Inut sampai lupa menghubungi Bapak untuk memberitahu perihal hilangnya Ibu dari rumah. Setelah melapor ke Pak RT, dia bergerak mencari Ibu dibantu oleh beberapa orang tetangga.
"Bapak dan Kakakmu sudah diberitahu?" Pak RT mengingatkan.
Inut baru tersadar kalau ia belum memberitahu Bapak tentang hilangnya Ibu dari rumah.
"Mmm ... sudah, Pak. Semuanya sudah dikasih tahu," ujar Inut berbohong.
Inut melakukan itu karena ia tak mau pembicaraan jadi panjang lebar dan Pak RT menyalahkannya.
***
Bapak sedang menyetir truk ketika Inut menlepon. Bapak mengambil ponselnya yang diletakkan di samping jok.
"Bapak lagi nyetir, Nut. Nanti Bapak telepon balik,"setelah berkata singkat seperti itu Bapak memutus pembicaraan dan kembali menaruh ponselnya ke samping jok.
Pak Anwar terus mengemudikan truknya, meski ia merasa tak tenang karena telepon dari Inut tadi. Ia lalu mencari tempat untuk berhenti dan memarkirkan truk yang penuh dengan muatan.
Untunglah tidak jauh di depannya, Pak Anwar melihat warung tempat perhentian para sopir truk untuk mengaso sebelum melanjutkan perjalanan melalui lintas pantura.
Pak Anwar turun dari truk dan menelepon Inut seperti janjinya tadi.
"Hallo, Inut?"
"Ya, Pak. Bapak masih nyetir?" Inut memastikan.
"Nggak, Bapak udah berhenti di warung, mau mengaso dan makan siang," sahut Pak Anwar menjelaskan.
"Pak, Ibu hilang ..." suara Inut terdengar gugup.
"Hilang bagaimana?" Bapak keheranan.
"Ya, hilang. Ibu nggak ada di rumah ..." ujar Inut semakin panik.
"Sudah dicari ke seluruh bagian rumah? Apa dia terkunci di dalam kamar mandi?" Bapak mencoba memberikan alternatif pencarian.
"Sudah Inut cari ke seluruh penjuru rumah, tapi Ibu tetap nggak ada. Pintu rumah dan pagar terbuka lebar. Ibu pasti sudah jau dari rumah."
Papa terdiam. Dia ikut-ikutan panik. Lalu terdengar lagi suara Inut di telepon.
"Sebelum Ibu hilang, dia teriak-teriak mencari Bapak dan minta dianterin pulang, ke rumah yang ada Anwar. Begitu kata Ibu, Pak."
Pak Anwar masih terdiam. Dia melap wajahnya dengan punggung tangan. Terbayang wajah istrinya yang mengidap demensia itu.
"Kau sudah lapor Pak RT dan mencari Ibu di luar rumah?" suara Bapak terdengar ringkih di telinga Inut.
"Sudah, Pak. Ini Inut lagi dibonceng anak Pak RT menuju pusat kota. Siapa tau ketemu sama Ibu. Tetangga yang lain juga ikut mencari Ibu."