Bapak pulang hampir tengah malam, Inut yang membukakan pintu dengan mata mengantuk dan wajah kusut masai. Belum lagi Bapak duduk dan melepaskan lelahnya, Inut sudah mengeluh panjang lebar. Katanya Ibu kumat lagi, teriak-teriak minta pulang. Padahal hari sudah malam, lagian Ibu aku dibawa pulang kemana ? Inut menceritakan kebingungannya menghadapi Ibu yang tiba-tiba saja minta pulang.
"Aku hampir tidak kuat lagi, menjaga Ibu, Pak." selesai menumpahkan kekesalannya, Inut pun melangkah pergi.
"Kalau begitu, biar Bapak yang merawat dan menjaga Ibumu."
Datar dan tenang terdengar suara Bapak. Namun cukup untuk menghentikan langkah Inut dan berbalik menghadap Bapak.
"Baik, kalau begitu biar Inut yang kerja cari duit!"
Bapak tetawa pelan.
"Kau pikir selama ini, siapa yang cari duit untuk menghidupi keluarga kita?"
Inut tergugu menatap Bapak.
"Siapa, bukannya, Bapak?"
Bapak menggeleng pelan.
"Anun yang menghidupi keluarga kita," ujar Bapak pelan.
Inut mencibir sinis.
"Bukannya Bapak yang cari duit jadi sopir truk? Mbak Anun cuma membantu sedikit," tukas Inut kesal.
Bapak menghela napas berat.
"Sudah saatnya Bapak harus bercerita kepadamu."
Bapak terdiam. Inut menunggu kelanjutan ucapan Bapak tadi. Ia berjalan mendekati kursi dan duduk di situ.
"Bapak mengaku salah, tapi rasanya sudah terlambat."
"Jangan bertele-tele, Pak. Katakan saja terus terang. Bapak salah apa?" kejar Inut tak sabaran.
"Hasil kerja Bapak bukan untuk menghidupi keluarga di sini, tapi ..." Bapak terdiam dan menarik napas.
"Tapi apa, Pak?!" sela Inut cepat.
"Untuk menghidupi anak dan istri Bapak yang lain."
Betapa terkejutnya Inut. Ia geleng-geleng kepala, sekolah tak percaya pada pengakuan Bapak barusan.
"Apakah, Mbak Anun sudah tau soal ini?" suara Inut terdengar lemah dan bergetar.