nyantai dulu di pos," Pak Karim mengusulkan.
Ketika sampai di depan pos tiba-tiba terdengar suara panggilan ponsel. Pak Anwar dan Pak Karim kaget dan masing-masing meraba saku celananya.
"Ah, saya nggak bawa HP," ujar Pak Karim sambil nyengir dan masuk ke pos.
Pak Anwar mengambil ponsel dari saku celana dan melihat layar ponselnya.
"Dari anak saya di Jakarta," ujar Pak Anwar bermaksud menjelaskan.
"Oh, yang kerja di perusahaan tambang itu?" tanya Pak Karim antusias.
"Iya, Raihanun namanya," sahut Pak Anwar.
Pak Karim yang duduk di dalam pos tersenyum sendiri.
"Iya, saya udah tau. Kan Pak Anwar pernah cerita kalau Raihanun itu putri kebanggaan sampeyan. Lupa, tah?"
Pak Anwar yang duduk di sebuah bangku panjang terbuat dari kayu di luar pos satpam tertawa sendiri.
"Maklum aku sudah tua, jadi pelupa."
"Itu anaknya nungguin di telepon," ujar Pak Karim mengingatkan.
Pak Anwar kaget dan melihat layar ponselnya.
"Itulah, aku ini memang benar-benar sudah jadi pelupa," Pak Anwar mengeluh.
Setelah itu, Pak Anwar menerima telepon dari putrinya itu.
"Hallo, apa kabarmu, Anun?"
"Kabar Anun, baik-baik saja, Pak."
"Kok nelepon, Bapak. Bukannya sekarang masih jam kerja?"
Terdengar deru napas Raihanun lalu suara tawanya pelan.
"Bapak sekarang sudah seperti Budak Corporate! Apa-apa mikir pekerjaan, mengganggu kerja apa tidak. Bla, bla, bla ..."
"Iya, Bapak kan terpengaruh sama kamu," Pak Anwar membela diri.
***
Raihanun duduk di ruang kerjanya sambil bertelepon.