BUDAK CORPORATE

Onet Adithia Rizlan
Chapter #22

SALAH SIAPA

Bapak pulang dan mendapati rumah kosong tak ada orang. Pintu terkunci rapat, berkali-kali Bapak memanggil Inut, tapi tak ada jawaban. Bapak mengitari rumah dari depan ke halaman samping sampai ke halaman belakang. Di jemuran, Bapak melihat beberapa helai pakaian yang sudah kering bergelantungan di tiup angin. Bapak menduga kalau itu jemuran dari kemarin yang belum diangkat oleh Inut. Nggak tau apakah dia lupa atau memang tidak pulang dari kemarin, sibuk mencari keberadaan Ibu yang belum ditemukan.

Bapak kembali ke depan. Ia memperhatikan jendela terbuka lebar hanya pintu yang terkunci rapat. Bapak memastikan bahwa Inut masih berada di rumah tadi pagi. Mungkin sekarang ia sedang kuliah atau sedang mencari Ibu. Bapak menduga-duga dalam hati. Lalu ia duduk di kursi beranda, melepas lelah sambil menunggu Inut pulang.

***

Ariel duduk berhadap-hadapan sambil makan siang di kantin yang berada di komplek perkantoran tempat mereka bekerja.

"Aku merasa tak berguna ketika tak berhasil mencarinya. Entah bagaimana keadaan Ibuku sekarang," Raihanun menumpahkan rasa kecewanya di hadapan Ariel.

"Kenapa pulang, padahal kamu belum berhasil menemukan Ibumu?" tanya Ariel penasaran.

Raihanun mengambil gelas dan meminum airnya sedikit. Lalu katanya.

"Aku cuma dikasih libur tiga hari. Praktis waktu yang efektif encari Ibu cuma satu hari. Apa yang bisa dilakukan dengan waktu sesempit itu?"

Ariel terdiam. Ia menerima alasan Raihanun tersebut memang masuk akal.

"Apalagi Ibumu mengidap demensia. Itu akan menyulitkan orang yang bertemu dengannya dan berniat untuk menolong," ujar Ariel menganalisa.

"Ya, ibuku pasti nggak nyambung kalau ditanyain dan kata-katanya selalu random. Ia kesulitan membedakan masa kini dan masa lalu yang pernah ia lewati," sambung Raihanun memperkuat analisa Ariel.

"Harusnya kamu ajukan libur lebih lama, misalkan mengambil cuti tahunan?" Ariel menyarankan.

Raihanun tampak tercenung kemudian seperti tersadar mendengar kata-kata Ariel yang terakhir.

"Jatah cutiku habis, sudah kuambil," Raihanun menjelaskan.

Ariel menghela napas.

"Begitulah kalau bekerja di perusahaan. Mau jabatannya tinggi sampai yang paling bawah, kita semua sudah tidak bisa sesuka hati lagi, karena waktu kita sudah dibeli oleh perusahaan. Delapan jam per hari, dari pagi sampai sore. Belum lagi kalau harus lembur."

"Cuma itu pilihannya, kan? Kita bekerja di perusahaan, tapi tidak punya banyak waktu untuk hal lain selain kerja atau menganggur. Punya banyak waktu luang, tapi hanya jadi beban keluarga," Raihanun mencoba memberikan perbandingan.

"Terus bagaimana kamu memantau perkembangan tentang Ibumu?" tanya Ariel penasaran.

Raihanun tidak langsung menjawab. Ia seperti berpikir sejenak.

"Mmm ... dari adikku," sahut Raihanun terdengar ragu.

Ariel manggut-manggut.

"Kalau memang kamu merasa perlu hadir di sana, pulang saja lagi."

Lihat selengkapnya