Bukan Badboy Penyelamat Sekolah

Muhammad Azhar
Chapter #97

Mozaik 97 : Sudah Jatuh, Kalah Pula


Terima kasih kepada Chat GPT Image Generator



“Sudah, sudah, kita ambil positifnya saja.”

Masih di halaman berumput milik Polsek dekat Quart School, kawan. Kini selain kami, para pengendara lainnya juga banyak yang duduk tegang di lapangan berumput ini. Makin siang, makin bertambah jumlahnya. Rupanya banyak juga ya, orang-orang yang melanggar hukum di negeri ini, padahal ini baru hukum simpel loh, bagaimana dengan pasal-pasal yang lebih berat.

Para pengendara nelangsa karena berurusan dengan polisi, aku jengkel karena kehilangan motor untuk sementara, Nasri wajahnya tertekuk karena STNK-nya disita petugas berseragam itu. Adapun Bu Hartini, wajah beliau masam, karena beliau masih merasa seandainya saja delegasi pilihan beliau yang dikirim, tidak akan kena masalah seperti ini.

Satu-satunya orang yang masih berpikir positif di antara kami adalah Bapak Wakasek Kurikulum yang terhormat. Beliau terus mengulang kata-kata positif.

“Tenang, tenang. Pokoknya semua akan beres. Saya jamin. Ingat ambil positif saja.”

Kata-kata itu beliau ulang-ulang. Makin diulang, makin masam wajah Bu Hartini.

Bapak Wakasek sudah beberapa kali bolak-balik ke meja petugas di pintu masuk polsek. Di sana para polisi mencatat apa saja pelanggaran yang mereka temukan hari ini. Dari lapangan berumput ini bisa kulihat Bapak Wakasek bicara serius sekali. Bahkan dalam satu kesempatan, beliau mengeluarkan sebuah map dan menunjukkannya pada polisi. Tapi hasil pembicaraan itu, seserius apapun, tetaplah berakhir dengan wajah kecewa Bapak Wakasek ketika kembali ke kami.

Hari sudah menunjukkan pukul 10.30. Sudah merayap siang.

“Kata polisinya, masalah tidak bisa diselesaikan langsung hari ini. Kita harus ikut prosedur mereka. Paling cepat STNK dan sepeda motor kalian bisa diambil hari Senin.”

Astaga.

“Maafkan saya, Azka. Saya sudah mencoba membujuk mereka. Bahkan saya sudah menunjukkan bukti bahwa kita adalah delegasi Quart School, mau berlomba demi kehormatan daerah. Mereka tak mau dengar.”

Aku mau tak mau mengangguk. Bicara soal lomba, aku jadi teringat soal lomba nasional. Bagaimana nasib kami sekarang. Hari sudah siang. Seleksi sudah pasti selesai. Namun sekali lagi, Bapak Wakasek bicara dengan nada optimis.

“Kita harus tetap ke sana. Kita tidak boleh menyerah hanya karena terlambat. Kejadian ini tidak memperlambat kita, kejadian ini hanya akan menjadi pelecut kita.”

Lihat selengkapnya