BUDAK CORPORATE

Onet Adithia Rizlan
Chapter #23

SELAMAT JALAN IBU

Siang itu meeting masih berlangsung dihadiri oleh direktur utama dan direktur keuangan serta seluruh manajer dan staf dari semua divisi. Raihanun ikut menghadiri meeting mendampingi manajer HRD. Di tengah suasana meeting yang membicarakan tentang konsesi tambang yang baru, panggilan di ponsel Raihanun berbunyi untunglah ia membisukan nada dering dan mengaktifkan mode getar. Mau nggak mau Raihanun menolak panggilan telepon itu meskipun ia tau yang meneleponnya tadi adalah Inut.

Setelah itu, Raihannun tak fokus lagi mengikuti meeting karena hatinya bertanya-tanya, apa kepentingan Inut meneleponnya pastilah tentang Ibu. Hati Raihanun berkecamuk. Ia ingin segera meeting berakhir dan bisa segera menelepon balik adiknya. Menanyakan kabar Ibu, apakah sudah ditemukan dan bagaimana kondisinya.

Tak lama setelah panggilan telepon ditolak, masuk pesan WhatsApp ke ponsel. Raihanun buru-buru membacanya: Mbak, Ibu sudah ditemukan kemarin malam, tapi kondisi kesehatannya memprihatinkan. Sekarang dirawat di rumah sakit.

Raihanun tak tau mau menjawab apa. Diam-diam ia menyimpan ponsel ditasnya. Seketika ada rasa kosong dan hampa yang memenuhi hatinya. Terbayang wajah Ibunya yang terkulai tak berdaya dalam kebingungan demensia yang mendera. Raihanun hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga Ibunya baik-baik saja.

***

Di rumah sakit, Ibu ditunggui oleh Bapak dan Inut. Kondisi Ibu nampak masih lemah karena asam lambungnya kumat lagi. Tentu saja hal itu disebabkan makannya tidak teratur selama beberapa hari luntang-lantung di jalanan.

"Bapak keluar sebentar, Nut. Kamu istirahatlah, mumpung Ibu masih tidur," ujar Bapak sambil berdiri dari duduknya.

"Bapak mau ke mana?"

"Duduk di luar mengirup udara segar," selesai berkata seperti itu Bapak melangkah pergi.

"Ikut, Pak."

Inut mengikuti Bapak keluar dari ruang perawatan Ibu.

 Di selasar rumah sakit. Bapak dan Inut duduk di depan ruang rawat inap.

"Dengarkan juga kalau-kalau ibumu terbangun," Bapak mengingatkan.

Inut menoleh ke jendela tepat di belakangnya. Pandangan gadis itu menembus gorden putih tipis yang menutupi jendela dan Inut bisa melihat sosok Ibu yang tidur nyenyak di pembaringan.  

"Ibu masih tertidur," Inut memperhatikan Ibu dari balik jendela.

"Bapak berpikir untuk berhenti bawa truk," ujar Bapak tiba-tiba.

Inut menoleh, menatap Bapak dengan serius.

"Mau lepas tanggung jawab dengan istri kedua, Bapak?" ujar Inut polos.

Bapak tersenyum tipis.

"Bapak buka usaha warung sembako saja di rumah kita," ujar Bapak menerangkan.

"Modalnya darimana, Mbak Anun lagi?" tanya Inut penasaran.

Bapak tidak langsung menjawab. Ia sepertinya sedang berpikir-pikir.

"Pak?" tegur Inut 

Bapak tersadar. Kemudian menatap Inut.

"Ya, tapi Bapak belum ngomong sama Anun, kalau mau buka warung," ujar Bapak terus terang.

"Mbak Anun semakin besar kepala, kalau Bapak juga minta modal usaha sama dia?" Inut tampak kurang setuju.

"Terus, Bapak cari modal dari mana kalau bukan dari Mbakmu itu," Bapak melempar pertanyaan kepada Inut.

"Makanya Mbak Anun merasa jadi orang penting, karena merasa telah mengeluarkan banyak uang untuk keluarga kita. Buktinya tadi dia nggak menerima teleponku. Terus dikirimin pesan WhatsApp nggak dibalas cuma dibaca doang!"

" Kamu kirim pesan apa?" 

"Ya, bilangin kalau ibu sudah ditemukan kemarin malam, tapi sekarang lagi dirawat di rumah sakit. Kondisi kesehatan Ibu drop!" Sahut Inut menjawab pertanyaan Bapak.

Lihat selengkapnya